

Hari ibu pada 22 Desember kemarin banyak meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi yang merakannya. Ramai yang membagikan momen hari ibu tersebut di media sosial. Ada yang memberikan ibunya kado, hadiah, bunga, prank dan lain-lain. Di sisi lain saya juga melihat ada sebagian orang yang biasa-biasa saja pada hari ibu tersebut. Alasannya beragam ada yang karena sudah tidak memiliki ibu, ada yang tidak akur dengan ibunya dan ada yang menganggap bahwa setiap hari adalah hari ibu.
Melihat respon yang beragam dalam merayakan hari ibu tidak dapat terlepas dari bentuk komunikasi antara ibu dan anak. Tentu saja kebanyakan orang yang merayakan hari ibu bersama keluarganya adalah mereka yang selalu menjalin komunikasi yang baik bersama ibunya, mendapat perhatian dan support dari keluarga. Di sisi lain ada pula yang tidak terlalu bagus dalam menjani komunikasi dengan ibunya.
Terdapat ragam bentuk interaksi antara ibu dan anak di sekitar kita, hal ini tentu berkaitan dengan parenting yang dilakukan. Mungkin kita sering melihat di media sosial banyak yang membandingkan parenting ibu dan anak antara Nikita Willy dan Lek Damis. Dua orang tersebut memperlihatkan perbedaan parenting yang menonjol akhir-akhir ini.
Apapun bentuk parenting yang dilakukan seorang ibu, pada dasarnya ibu adalah perempuan yang diciptakan untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anaknya. Seperti yang banyak dikatakan orang “ibu adalah bidadari tak bersayap”. Hal ini karena ibu adalah satu-satunya perempuan yang memberikan cinta dan hidupnya kepada anak. Namun, hari ini masih banyak yang gagal menjadi seorang ibu dan “calon” ibu. Masih banyak di televisi dan media sosial kasus ibu yang menggugurkan, membunuh dan menyiksa anaknya.
Oleh sebab itu Allah menceritakan kisah para ibu dalam al-Qur’an yang mana para ibu tersebut memberikan cintanya secara penuh kepada anak-anaknya sehingga dapat dijadikan sebagai tauladan untuk para ibu hari ini. Adapun kisah para ibu tersebut sebagai berikut:
Pertama, Ibu Nabi Musa. Cerita Nabi Musa dan ibunya dikisahkan dalam al-Qur’an QS. Qashash ayat 7 yang artinya “kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul”.
Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini memiliki dua perintah dan dua larangan, dua berita dan kabar gembira. Dua perintah tersebut adalah menyusui Nabi Musa dan Menghanyutkannya di sungai. Dua larangannya adalah jangan takut, khawatir dan bersedih hati. Perintah tersebut datang kepada Ibu Musa disebabkan pada saat itu Fir’aun melakukan pembunuhan secara besar-besaran kepada setiap bayi laki-laki Bani Israil dan membiarkan hidup anak perempuan.
Kisah Ibu musa mengggambarkan keberanian serta keikhlasan seorang ibu dalam melindungi anaknya dari pembunuhan. Apa yang dilakukan oleh Ibu Musa dapat menjadi inspirasi bagi setiap ibu hari ini.
Kedua, Siti Hajar. Kisah Siti Hajar dan Ismail dikisahkan dalam al-Qur’an yang mana saat itu Ismail dan Hajar berada di tengah padang pasir, ketika perbekalan mulai habis dan air susunya kering yang menyebabkan Ismail menangis karena kehausan. Siti hajar kemudian mencari pertolongan dengan berlai-lari kecil dari bukit Shafa dan Marwah dengan tujuan mencari bantuan. Perjalanan Hajar inilah yang kemudian menjadi sejarah dari ritual sa’i.
Keteguhan hati Hajar ketiak diuji dengan bolak-balik bukit Shafa dan Marwah merupakan bentuk pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Dia rela melakuan apapun selama anaknya tidak berada dalam kelaparan dan kehausan, meskipun keadannya sendiri sangat memprihatinkan.
Ketiga, Maryam. Maryam merupakan seorang perempuan yang mengukir kisah menarik dalam al-Qur’an. Bagaimana tidak, Maryam adalah satu-satunya perempuan yang hamil tidak dengan berhubungan badan tetapi Allah telah meniupkan ruh kedalam rahim nya sehingga dia mengandung. Semenjak itu kehidupan Maryam berubah. Dia dituduh berzina karena hamil sebelum menikah. Akibat tuduhan tersebut Maryam kemudian menyendiri dan pergi dari tempat Dia tinggal.
Maryam kemudian melahirkan Isa di bawah pohon kurma. Banyak ulama berpendapat bahwa lokasi yang dipilih maryam adalah Bait Lahem, saut daerah sebelah selatan al-Qudus (Yarussalem) di Palestina. Adapun munculnya pohon kurma menurut sebagian ulama adalah sebuah keajaiban, karena ketika itu adalah musim dingin sedangkan kurma hanya berbuah di musim panas. Di sisi lain, buah pohon kurma juga berjatuhan dengan gerakan yang dilakukan maryam, padahal pohon kurma tidak dapat berbuah kecuali setelah melalui proses perkawinan.
Hikmah
Hari ini banyak fenomena pada ibu yang membunuh anaknya, membuang anaknya, menggugurkan anaknya disebabkan tidak percaya diri dengan keadaan finansial yang ada. Padahal, jika membaca serta mendalami kisah ketiga ibu yang penuh inspiratif di atas, kita akan banyak menemukan hikmah. Dari Maryam, Ibu Musa, dan Siti Hajar kita belajar pengorbanan, keikhlasan, keridhoan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Kasih sayang tersebut diwujudkan dengan prilaku-prilaku yang memang tidak masuk akal jika difikirkan dengan akal rasional. Seperti fenomena kelahiran Nabi Isa yang tanpa bapak, menghanyutkan bayi di sungai, dan Hajar yang berjalan kecil dari bukit ke bukit untuk mencarikan Ismail air agar tidak kehausan. Dari perwujudan tersebut tergambarlah rasa cinta yang besar seorang ibu kepada anaknya. Hal inilah yang harus diteladani oleh para ibu hari ini. Bagaimanapun keadaannya, baik mental dan finansial seorang ibu tetap dituntut untuk memberikan cinta kasih dan sayang kepada anaknya.
Semoga kisah para ibu ini dapat menjadi tauladan untuk kita semua. wallahua’lam
Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta