



Dalam Islam, bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan yang mulia. Salah satu penyebab bulan ini menjadi mulia dikarenakan terdapat sebuah fenomena bersejarah bagi umat Islam khususnya Nabi Muhammad. Bagaimana tidak, pada bulan ini tepatnya tanggal 27 Rajab 621 Masehi tepatnya pada tahun ke-10 kenabian terdapat sebuah fenomena spiritual yang dialami oleh Nabi Muhammad SWT yang dikenal dengan Isra’ Mi’raj.
Sebuah peristiwa yang mana dalam catatan sejarah, hanya dialami oleh seorang manusia bernama Muhammad. Fenomena ini direkam dalam al-Qur’an pada surah Al-Isra’ ayat pertama.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjdil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia maha mendengar lagi maha melihat.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengatakan bahwa kata subhana biasa digunakan untuk menunjukkan keheranan atau keajaiban terhadap sesuatu. Pada konteks ayat ini keajaiban tersebut adalah peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang merupakan suatu peristiwa menakjubkan dan mengherankan bagi manusia karena terjadi di luar kebiasaan yang selama ini terjadi pada disekitar manusia.
Perjalanan Nabi Muhammad yang terjadi dalam satu malam saja bukanlah kehendak beliau dan tidak juga terjadi atas dasar kemapuan pribadinya, tetapi atas kehendak Allah SWT. Adapun menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir tujuan dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti agung tentang wujud-Nya, keesaann-Nya, dan kekuasaannya.
Perjalanan Spiritual Nabi
Ayat di atas menjelaskan serta memastikan bahwa Isra’ Mi’raj benar-benar terjadi dan dialami oleh Nabi Muhammad secara langsung. Peristiwa yang terjadi selama satu malam ini diawali dari Masjidil Haram Makkah menuju masjidil Aqsha Palestinya. Kemudian dilanjutkan menuju Sidhratul Muntaha untuk bertemu secara langsung dengan Allah SWT.
Selama perjalanan tentu Nabi Muhammad banyak mengalami banyak mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang tidak didapatkan oleh nabi pada umumnya. Berdasarkan beberapa hadist tentang perisitis Isra’ Mi’raj dalam perjalanannya nabi menunggangi sekor hewan putih yang lebih kecil dari pada bighal namun lebih besar dibanding keledai yang bernama buraq.
Adapun rute perjalanan spiritual Nabi adalah Masjidil Haram kemudian singgah di Masjidil Aqsa, baru kemudian menuju Sidratul Muntaha. Tempat pertama yang Nabi singgahi adalah Masjidil Aqsa. Pemberangkatan pertama dari Masjidil Haram di Makkah karena tempat ini adalah kiblat kedua umat muslim. Adapun persinggahan selanjutnya Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam.
Syeikh an-Nawawi Al Bantai menjelaskan dalam kitab tafsirnya Marah Labid dipilihnya Masjidil Aqsa sebagai tempat singgah karena Masjidil Aqsa berada pada posisi tegak lurus dengan pintu langit sehingga buraq dapat terbang ke langit secara lurus. Selain itu Masjidil Aqsa juga menjadi tempat para Nabi Bani Israil melakukan dakwah.
Dari Masjidil Aqsa kemudian nabi berangkat ke sidratul muntaha dengan melewati tujuh lapis langit yang mana disetiap langitnya Nabi Muhammad bertemu dengan para Nabi terdahulu. Sampai di Sidratul Muntaha Nabi Kemudian bertemu dengan Allah SWT dan saat itulah turun perintah shalat lima waktu kepada ummat muslim.
Substansi Isra’ Mi’raj
Perjalanan spiritual Nabi dalam Isra’ Mi’raj memiliki substansi yang mana substansi tersebut sarat dengan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi ummat muslim. Adapun beberapa pesan yang dapat diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj diantarnya.
Pertama, pesan ekologis. Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya Rasulullah saw bersabda,
“ Tatkala aku dinaikakn ke Sidrah al-Muntaha di langit ketujuh, buahnya seperti guci hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Dari batangnya muncul dua sungai yang terlihat dan dua sungai yang tersembunyi. Dia berkata: aku bertanya, “wahai Jibril apakah dua sungai ini?” dia menjawab, “dua sungai yang di dalam ada di surga, dan dua sungai yang di luar adalah sungai Nil dan Sungai Eufrat.” (H.R. Muslim)
Dalam Tafsir al-Munir Wahbah az-Zuhaili juga mengatakan bahwa Sayyidah Asma bini Abu Bakar mengatakan di Sidratul Muntaha juga terdapat faraasy (ngengat, kupu-kupu kecil yang biasa berkeliasan di sekitar lampu. Hadist di atas menggambarkan Sidratul Muntaha seperti taman yang dipenuhi dengan pohon, sungai, dan beberapa hewan terbang. Gambaran sidratul muntaha mengisyaratkan keseimbangan alam yang sempurna sehingga meningatkan kita untuk selalu menjaga kelestarian alam dan peduli dengan lingkungan.
Kedua, meningkatkan spiritualitas keimanan. Perjalanan berbeda dimensi antara manusia, malaikat dan Tuhan tentu merupakan sebuah peristiwa yang menakjubkan. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat melewati dimensi yang berbeda, bertemu dengan malaikat dan bertatap muka dengan Allah SWT. Di sana Nabi kemudian mendapatkan perintah shalat.
Shalat merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan Allah SWT. Selain tiang agama, shalat adalah ibadah yang pertama kali di tanyakan dalam yaumul hisab. Bentuk komunikasi inilah yang dapat mengingkatkan spiritulitas kita kepada Allah SWT. Semakin intens kita melakukan shalat, maka semakin intens pula komunikasi kita dengan sang pencipta.
Sampai di sini, dapat dipahami bahwa Isra’ Mi’raj adalah momentum perjumpaan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT dan pertemuan dua dimensi tanpa batas ruang dan waktu dan tanpa sekat apapun yang penuh dengan sarat makna dan pesan kepada hambanya. Wallahua’lam
Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta