Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Menjadi Pemimpin Ideal di Era Modern

2 min read

Dalam proses kehidupan sosok pemimpin tidak bisa dipisahkan dari realitas yang ada pada setiap komunitas dalam masyarakat. Misal, seorang Ayah adalah pemimpin bagi anak dan istrinya, Kyai adalah pemimpin bagi santri-santrinya, presiden adalah pemimpin untuk rakyatnya, bahkan dalam sebuah hadis dikatakan bahwa manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Begitulah pola kepemimpinan yang akan dihadapi setiap orang.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban

Jika ditarik ke dalam makna yang lebih luas maka hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori tersebut menjelaskan bahwa setiap orang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, dan setiap dari mereka akan dimintai pertanggung jawaban.

Bagi umat muslim role model terbaik yang patut ditiru dalam kepemimpinan adalah nabi Muhammad SAW. Maka pertanyaannya adalah apakah pemimpin hari ini ada yang seperti beliau?. Tentu, yang terbersit dibenak kita sekalian adalah bahwa jangankan seperti Rasulullah, menjadi pemimpin seperti para khulafaurrasyidin saja pasti tidak mudah.

Secara umum, kita memang tidak dituntut untuk meniru konsep kepemimpinan yang ada pada sejarah Islam awal, namun yang lebih penting untuk dipahami adalah, bahwa maksud dari meniru tersebut adalah meniru substansi kepemimpinannya, dan tidak terjebak pada atribut atau sistem.

Pemimpin Ideal Era Modern

Sebagai makhluk yang paling sempurna dari sekian banyaknya ciptaan Allah swt manusia diberikan amanah yang begitu besar di dunia. Kesempurnaan tersebut membuat manusia dijadikan sebagai khalifah  yang menurut Quraish Shihab bermakna yang menggantikan atau yang datang setelah siapa yang datang sebelumnya. Bahkan al-Qur’an sendiri telah melegitimasi bahwa manusia mempunyai keududukan sebagai penguasa di muka bumi.

Baca Juga  Mengenal Molenbeek, Brussel, sebagai sarang teroris (1)

Namun menjadi pemimpin yang baik hari ini tidak perlu muluk-muluk sesempurna seperti Kanjeng Nabi Muhammad saw, tetapi perlu adanya beberapa kualifikasi dan kriteria menjadi pemimpin yang ideal di era ini yang mana substansi kepemimpinannya meniru beliau. Selain mengaplikasikan substansi kepemimpinan ala Rasulullah menurut penulis terdapat 3 karakter utama yang harus dimiliki oleh pemimpin di era modern ini.

Pertama, positive vibes. Istilah ini merupakan istilah yang banyak digunakan oleh kalangan milenial dan kerap kali terdengar ditelinga kita. Positive vibes merupakan sebuah aura positif yang dimiliki oleh seseorang. Mengutip dari suara.com ciri-ciri yang dimiliki orang yang positive vibes yaitu, memiliki jiwa sosial yang tinggi, seperti ramah dan peduli terhadap orang lain, dan memiliki perspektif yang luas.

Bahkan dalam kumparan.com yang mengutip buku 13 Top Secret Pembuka Pintu Rezeki karya Syarif dkk menyebutkan lima ciri-ciri orang yang memiliki energi positif yaitu cepat dalam merespons, sigap dalam bergerak, energik dalam berbicara, bersemangat dalam menerima hal-hal baru dan dinamis dalam pergaulan. Berangkat dari ciri-ciri tersebut sehingga seorang pemimpin perlu memiliki aura yang positif karena aura tersebut dapat menular kepada orang lain dan akan berdampak pada orang-orang yang dipimpin serta kinerja yang mereka lakukan.

Kedua, memiliki digital mindset. Pada era digital seorang pemimpin harus menyadari bahwa kemajuan teknologi hari ini berkembang begitu cepat. Oleh karena itu seorang pemimpin perlu memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada agar efektitifas pekerjaan di lingkungannya bekerja dengan baik.

Mengutip dari Ni Putu Depi Yulia Peramesti & Dedi Kusmana dalam artikelnya “Kepemimpinan ideal Pada Era Generasi Milenial” (2018) menyatakan bahwa seorang pemimpin harus memiliki digital mindset tersebut agar bisa beradaptasi dan lincah dalam memfasilitasi perubahan. Dengan adanya teknologi seorang pemimpin dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengguakan teknologi karena pada era modern banyak peluang dalam memanfaatkan teknologi yang ada.

Baca Juga  Belajar Dari Cara Penyikapan Ulama Terdahulu Dalam Menghadapi Pandemi (Bag-2 Habis)

Ketiga, open minded, mengutip dari Muhammad Rosyid Basithu dalam dictio.id seorang pemimpin harus memiliki sikap open minded. Seorang pemimpin harus siap menerima berbagai macam ide, argumen, informasi dan saran dari orang lain dengan menghilangkan sikap egois dari dirisendiri.

Hal ini diperlukan agar setiap permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan mendapatkan dan menghasilkan solusi yang efektif. Namun, perlu ditekankan bahwa tidak semua masukan diterima dengan mentah-mentah, pemimpin harus bisa menganalisa dan mengevaluasi semua masukan yang ada.

Refleksi

Menurut penulis kriteria pemimpin ideal tidak bisa ditentukan secara permanen karena praktek kepemimpinan berkembang sesuai zamannya. Tapi setidaknya pada era modern ini ketiga kriteria diatas cukup penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Mengutip Christianto Dedy Setyawan dkk, dalam artikelnya mengatakan bahwa konsep pemimpin ideal pada dasarnya menitikberatkan pada kecakapan dan karakteristik yang melekat pada diri pemimpin. Hemat penulis ketiga karakter yang telah disebutkan diatas masuk dalam kategori kecakapan dan karakteristik seorang pemimpin.

Singkatnya pemimpin yang ideal hari ini bahkan yang akan datang tidak bisa disamakan karena setiap zaman memiki tantangan yang berbeda-beda. Semakin berkembangnya zaman maka semakin meningkat pula permasalahan yang ada. Sehingga dengan memiliki pemimpin yang paham akan perkembangan zaman maka akan lebih mudah untuk meningkatkan efektifitas dalam bekerja.

Namun, kriteria pemimpin ideal perlu dipikirkan kembali karena mengingat zaman yang terus mengalami perkembangan yang mana tentunya sikap dan cara kepemimpinannya pun berbeda-beda. Selain itu, dalam menjalankan tugas, seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan intelektual, visi dan misi yang jauh kedepan dan tak lupa seorang pemimpin juga harus memiliki kejujuran dan tanggung jawab.  Wallahua’lam bissawab

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta