Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Nuzulul Qur’an: Momentum Memperkokoh Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

2 min read

Hari ini tidak terasa kita sudah memasuki pertengahan bulan Ramadan. Pada pertengahan bulan ini telah terjadi perstiwa penting bagi umat Islam, yaitu turunnya al-Qur’an. Terkait bagaimana proses turunnya Al-Qur’an, para ulama tafsir berpendapat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui tiga tahap.

Pada tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke lauhulmahfuz. Hal ini terekam dalam QS. al-Buruj [85]: 21-22, yang artinya:

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam lauhulmahfuz.”

Pada tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari lauhulmahfuz ke bayt al-izzah pada bulan Ramadan. Hal ini terekam dalam QS. Al-Baqarah [2]: 185 yang artinya

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Pada tahap ketiga,  tahap terakhir dari proses ini, yaitu Al-Qur’an yang berada di bayt al-izzah kemudian diturunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur atau bertahap. Hal ini terekam dalam firman Allah QS. al-Syu’ara [26]: 193-194, yang artinya:

“Yang dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.”

Turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur merupakan sebagai jawaban atas permasalahan bangsa Arab pada waktu itu. Oleh sebab itu, terdapat perbedaan antara ayat-ayat yang turun di Makkah dan di Madinah.

Ayat-ayat yang turun Makkah lebih banyak tentang pemahaman ketuhanan, sedangkan ayat-ayat yang turun di Madinah lebih banyak membicarakan permasalahan sosial, salah satunya adalah bagaimana perintah untuk hidup secara rukun dalam perbedaan.

Kerukunan Beragama Dalam al-Qur’an

Secara historis, sikap menghargai perbedaan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad. Hal ini tercatat dalam sebuah perjanjian formal antara Nabi dengan semua suku-suku dan kaum penting di Madinah, yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah.

Baca Juga  Kritik untuk Orang-orang NU

Menurut catatan Wikipedia, perjanjian ini dibuat untuk mengakhiri pertempuran sengit antar suku di Madinah dan juga untuk menjaga perdamaian serta kerja sama di antara semua kelompok di Madinah.

Dari hal tersebut, konsep kerukunan beragama sebenarnya telah ada dalam Al-Qur’an. Ide keberagaman ini merupakan prinsip dasar keislaman dalam kehidupan sosial. Ini juga menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang toleran dan sangat menghargai perbedaan.

Hal ini dicatat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, termasuk QS. al-Hujurat [49]: 11 yang melarang umat Islam untuk mengolok-olok kaum lain, karena seseorang tidak mengetahui siapa yang lebih baik dari mereka, bisa saja yang diolok-olok lebih baik dari yang mengolok. Selain itu, dalam surah al-Maidah [5]: 48 dijelaskan bahwa perbedaan antara manusia, baik itu suku, agama, atau budaya, adalah bagian dari kehendak Allah.

Spirit Kerukunan Beragama di Indonesia

Beberapa hari yang lalu, dunia maya sempat dihebohkan oleh viralnya konten dengan tema war takjil yang dilakukan oleh beberapa warga nonmuslim. Kabar baiknya, konten tersebut tidak mendapatkan komentar negatif dari beberapa warga muslim, tetapi justru menjadi adegan komedi karena dari beberapa warga muslim banyak memberikan komentar yang menggelikan.

Konten berburu takjil serta melihat bagaimanas respon positif warga muslim menggambarkan bahwa hari ini level kerukunan beragama di Indonesia berada di level sedang baik-baik saja. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas, bulan Ramadan ini merupakan momentum di mana al-Qur’an diturunkan.

Oleh sebab itu pada, momen ini, Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebanyak mungkin, tetapi yang lebih utama adalah dipahami dan ditelaah pesan-pesan yang ada di dalamnya, termasuk pesan bagaimana menjaga, memperkokoh, dan mempertahankan kerukunan antarumat beragama. Sehingga, tidak hanya berhenti pada level pemahaman saja, tetapi akan lebih baik jika sampai pada tahap mempraktikkannya.

Baca Juga  Mitos Pluralisme dalam NU, Mengapa Bisa Demikian?

Harapan ke depannya adalah gambaran kerukunan beragama tidak hanya terjadi pada bulan Ramadan saja seperti war takjil. Oleh sebab itu, pada malam turunnya Al-Qur’an ini, perlu kiranya muhasabah diri untuk membangun kembali spirit kerukunan yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an.

Hal itu bertujuan agar indonesia yang telah hidup berdampingan dalam perbedaan dapat terhindar dari perpecahan sehingga dapat memperkeruh kerukunan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Wallahualam [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta