Suryono Zakka Pengurus Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan; Mengajar di Yayasan Yanuris Srimaju Pondok Pesantren Nurul Islam Bayung Lencir

Bukti-bukti Islam sebagai Agama Damai

2 min read

Ada sebagian kelompok menganggap bahwa Islam agama perang yakni agama yang mengajak pada pertumpahan darah. Pemahaman ini muncul dari kelompok di luar Islam atau Barat yang tidak memahami sepenuhnya ajaran Islam. Pula hal ini muncul dari kelompok internal umat Islam (kelompok radikal) yang gagal paham memahami konsep jihad.

Baik Barat maupun kelompok radikal memahami Islam sebagai agama perang dengan alasan didalam Alquran tercantum banyak ayat tentang jihād dan qitāl (perang) serta nabi Muhammad menyebarkan Islam dengan menghunus pedang bahkan nabi Muhammad memimpin banyak peperangan.

Pemahaman Barat dan kelompok radikal yang demikian tidaklah benar bahkan menyimpang dari pemahaman Islam yang sebenarnya. Islam adalah agama damai, agama keselamatan. Bukan agama perang. Bukan agama yang suka menghunus pedang. Bukan agama yang mengajak untuk membunuh dan menumpahkan darah.

Berikut saya uraikan bukti-bukti bahwa Islam adalah agama damai, bukan agama perang di antaranya:

1. Islam berarti damai, tenteram, selamat dan sejahtera.

Nama “Islam” secara bahasa terambil dari kata salam yang berarti perdamaian atau keselamatan. Bahkan dalam setiap pertemuan dan perpisahan, umat Islam diperintahkan untuk mengucapkan salam alias menebar perdamaian.

2. Porsi ayat perdamaian lebih banyak dari ayat perang.

Alquran memang membahas tentang perang dan jihad namun porsi ayat tentang perdamaian lebih banyak dari peperangan. Bahkan surganya umat Islam adalah dār al-salām yang berarti negeri yang damai. Munculnya ayat perang didahului oleh motif tertentu sehingga tidak muncul dari ruang hampa. Memahami ayat perang dan jihad diperlukan pemahaman tentang sosio-historis ayat (asbāb al-nuzūl). Atau asbāb al-wurūd dalam bidang hadis.

3. Rasulullah berperang untuk menyelamatkan eksistensi umat Islam.

Baca Juga  Berakhlak dengan Asmaulhusna dan Sifat Allah menurut Syekh Izzuddin bin Abdissalam (2)

Rasulullah memang memimpin banyak peperangan dalam rekaman sejarah. Namun peperangan Rasulullah bukanlah alasan rasulullah gemar berperang namun dalam rangka menyelamatkam eksistensi umat Islam.

Rasulullah berperang dengan alasan karena umat Islam dimusuhi, terlebih saat umat Islam masih minoritas. Rasulullah berperang dalam rangka memberi pelajaran bagi para pengkhianat yang telah merusak perjanjian damai dengan umat Islam.

4. Rasulullah membuat piagam perdamaian yang disebut Piagam Madinah.

Piagam Madinah sebagai bukti bahwa tatkala umat Islam sudah menjadi mayoritas tidak akan menindas minoritas. Bahkan sebaliknya, ketika umat Islam masih minoritas, kerap ditindas oleh kaum musyrik, kaum munafik dan ahli kitab.

Piagam Madinah menyatukan elemen bangsa dalam satu kesatuan yakni negara Madinah yang didalamnya beragam agama dapat hidup secara berdampingan dan saling menghormati dengan semangat toleransi.

5. Rasulullah mengumandangkan salam perdamaian saat Fathu Makkah.

Jika kita membaca sejarah, betapa sadis dan bengisnya kebencian kaum musyrikan kepada umat Islam. Rasulullah dan umat Islam ditindas bertubi-tubi. Kepedihan dan penindasan yang kronis, akhirnya umat Islam hijrah ke Yatsrib. Saat Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), rasulullah dan umat Islam tidak membalas dendam kepada penduduk Mekah. Rasulullah memaafkan seluruh kebiadaban penduduk Mekah dahulu.

6. Islam Nusantara ala Walisongo

Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad semakin kental dengan ajaran perdamaian jika kita mempelajari dakwah Walisongo. Islam Nusantara yang didakwahkan dengan arif, bijak dan toleran meneladani dakwah nabi. Islam yang diperkenalkan oleh para wali dengan penuh kelembutan bukan barbarian.

Jika seandainya Islam itu dipahami sebagai ajaran perang dan pedang, tentu Islam tidak akan menjadi mayoritas. Kalaupun menjadi mayoritas, umat Islam di Indonesia pasti akan membabat habis kelompok minoritas non-Muslim. Namun faktanya, minoritas di Indonesia masih terjaga dengan baik. Artinya, non-Muslim bukanlah musuh namun saudara dalam kebangsaan.

Baca Juga  KH Achmad Asrori al-Ishaqi, Anti-plagiasi, dan Pendidikan Literasi bagi Kita

Alhamdulillah. Mayoritas muslim di Nusantara adalah muslim sejati, muslim moderat yang mencontoh dakwah dan perilaku nabi. Bersikap toleran dan menikmati keberagaman. Berbeda dengan kelompok radikal yang mengaku muslim, minoritas namun suara paling lantang selalu mengajak perang. Memusuhi non-Muslim bahkan sesama muslim dianggap kafir.

Jelaslah radikalisme bukanlah ajaran Islam. Jika ada yang mengaku muslim namun radikal, yakni gemar mengajak perang apalagi memusuhi negara, bahkan memusuhi sesama umat Islam hanya karena beda amaliah sehingga teriak bid’ah sepanjang masa maka mereka bukanlah muslim yang benar melainkan oknum atau muslim abal-abal. [MZ]

Suryono Zakka Pengurus Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan; Mengajar di Yayasan Yanuris Srimaju Pondok Pesantren Nurul Islam Bayung Lencir