Al-Kindi, Pemikir Muslim Membahas Psikologi

2 min read

Al-Kindi (801-873), yang nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi, dilahirkan di Kufah, Iraq, pada tahun 801, di bawah pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dari Daulah Abbasiyah.

Kufah, sebuah kota penting dalam sejarah peradaban Islam, menjadi pusat perhatian saat Islam pertama kali berkembang di luar Jazirah Arab. Selain itu, Kufah juga memiliki signifikansi bagi penganut aliran Syiah dan pernah menjadi ibu kota pemerintahan Islam pada masa pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin, termasuk Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Al-Kindi merupakan keturunan ke-5 dari pendiri suku Kinda, Al-Ash’ats bin Qays Ra., seorang tokoh asal Hadramaut, Yaman, yang kemudian pindah ke Kufah dan memeluk Islam di hadapan Nabi Muhammad Al-Ash’ats bin Qays adalah salah satu sahabat Nabi yang pertama datang dan menetap di Kufah. Dia juga termasuk di antara sahabat yang mewariskan hadits. Al-Kindi dan Sa’ad bin Abi Waqqash terlibat dalam peperangan melawan Persia di Irak.

Keluarga al-Kindi dikenal sebagai keluarga yang sangat menonjol di antara bangsawan suku-suku lain di Kufah pada awal periode Islam. Mereka terkenal sebagai keluarga yang kaya, berpendidikan, dan memiliki status bangsawan. Ayah al-Kindi, Ishaq bin Sabbah, pernah menjabat sebagai Gubernur Kufah pada masa pemerintahan beberapa khalifah, termasuk al-Mahdi, al-Hadi, dan Harun al-Rasyid.

Namun, beberapa tahun setelah kelahiran al-Kindi, ayahnya meninggal dunia, sehingga al-Kindi dibesarkan sebagai anak yatim. Meskipun tidak pasti siapa guru-guru al-Kindi, kemungkinan besar dia mendapat pendidikan dasarnya di Kufah. Dia belajar berbagai bidang ilmu, termasuk Al-Qur’an, tata bahasa Arab, sastra, matematika, hukum Islam (fikih), dan teologi, dari ayah dan anggota keluarganya yang lain.

Pada masa kecilnya, al-Kindi mengalami masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, yang dikenal karena perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Selama masa remajanya, al-Kindi aktif mempelajari sastra, agama, dan mulai menunjukkan minat dalam menerjemahkan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab.

Baca Juga  Keajaiban al-Tabari

Bakatnya dalam menerjemahkan Yunani didukung oleh lingkungan intelektual yang kondusif. Kota Kufah, di samping Basrah, merupakan pusat keilmuan dan kebudayaan Islam pada masa itu.

Kufah cenderung mengembangkan keilmuan rasional (‘aqliyah), sementara Basrah lebih terfokus pada keilmuan ilahiah (naqliyah). Oleh karena itu, Al-Kindi kemudian menjadi seorang filsuf, memperdalam sains dan filsafat, meskipun tetap memelihara minat dan perhatian terhadap agama.

Al-Kindi mengembangkan ilmu filsafat dengan tujuan untuk memperkuat dasar-dasar teologi Islam. Setelah belajar di Kufah, dia melanjutkan pendidikannya di Baghdad, pusat peradaban Daulah Abbasiyah. Di sana, al-Kindi fokus pada filsafat, pemikiran rasional, dan bahasa, terutama Yunani dan Syria, karena banyak karya filsafat ditulis dalam kedua bahasa tersebut.

Selain belajar, dia aktif dalam menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Melalui terjemahannya, Al-Kindi memberikan penjelasan singkat atas konsep-konsep kompleks dan merangkum argumen-argumen panjang untuk memudahkan pemahaman. Kreativitasnya membuatnya diakui sebagai penerjemah pertama karya-karya asing ke dalam bahasa Arab dalam sejarah Islam.

Meskipun pada masa itu terdapat pertentangan agama dan aliran pemikiran seperti Mu’tazilah dan Syiah di Baghdad, al-Kindi tetap mempelajari berbagai ilmu, termasuk filsafat. Berkat keahliannya dalam menerjemahkan, al-Kindi menjadi terkenal sebagai penerjemah yang sangat terampil. Banyak orang datang untuk belajar menerjemahkan darinya, bahkan para penerjemah profesional pun meminta pandangan dan saranannya terhadap hasil terjemahan mereka.

Contohnya, Ibn Na’ima al-Himsi, seorang penerjemah Nasrani, meminta bantuan Al-Kindi untuk memperbaiki terjemahannya atas buku Enneads karya Plotinus (204-270). Bukti ini menunjukkan bahwa buku Enneads kemudian disalahpahami oleh beberapa pemikir Arab sebagai karya teologi Aristoteles.

Setelah itu, al-Kindi pindah ke Baghdad. Al-Kindi mengembangkan konsep daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational).

Baca Juga  Gus Baha, Ulama-cum-Cendekia yang Anti Mainstream

Seperti Plato, ia menggunakan metafora kereta untuk menjelaskan hubungan antara ketiga kekuatan jiwa tersebut, dengan daya berpikir sebagai sais kereta dan daya pemarah serta daya bernafsu sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Al-Kindi percaya bahwa jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka kedua daya jiwa lainnya juga dapat dikendalikan dengan baik.

Baginya, individu yang dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu berahi dan amarah diibaratkan sebagai anjing dan babi, sedangkan mereka yang mengendalikan akal budi diibaratkan sebagai raja. Menurut Al-Kindi, tujuan sejati dari filsafat bukanlah untuk menantang kebenaran wahyu atau untuk mengklaim superioritas yang sombong atau untuk menuntut kesetaraan dengan wahyu. [AR]