Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Tokoh-Tokoh Father Parenting dalam al-Qur’an

2 min read

Pemahaman yang relatif “kuno” mengenai pengasuhan anak dalam sebuah keluarga adalah “mengasuh anak merupakan tugas seorang ibu”. Hal ini disebabkan karena dahulu, seorang ibu lebih banyak di rumah dan bertanggung jawab dengan tugas-tugas domestik, termasuk mengasuh anak. Sebaliknya, ayah lebih banyak di luar rumah karena fokus mencari nafkah untuk menghidupi keluarga sehingga membuatnya tidak memiliki waktu yang cukup untuk ikut andil dalam perkembangan anak. Pola pikir yang seperti itu sudah tertanam sejak lama dan masih bertahan hingga hari ini. seakan-akan mengasuh anak hanya tugas seorang ibu.

Padahal, keluarga yang merupakan lingkungan hidup pertama bagi seorang anak mempunyai pengaruh individual yang akan menjadi bekal dalam memenuhi setiap kebutuhannya sendiri. Sehingga dalam pola asuh anak tidak hanya dibebankan kepada seorang ibu saja melainkan keduanya. Peran ayah juga diperlukan dalam kedua orang tua menjadi amat penting dalam membangun sikap serta memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak baik langsung ataupun tidak.

Al-Qur’an telah mencontohkan dengan menampilkan kisah-kisah beberapa sosok ayah yang beperan penting dan ikut terlibat dalam mendidik anak. seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub Luqman, dan Nabi Ya’qub. Berikut adalah pola asuh ayah dalam al-Qur’an dalam mendidik anaknya.

Pola Asuh Ibrahim dalam al-Qur’an

Sebagai seorang utusan yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada ummatnya, Nabi Ibrahim secara tidak langsung juga mengajarkan bagaimana cara mendidik anaknya yaitu Nabi Ismail. Kisah nabi Ibrahim dan Ismail terekam dalam QS. ash-Shaffat  ayat 102 yang berbunyi :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelimu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Quraisy Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa ketika menyampaikan mimpi itu kepada Ismail, tampaknya Ibrahim memahami bahwa perintah tersebut tidak dinyatakan sebagai sebuah pemaksaaan kepada sang anak. yang perlu adalah bahwa ia ingin melakukannya. Jika sang anak membangkang, maka itu adalah urusan ia dengan Allah. Namun, Ismail justur berkata “Sembelilah aku”, yang mengisyaratkan kepatuhannya atas perintah Allah swt. Bagaimanapun bentuk, cara, dan kandungan apa yang diperintahkan-Nya, ia sepenuhnya pasrah.

Baca Juga  Mengenang Buya Syafii Maarif: Tokoh Muhammadiyah yang Moderat dan Pluralis (2)

Kepasrahan Ismail atas perintah Allah swt dengan harapan ia menjadi orang yang sabar, hal ini menunjukan bahwa tingkat akhlak dan sopan santun sang anak kepada Allah swt sangatlah tinggi. Tidak dapat diragukan lagi bahwa jauh sebelum peristiwa perintah ini, Nabi Ibrahim telah menanamkan dalam hati anaknya tentang keesaan Allah dan sifat-sifat-Nya serta bagaimana cara bersikap kepada-Nya. Sikap dan ucapan sang anak yang direkam oleh ayat ini adalah hasil dari didikan Nabi Ibrahim.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa dengan menggunakan kata-kata yang halus Ibrahim berkata kepada Ismail seorang anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya selama berpuluh-puluh tahun mengenai mimpi Ibrahim tersebut. Ibrahim memerintahkan Ismail untuk memikirkan mimpinya dan kemudian ia berharap anaknya memberikan pendapat berupa jawaban.

Ismail tentu telah mengetahui bagaimana ketika ayahnya tanpa ragu sedikitpun masuk kedalam api yang menyala karena dia yakin bahwa pendirian yang dia pertahankan adalah kebenaran. Dan tentu saja Ismail mengetahui bahwa mimpi ayahnya bukanlah semata-mata hanya khayalan yang dialami orang yang sedang tidur. Oleh sebab itu tidak lama Ismail merenungkan apa yang di tanyakan ayahnya kemudian dia langsung mengeluarkan pendapat untuk bersedia disembelih dengan harapan termasuk bagian dari orang yang sabar.

Refleksi

Dari kisah nabi Ibrahim dan Ismail setidaknya ada beberapa point penting yang patut dijadikan contoh dalam mendidik anak. Pertama, sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya. Ini terlihat dari panggilan Ibrahim kepada Ismail dengan “ya bunayya” menurut Wahbah az-Zuhaili “ya bunayya” merupakan panggilan untuk memperlihatkan rasa kasih sayang.

Kedua. Ibrahim adalah sosok yang demokratis dan dialogis ini terlihat ketika Ibrahim tidak serta merta memaksakan kehendaknya sendiri ketika mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail. Namun, sebaliknya Ibrahim justru bertanya serta memberikan waktu kepada Ismail untuk merenung dan memberikan pendapatnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa pentingnya membangun sebuah komunikasi antara ayah dan anak. Dengan menanamkan sikap demokratis kepada anak setidaknya akan menghasilkan kepribadian yang positif bagi orang sekitar

Baca Juga  Cara Mengendalikan Hasrat Seksual

Ketiga, sebagai seorang ayah sekaligus Nabi tentu saja Ibrahim tidak lupa mendidik anak-anaknya untuk selalu taat kepada Allah swt. Hal ini bisa dilihat dari doa-doa dan wasiat Nabi Ibrahim kepada anaknya dalam al-Qur’an.

Dalam sebuah hadis memang dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Namun, dalam hal ini peran ayah juga tak kalah penting untuk menanamkan sikap saling mengasihi serta membentuk karakter yang demokratis dan dialogis. karena tugas utama seorang ayah seorang adalah memimpin serta bertanggung jawab dalam memelihara keluarga salah satunya adalah mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang positif.

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta