Tren “Laki-Laki Tidak Bercerita” di Media Sosial

sumber: veeroes.com

Belakangan ini, tren “laki-laki tidak bercerita” ramai di media sosial. Tren ini sering dijadikan hiburan bagi warganet, baik melalui komentar maupun video.

Tren ini mengingatkan saya pada keponakan laki-laki yang sulit mengungkapkan perasaannya. Kakak saya memiliki dua anak, laki-laki (abang) dan perempuan (adik). Seperti saudara kandung pada umumnya, mereka bertengkar tanpa sepengetahuan ibu mereka karena berebut makanan, seingat saya ayam crispy. Dengan berat hati, si abang akhirnya mengalah.

Setelah kejadian itu, si abang hanya diam. Ibunya bingung karena saat ditanya, ia tidak berbicara apa pun, hanya menangis tanpa suara. Diamnya berlangsung hingga sore, barulah ia bercerita bahwa ia terlibat perkelahian dengan adiknya demi sepotong ayam crispy.

Dari cerita ini, mungkin inilah yang dimaksud dengan tren “laki-laki tidak bercerita, tiba-tiba menangis.” Tren ini mencerminkan anggapan bahwa laki-laki adalah makhluk superior yang harus selalu kuat dalam menghadapi berbagai cobaan dan tidak boleh mengungkapkan keluhannya.

Konstruksi Sosial Maskulin dan Feminin

Menurut KBBI, maskulin berarti bersifat jantan atau berhubungan dengan laki-laki, sedangkan feminin berkaitan dengan kewanitaan. Dalam ruang sosial, istilah ini tidak asing lagi. Berdasarkan definisi tersebut, masyarakat menuntut perempuan untuk bersikap feminin dan laki-laki untuk bersifat maskulin. Jika ada penyimpangan dari konsep ini, seseorang dianggap menyalahi kodratnya sebagai laki-laki atau perempuan.

Stereotip yang melekat di masyarakat menyatakan bahwa laki-laki harus tegas, berani, kuat, dan pekerja keras, sedangkan perempuan harus lembut, pemalu, penyayang, serta tidak merokok. Stereotip ini memunculkan bias patriarki yang menganggap laki-laki lebih unggul daripada perempuan.

Konstruksi sosial yang menciptakan konsep maskulinitas dan femininitas membuat ruang ekspresi laki-laki dan perempuan menjadi terbatas. Padahal, setiap individu seharusnya memiliki kebebasan untuk berekspresi di luar konsep maskulin dan feminin, misalnya perempuan tomboy, perempuan merokok, laki-laki menangis, atau laki-laki bercerita.

Selain itu, kalimat yang sering kita dengar adalah bahwa laki-laki identik dengan rokok. Ketika saya merantau di Jogja, saya sering mendengar pernyataan seperti, “Lanang kok ora rokokan?” (Laki-laki kok tidak merokok?).

Konstruksi sosial ini sangat berpengaruh terhadap cara berpikir kita. Sebagai laki-laki, saya sering merasa harus menahan tangis dan bersikap kuat. Meskipun terdengar positif, hal ini menunjukkan bahwa kita masih terpenjara oleh konstruksi sosial yang diciptakan masyarakat sendiri.

Laki-Laki Juga Perlu Bercerita

Berkaitan dengan hal tersebut, tren “laki-laki tidak bercerita” mencerminkan anggapan bahwa laki-laki yang berbagi masalahnya dianggap lemah dan tidak maskulin. Padahal, tidak semua sifat maskulin harus dimiliki laki-laki dalam setiap situasi. Pada saat tertentu, laki-laki juga perlu memiliki sifat feminin, dan hal itu bukanlah sebuah kelemahan.

Tren ini menunjukkan bahwa laki-laki harus memendam perasaan, masalah pribadi, masalah keluarga, dan lain sebagainya. Kebiasaan menekan emosi seperti ini dapat menyebabkan frustrasi. Oleh karena itu, untuk menghindari tekanan mental, laki-laki perlu mengungkapkan isi hatinya dan melepaskan beban yang ada dalam dirinya. Bercerita dapat menjaga kesehatan mental serta mempererat hubungan sosial.

Sebagian orang mungkin menganggap bercerita adalah hal sepele dan membuang waktu, tetapi pada kenyataannya, bercerita dapat menyelamatkan seseorang dari bahaya, bahkan kehilangan nyawa.

Di balik sisi humor tren “laki-laki tidak bercerita” yang sedang ramai di media sosial, seakan-akan ada pesan bahwa laki-laki harus menyimpan perasaannya dalam diam. Padahal, laki-laki juga membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya secara aman dan nyaman tanpa takut dihakimi. Wallahu a’lam.

0

Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.