Nun Arinal Haqqa El Musthafa Mahasiswa UIN Sunan Ampel

Nilai-Nilai Keislaman dalam Etika Global Hans Kung

2 min read

Laju kemajuan zaman kiranya semakin menjauh dari etika. Kosakata etika terasa kian asing bagi generasi yang terlahir di saat teknologi komunikasi berada pada puncak kejayaannya. Paradigma filsafat etik dan teori-teori ilmu pengetahuan yang menyuarakan pentingnya etika bagi peradaban zaman, terasa bagai semacam slogan kosong yang menyeruak di tengah ramainya suara-suara kemajuan masa depan.

Itulah pasalnya, ketika Profesor Hans Kung – seorang pemikir mutakhir Jerman – meneriakkan selembar catatan tentang ‘Etika Global’, respon dunia seakan senyap semata. Slogan tersebut dianggapnya tak bernilai bagi masa depan zaman. Padahal justru sistem hidup pada zaman kekinian sangatlah berkaitan dan bahkan membutuhkan etika.

Kondisi dunia yang diributkan oleh perang antar berbagai negara misalnya, tentu membutuhkan solusi alternatif yang bernama perdamaian. Semangat perdamaian ini akan tercapai jika antar negara memiliki sistem etika bernegara dan etika komunikasi antar negara yang setara dan berimbang.

Hans Kung, peraih Global Art Award (2000) dan German Druiden Medal from the Weltethos Foundation (2004), merasa bahwa tatanan dunia kekinian sedang membutuhkan suatu konsep dasar dalam berperilaku antar negara. Tentu saja, ‘Etika Global’ tidak dimaksudkan untuk merebut peranan kitab suci agama, melainkan justru dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak dunia akan pentingnya sebuah nilai-nilai etika dalam bernegara.

‘Etika Global’ memiliki prinsip setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Prinsip tersebut diperkuat Hans Kung dengan menerapkan empat pedoman paten. Pertama, setiap manusia wajib menghormati kesejajaran hak dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, setiap manusia harus memiliki rasa persaudaraan dan pembinaan sistem ekonomi yang adil. Ketiga, setiap manusia berkomitmen tanpa kekerasan dan menghormati kehidupan. Keempat, setiap manusia wajib bertoleransi dan hidup dengan kejujuran.

Baca Juga  Tentang Kerancuan Jargon "Kembali kepada Alquran dan Hadis"

Apabila ditinjau dari perspektif agama-agama, pemikiran Hans Kung tersebut seiring dengan etika dan nilai-nilai agama. Dalam tata nilai agama Islam misalnya, tentu di dalamnya terdapat tata nilai tentang pentingnya kesetaraan, persaudaraan, keadilan, toleransi, kejujuran, serta nilai-nilai hidup yang selaras dengan sifat-sifat manusiawi lainnya.

Pada hakikatnya nilai-nilai yang ditawarkan oleh Hans Kung dalam etika global sudah tertera jelas dalam agama Islam. Islam menghadirkan suri tauladan dengan kredibilitas sebaik-baik manusia yang pernah ada di muka bumi ini.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “innamaa bu`itstu liutammima makarimal akhlak”, bahwa ‘sesungguhnya aku – kata Rasul – diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia’. Oleh karenanya, seruan Hans Kung tentang pentingnya ‘Etika Global’ bagi dunia kekinian terasa menemukan ruangnya dalam koridor keislaman.

Pada prinsipnya, Islam telah memberikan ruang ajaran yang seluas-luasnya bagi pemikiran yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan seperti teori beretika yang telah dirumuskan Hans Kung dalam ‘Etika Global’. Misal dalam surat al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚاِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Dari ayat tersebut terdapat dua poin penting, yang pertama adalah kalimat

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى

Sayyid Quthb menafsirkan ayat ini dengan meletakkan posisi perempuan di tempat yang sewajarnya, yang mana laki-laki dan perempuan secara normatif diciptakan setara. Diharapkannya dengan perbedaan tersebut dapat menimbulkan rasa persaudaraan antar satu sama lain. Pada bagian ayat ini tertera jelas dua hal pedoman Hans Kung tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, dan juga terkait rasa persaudaraan antar sesama.

Baca Juga  Membumi Saat Pandemi: Menengok Kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 2]

Sedangkan yang kedua tertera pada kalimat

وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا

Dalam tafsir Al-Munir, Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajak manusia untuk saling mengenal antara satu sama lain. Kita seharusnya sadar, bahwa semua manusia diciptakan dari benda yang sama (tanah liat). Kesamaan inilah yang menjadi dasar penghormatan terhadap sesama manusia.

Penghormatan tersebut juga mencakup sikap toleransi terhadap umat beragama, sehingga tidak timbul konflik antar umat beragama. Disini tampak jelas, bahwa pedoman Hans Kung tentang penghormatan dan toleransi juga disebutkan dalam kandungan ayat Al-Qur’an tersebut.

Alhasil, tata nilai ajaran Islam seringkali beriringan dengan konsep-konsep filsafat mutakhir dan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Dengan demikian, umat Islam akan dengan mudah dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu keislaman dalam ranah kemajuan zaman dengan perkembangan teknologi komunikasinya yang super canggih.

Namun demikian, tentu saja masih tetap diperlukan “kecerdasan rangkap” dalam mempertemukan keduanya – antara nilai-nilai keislaman dan ilmu pengetahuan modern, terutama saat terganjal oleh hal-hal yang dianggap agak berseberangan antara laju perkembangan zaman dan ilmu-ilmu keislaman.

Nun Arinal Haqqa El Musthafa Mahasiswa UIN Sunan Ampel