Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Mengheningkan Cipta untuk Pendidikan Kita

2 min read

Seperti yang kita ketahui, Rangkaian peristiwa-peristiwa negatif belakang ini muncul begitu sering mewarnai wajah pendidikan kita. Mulai dari kejadian siswa SD di Gresik yang dicolok matanya menggunakan tusuk bakso hingga buta oleh kakak kelasnya karena tidak mau memberikan uang jajan. Lalu kejadian siswa Madrasah Aliyah di Demak yang tega membacok gurunya sendiri lantaran sakit hati dengan nilai PTS yang didapatkannya. Dan terakhir yang sempat viral yaitu siswa SMP di Cilacap yang melakukan perundungan atau bulliying terhadap adik kelasnya. Dan sederet kejadian-kejadian yang kurang mengenakkan dalam dunia pendidikan kita yang lainnya.

Kejadian-kejadian serupa mungkin hampir terjadi di banyak sekolah. Hanya saja, karena tidak viral maka kasusnya tidak pernah dibaca oleh publik luas. Namun, yang terpenting adalah, adakah pertanyaan dari benak para pembaca sekalian, ada apa dengan dunia pendidikan kita hari ini?

Dunia pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia-manusia beradab, beretika, bermoral, dan berpengetahuan justru dalam prosesnya malah mengalami degradasi moral. Pendidikan yang seharusnya mempunyai tujuan yang mulia untuk mencapai hidup yang bahagia, justru malah mengancam keselamatan diri dan nyawa. Dunia pendidikan hari ini kita pastikan sedang tidak baik-baik saja.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan karakter yang digembor-gemborkan oleh pemerintah dan para stakeholder pendidikan? Apakah sudah berhasil? Atau orientasinya memang hanya menjadi proses saja tanpa berorientasi menghasilkan sebuah hasil? atau, bagaimana dengan kurikulum merdeka yang digagas oleh kementrian pendidikan? Apakah kejadian itu semua hasil dari implementasi kurikulum merdeka? Siswa merasa merdeka dengan berbuat apa saja kepada teman dan gurunya. Dan guru merasa merdeka dengan berbuat apa saja kepada siswanya dan kepada sesama guru yang lainnya. Atau mungkin, ini karena adanya lost generation dan lost education yang dihasilkan karena pandemic covid-19 silam? Atau bisa jadi karena efek tsunami kecanggihan teknologi yang brutal yang menimpa anak-anak peserta didik kita? Tentu ini perlu kajian mendalam dan evaluasi terus menerus.

Baca Juga  Kenapa Peradaban Islam Tertinggal?

Ada beberapa faktor: Pertama, saya pribadi melihat situasi pendidikan kita saat ini tidak berlangsung secara komprehensif.  Pendidikan hanya dimaknai sebagai “sekolah” saja. Di rumah, orang tua merasa tidak wajib memberikan “pendidikan” kepada anaknya. Hanya guru di sekolah lah yang bertugas memberikan pendidikan. Sehingga, karena kurangnya pendidikan di rumah ini lah yang kemudian mempengaruhinya di sekolah bahkan di kehidupan sehari-harinya.

Pendidikan adalah tugas semua manusia. Tidak hanya guru, tidak hanya kementerian pendidikan, tidak hanya sekolah saja. Justru, lingkungan rumah lah yang paling berpengaruh terhadap pendidikan seorang anak. Jika orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak, seringkali anak akan mengalami kemerosotan moral.

Kedua, faktor teknologi juga sangat berpengaruh kepada dunia pendidikan saat ini. Anak-anak kita seperti diterpa tsunami teknologi. Dunia terbuka luas untuk mereka. Apapun bisa diakses oleh mereka, baik yang mendidik maupun yang merusak moral. Jika kita tidak bisa membendungnya, bisa saja membahayakan untuk anak-anak kita.

Ketiga, faktor kualitas guru-guru dan penyelenggara pendidikan. Kita tahu, secara kuantitas memang sangatlah banyak jumlah sekolah di Negara kita, apalagi jumlah gurunya. Namun, kuantitas tidak pernah menjamin kualitas. Guru-guru tidak cukup hanya masuk kelas menyampaikan materi, lalu pulang. Guru memiliki peran penting juga dalam menanamkan karakter kepada anak didik. Guru tidak cukup hanya mentrasnfer pengetahuan saja tanpa mentransfer nilai dan moral. Guru tidak cukup hanya mauidloh hasanah tanpa menjadi ustwatun hasanah. Intelektualitas guru tidak pernah diragukan, tapi kualitas moralitas guru juga harus dipastikan.

Begitu juga penyelenggara pendidikan. Tujuan ekonomi dan komersial bagi penyelenggara pendidikan memang tidak dapat dielakkan. Tetapi kualitas pendidikan yang diselanggarakan juga harus dipastikan.

Baca Juga  Tentang Ibunda Fatmawati dan Muhammadiyah

Sistem dan birokrasi pendidikan juga menjadi faktor penting dalam dunia pendidikan kita.muncul pertanyaa,  Apa gunanya kurikulum yang berganti-ganti jika tujuannya adalah hanya untuk kepentingan “proyek” semata? Apa gunanya akreditasi yang diselanggarakan pemerintah kalau semuanya bisa dicapai hanya dengan memanipulasa data? Apa gunanya seleksi perekrutan guru atau pendidik jika masih sering ditemukan kecurangan-kecurangan?

Segenap pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut bukan berarti saya tidak setuju dengan realitas birokrasi pendidikan saat ini. Hanya saja, setiap birokrasi pasti ada lebih dan kurangnya. Tugas kita adalah meminimalisir kekurangannya demi tujuan pendidikan yang lebih baik. Hal-hal yang menjadi kecurangan jika dibiarkan terus menerus akan terjadi normalisasi, yang hasilnya adalah realitas wajah pendidikan kita saat ini.

Sekali lagi, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan saja. Pendidikan juga tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja. Pendidikan juga terjadi dimanapun berada, di rumah, di sekolah bahkan di social media juga. Pendidikan itu juga tentang penanaman akhlak, moral, dan karakter. Tugas kita, sebagai orang tua dan guru adalah, selain memastikan anak-anak kita memiliki pendidikan yang mumpuni, kita sendiri harus terus memiliki pendidikan yang mumpuni juga.

Untuk itu, lewat tulisan ini, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk sejenak melupakan euforia pemilihan umum atau pilpras-pilpres yang terkesan membosankan dan membingungkan itu.

Lewat tulisan ini, Saya ingin mengajak pembaca untuk sejenak mengheningkan cipta untuk pendidikan kita saat ini. Mengheningkan cipta mulai…

Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta