Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Berakhlak dengan Asmaulhusna dan Sifat Allah menurut Syekh Izzuddin bin Abdissalam (1)

2 min read

Kredit: Shah_Graphics99

Asmaulhusna atau nama-nama indah Allah sangat dikenal oleh kalangan muslim. Sejak TPA atau pendidikan dasar keagamaan, anak-anak muslim sudah dikenalkan asmaulhusna beserta artinya. Bahkan, ada pula guru agama Islam yang mewajibkan siswa-siswinya untuk menghafalnya. Mereka pun melaksanakannya, tentunya demi mendapatkan nilai yang bagus.

Syair-syair tentang asmaulhusna dinyanyikan bersama oleh para siswa sebelum memasuki kelas. Setiap madrasah atau pesantren, biasanya memiliki gaya nada syair asmaulhusna sendiri-sendiri.

Bahkan di beberapa kota di Indonesia, banyak dipasang plang-plang asmaulhusna di sepanjang jalan rayanya. Ini menggambarkan bagaimana asmaulhusna dikenal oleh kalangan muslim secara luas yang menyadari fadilat atau keutamaannya.

Namun, apakah pengetahuan mengenai asmaulhusna dan fadilatnya juga dibarengi dengan pengetahuan mengenai beretika dengannya dan pengamalannya? Hal ini tentu perlu menjadi perhatian penting.

Pembahasan tentang bagaimana berakhlak dengan asmaulhusna dan sifat-sifat Allah dipaparkan secara khusus oleh Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam dalam kitab terkenalnya, Syajarat al-‘Ma‘arif wa al-Ahwal wa Shalih al-Aqwal wa al-A‘mal.

Menurut Syekh Izzuddin, mengenai akhlak, lihatlah pada asmaulhusna dan berakhlaklah dengan masing-masing nama di dalamnya sesuai kemampuan diri. Dalam asmaul husna, terdapat nama-nama berupa perbuatan yang memang dianjurkan untuk dilakukan seperti al-Rahman (Maha Pengasih) atau al-Rahim (Maha Penyayang).

Ada praktik yang mesti dikontektualisaikan dulu dengan muamalah, seperti al-Jalal (keagungan). Berakhlak dengan al-Jalal (keagungan) di sini berarti berusaha mendekatkan diri pada keagungan-Nya dengan memberikan pemberian-pemberian yang paling utama pada sesama. Berikut penjelasan berakhlak dengan asmaul husna dan sifat-sifat Allah menurut Syeikh Izzuddin bin Abdissalam.

Berakhlak dengan al-Malik (Maha Raja)

Allah berfirman dalam QS. Al-Mu’minun ayat 116:

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ ١١٦

Baca Juga  Etos Welas Asih Nabi Muhammad

“Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya. Tidak ada tuhan selain Dia, pemilik Arasy yang mulia.”

Al-Malik bagi Allah berarti Dia disifati dengan sifat raja, yaitu sifat-sifat agung, angkuh, menguasai, mengatur, dan memiliki tindakan mutlak terhadap makhluk, segala urusan dan pembalasan.

Memiliki akhlak al-Malik berarti mengelola segala sesuatu yang berada di bawah tanggung jawab seseorang dengan adil dan berbuat baik dalam setiap kemudaratan dan kemanfaatan.

Atau ia berarti juga berakhlak kepada setiap orang yang memiliki ikatan dengannya sesuai dengan haknya, seperti mencegah seseorang dari sesuatu yang ia tidak berhak menerimannya atau mengangkat seseorang yang memang berhak untuk diangkat.

Orang yang memiliki akhlak ini akan berusaha memberikan makan dan pakaian untuk orang miskin, memberi kebijakan pada orang zolim, dan mengatur sebagian harta orang kaya sekitarnya untuk orang miskin.

Berakhlak dengan sifat ini bisa diterapkan oleh siapa pun yang memiliki kewenangan kebijakan terhadap orang lain, atau minimal diterapkan dalam memimpin kelompok kecil seperti keluarga atau diri sendiri. Misalnya, petugas KPPS dalam penyelenggaraan Pemilu kemarin menjalankan tugasnya dengan baik dan amanah dalam mengatur pemilih yang memiliki hak suara di TPS-nya.

Berakhlak dengan al-Quddus (Maha Suci)

Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 23:

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ …٢٣

“Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahadamai.”

Al-Quddus berarti suci dari segala aib/cacat dan kekurangan, disertai dengan pengagungan. Berakhlak dengan al-quddus berarti menyucikan diri dari segala yang haram, makruh dan syubhat. Seperti misalnya, seorang netizen Gen Z yang berusaha menghindarkan diri dari perbuatan judi online yang jelas haram dan mudarat.

Baca Juga  Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pulau Giliyang, Madura

Berakhlak dengan al-Salam (Maha Selamat dari Kekurangan)

Al-Salam dan al-Quddus memiliki makna yang berdekatan. Al-Salam berarti maha suci Allah yang selamat dari penyerupaan dengan makhluk, dari segala kekurangan dan dari segala yang menafikan kesempurnaan-Nya.

Berakhlak dengan al-Salam berarti menyebarkan kedamaian, membuat orang lain selamat dari perbuatan buruk dan zalim seseorang, karena muslim adalah orang yang selamat dari (buruknya) lisan dan tangannya.

Seperti misalnya seorang netizen yang mencoba untuk menjaga jari-jarinya agar tidak mengetik postingan yang berisi ujaran kebencian atau menyebarkan hoaks yang merugikan orang banyak.

Berakhlak dengan al-Mu’min (Maha Pemberi Keamanan)

Al-Mu’min berarti Allah merupakan Dzat yang memuji diri-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan, yang mengutus rasul-rasul dan menurunkan kitab-kitab suci dengan segala ayat dan bukti.

Allah membenarkan rasul-rasul-Nya dengan segala ayat dan bukti, yang menunjukkan jujurnya mereka dan benarnya apa yang mereka bawa. Atau bisa juga berarti, Allah memberi keamanan bagi makhluk-Nya dari dizalimi oleh pihak lain.

Berakhlak dengan al-Mu’min berarti memercayai segala suatu yang diturunkan oleh Allah, memberi jaminan keamanan seseorang dari perbuatan zalimnya, menampakkan kebaikan, serta mendengarkan pendapat orang dalam segala urusan.

Seperti seseorang yang mendengarkan curhat temannya dan berjanji untuk tidak menyebarkannya. Ia menjaga amanah itu, karena benar-benar mempercayai dan merasakan bahwa Allah Maha Melihat dan Mengetahui janjinya.

Berakhlak dengan al-Muhaimin (Maha Menyaksikan Sesuatu yang Samar)

Al-Muhaimin berarti Allah merupakan Dzat yang memahami perkara-perkara yang samar, hal-hal dalam hati yang bersifat rahasia, dan pengetahuannya meliputi segala sesuatu. Atau bisa juga berarti Allah Maha Menyaksikan dan Mengawasi perbuatan-perbuatan hamba-Nya.

Berakhlak dengan al-Muhaimin berarti merasa takut dan malu dari kesaksian Allah ketika seseorang melakukan maksiat, dan berharap kesaksian-Nya saat seseorang melakukan ketaatan.

Baca Juga  Sejarah Istilah Wahdat al-Wujud

Kaitannya dengan muamalah, berakhlak dengannya berarti juga berusaha menegakkan kesaksian atas segala kemanfaatan, kemudaratan, keburukan, dan rahasia, entah itu atas diri sendiri, orang tua, atau kerabat terdekat.

Contohnya, apabila ada pesan-pesan kebaikan yang tidak dilakukan diri sendiri, seseorang akan jujur dan menjadi saksi pada dirinya sendiri, kemudian bertaubat. Ia kemudian berharap, taubatnya itu disaksikan dan diterima oleh. Wallahualam bissawab [AR]

Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga