Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

Menjaga Harta Persaudaraan Indonesia

3 min read

Kredit: BPMI SETWAPRES

Hari-hari ini, tatkala kita sedang disibukkan dengan gegap gempita pemilu yang disambung dengan penerimaan dan penolakan pemilu yang menyerap hampir semua perhatian warga Indonesia, ada satu berita gembira bagi Indonesia.

Berita itu adalah penerimaan  Zayed Award for Human Fraternity (Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia) yang diberikan kepada dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah.

Penghargaan ini adalah bagian dari perayaan Hari Persaudaraan Umat Manusia yang ditetapkan oleh PBB sejak 21 Desember 2020 dan mulai dirayakan sejak 4 Februari 2021. Sementara sebagai penghargaan, Zayed Award ini sudah diberikan sejak 4 Februari 2019 sebagai bagian dari pertemuan dua pemimpin besar agama dunia, Paus Fransiskus dari Gereja Katolik dan Imam Besar al-Azhar, Ahmed Mohamed Ahmed el-Tayeb dari komunitas Muslim.

Zayed Award dianugerahkan kepada empat pemenang untuk dua kategori: kategori organisasi masyarakat dan kategori individu. Sementara untuk kategori individu, anugerah ini diberikan kepada dokter bedah jantung dari Mesir, Sir Magdi Yacoub dan Suster Nelly Leon Correa pendiri Yayasan Perempuan Bangkit (Mujer Levitante) yang mendampingi pelatihan kerja perempuan yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan di Chile.

Penghargaan untuk kategori organisasi masyarakat keduanya jatuh kepada ormas keagamaan dari Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah (Kompas 3/2). Di antara sekian banyak lembaga yang berkontribusi bagi kemanusiaan di seluruh negara di dunia, dua ormas di Indonesia terpilih sebagai lembaga dengan kontribusi besar bagi persuadaraan umat manusia.

Selain penghargaan bagi kedua ormas tersebut, rasa-rasanya penghargaan tingkat dunia ini adalah bagian tak terpisahkan atas penghargaan terhadap persaudaraan di Indonesia secara keseluruhan. Dalam hal ini, kita semua untuk pantas bersyukur atas harta persaudaraan yang menjadi milik bangsa kita, yang diakui oleh masyarakat dunia.

Baca Juga  Relevansi Tasawuf di tengah Krisis Spiritual dan Moral Masyarakat Modern  

Jalan-Jalan Persaudaraan

Jalan persaudaraan yang dihidupi oleh NU dan Muhammadiyah asal Indonesia mungkin dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja, tetapi orang di luar sana melihat bahwa apa yang mereka kerjakan adalah sebuah kontribusi besar bagi negeri ini.

Bagi bangsa kita yang punya ungkapan “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”, sering kali memunculkan rasa rendah diri bahwa tidak ada yang baik dari negeri ini. Penghargaan ini menjadi salah satu dari sekian hal yang bisa dibanggakan dari negeri ini.

Dikutip dari laman Muhammadiyah, dalam sambutannya, Irina Bokova, Direktur Jendral UNESCO 2009-2017, yang menjadi salah satu Dewan Juri untuk penghargaan ini, mengatakan, “Kami sangat menghargai individu dan organisasi yang benar-benar mengubah kehidupan masyarakat. Kami datang ke organisasi-organisasi di Indonesia. Indoensia adalah negara muslim di dunia yang memiliki dua organisasi yang didirikan selama lebih dari seratus tahun, yakni Muhammadiyah dan NU. Kerja-kerja perdamaian yang dilakukan Muhammadiyah dan NU tidak hanya fokus pada moderasi, tetapi juga keterlibatan sosial melalui pendidikan dan kesehatan. Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan NU telah menyentuh kehidupan ribuan orang.”

Sementara vaticannews, kantor berita resmi dari Vatikan, mengatakan, “Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan lebih dari 190 juta anggota, dianugerahi Zayed Award atas upaya kemanusiaan dan pembangunan perdamaian mereka yang tak terukur. Melalui pendirian lembaga pendidikan, rumah sakit, dan proyek pengentasan kemiskinan, kedua organisasi ini telah meningkatkan taraf hidup banyak masyarakat Indonesia dan kelompok rentan di seluruh dunia.”

Penerimaan Award ini meyakinkan bangsa Indonesia bahwa persaudaraan adalah harta yang kita miliki bersama. Agama-agama di Indonesia ini memiliki kontribusi besar untuk menjaga kedamaian di negeri ini di sepanjang sejarah berdirinya bangsa Indonesia.

Baca Juga  Istikamah dan 3H (Head, Hand, dan Heart)

Memang benar, di sana-sini terdengar konflik atas dasar agama, tetapi kisah itu bukan kisah yang mendominasi perjalanan sejarah negeri ini. Sebagai seorang pastor Katolik yang bekerja di bidang dialog antaragama di Yogyakarta, saya sendiri menjadi saksi bagaimana NU dan Muhammadiyah bersama dengan lembaga-lembaga di bawahnya merupakan garda depan penjaga persaudaraan di Indonesia.

Pengalaman umat Katolik yang ditemani oleh almarhum Buya Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah, di saat-saat menghadapi situasi terorisme di Gereja St. Lidwina Bedog tahun 2018 menjadi salah satu cerita fenomenal di antara umat Katolik di Yogyakarta dan Indonesia.

Sementara, ketulusan teman-teman banser yang menjaga gereja saat Natal dan Paskah menjadi kontribusi besar untuk menjaga rasa aman dan suasana persuadaraan di tengah hidup bersama. Sayangnya, ketika tidak direfleksikan dan dimaknai lebih mendalam, anugerah dan harta persaudaraan ini bisa saja dianggap sebagai hal yang biasa dan berlalu bersama angin dan waktu.

Merayakan Persaudaraan

Hari-hari ini, baik dunia maya maupun dunia nyata kita memiliki tema besar yang menjadi topik perbincangan, yaitu pemilu. Di dunia maya, media sosial kita dipenuhi dengan tema-tema perdebatan tentang apa dan siapa yang terbaik.

Semua memiliki argumennya sendiri-sendiri, yang sayangnya memunculkan orang-orang yang dengan tidak bijaksana saling menjatuhkan dan menjelekkan. Tak beda jauh di dunia nyata, dari perjumpaan dengan beberapa teman, terbukti bahwa eskalasi pemilu kali ini sudah semakin kuat. Ketegangan antar warga mulai menguat berdasarkan basis pilihan dalam pemilu.

Tentu, ini bukanlah hal menyenangkan bagi kita yang berjuang untuk kemanusiaan dan persaudaraan. Sayangnya, memang iklim pemilu kita masih berjalan seperti ini. Namun, hadirnya berita tentang pengakuan terhadap persaudaraan di Indonesia yang patut dipuji, dalam diri NU dan Muhammadiyah, kiranya kita kembali menyadari harta yang menjaga negeri ini bukanlah siapa pemimpinnya, melainkan apakah bangsa ini—siapa pun pemimpinnya—tetap bisa merawat persaudaraan.

Baca Juga  Kutemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Satu Atap (2)

Upacara penganugerahan Zayed Award for Human Fraternity ini diadakan Senin, 5 Februari 2024 bertempat di Founder’s Memorial di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Upacara itu juga disiarkan langsung secara daring di Abu Dhabi TV dan Zayed Award.

Sekali lagi, rasanya hal ini menjadi penghargaan bagi rasa persaudaraan di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah kita masih bisa mewariskan semangat persaudaraan ini kepada generasi berikutnya.

Dalam Document for Human Fraternity yang menjadi awal mula diadakannya penghargaan ini dikatakan, “Kami juga menegaskan pentingnya membangkitkan kesadaran beragama dan perlunya membangkitkan kembali kesadaran ini di dalam hati generasi baru melalui pendidikan yang sehat dan kepatuhan pada nilai-nilai moral dan ajaran agama yang benar. Dengan cara ini, kita dapat menghadapi kecenderungan yang individualistis, egois, saling bertentangan, dan juga mengatasi radikalisme dan ekstremisme buta dalam segala bentuk dan ungkapannya.”

Semoga bangsa kita yang sudah mewarisi harta persaudaraan, mau dan mampu mewariskan harta yang sama kepada generasi berikutnya.

Penerimaan penghargaan ini di tengah gempita pemilu rasanya bukanlah hal yang kebetulan. Kalau selama ini, kriteria pemilihan berkutat di antara tema siapa yang paling tampak suci, siapa yang paling gemoy, atau siapa yang paling sat-set, peringatan ini mengingatkan kita satu kriteria tambahan berbunyi “siapa yang paling mampu menjaga persaudaraan”.

Semoga pemimpin yang terpilih tidak hanya bisa menjaga stabilitas ekonomi sebagai hal yang dikejar oleh berbagai bangsa di dunia, tetapi mampu mengupayakan persaudaraan sebagai harta yang patut untuk dikejar oleh bangsa-bangsa dengan peradaban tinggi. [AR]

Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma