Muhammad Rizki Mubarrok Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Pentingnya Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Quran Di Era Modern

2 min read

Di era modernisasi ini, manusia dalam menentukan sesuatu hal adalah tidak hanya asal  menentukan, salah satunya adalah menentukan hukum, karenanya untuk mempelajari atau memahami ilmu asbab an-Nuzul ini sangat penting bagi seorang muslim terlebih bagi seorang mufassir, agar tahu bagaimana asal sebab turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Jadi bisa diartikan, bahwa ilmu asbab an-Nuzul ini perlu dipelajari bagi siapa pun yang ingin memahami al-Qur’an.

Pada hakikatnya, memahami asbab an-Nuzul di era modernisasi ini bertujuan agar bisa memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan sumber yang terpercaya tanpa ada keraguan sedikitpun, karena asbab an-Nuzul ini dijadikan para ulama’ sebagai acuan bahkan ada yang dalam penyusunannya menggunakan cara yang khusus, karena mempunyai anggapan bahwa pentingnya kisah asbab an-Nuzul itu sendiri.

Menurut pandangan al-Wahidi ia memberikan pengertian bahwa asbab an-Nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat adalah suatu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud al-Qur’an secara mendalam. Tidak cukup hanya membaca terjemahan atau belajar sendiri dari teks terjemahan. Karena tidak semua terjemahan atau kitab tafsir memuat asbab an-Nuzul secara keseluruhan, sehingga potensi untuk salah paham akan besar.

Pemahaman asbab an-Nuzul akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat asbab an-Nuzul ini. Belajar ilmu asbab an-Nuzul di era modernisasi mempunyai relevansi sepanjang peradaban perjalanan manusia, mengingat ilmu ini menjadi tolak ukur dalam upaya kontekstualisasi teks-teks al-Qur’an.

Para peneliti ilmu-ilmu al-Qur’an menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang asbab an-Nuzul. Untuk menafsirkan al-Quran, ilmu ini diperlukan, sehingga ada yang mengambil spesialisasi dalam bidang ini. Untuk mengetahui asbab an-Nuzul secara shahih, para ulama berpegang kepada riwayat shahih yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. dikarenakan, pemberitaan seorang sahabat mengenai hal ini langsung disandarkan kepada Nabi pada saat itu.

Baca Juga  Demokrasi dan Sayup Isu Populisme Islam: Sebuah Refleksi (2)

Menurut al-Wahidi tidak diperbolehkan ‘main akal-akalan’ dalam asbab an-Nuzul al-Qur’an, kecuali berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebanya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Jadi menurut ia, terkait asbab an-Nuzul ini tidak bisa dimanipulasi tentang keotentikannya.

Menurut sebuah jurnal salah satu urgensi dari adanya asbab an-Nuzul yaitu untuk memudahkan para penghafal dalam menghafal dan dalam memahami wahyu serta memantapkannya pada dada orang yang mendengar ayat tersebut, jika ia mengetahui sebab turunnya. Hal ini disebabkan adanya hubungan kausalitas antara ketentuan hukum dan peristiwa yang terjadi, antara peristiwa dengan orang, dan antara waktu dengan tempat kejadiannya.

Kemudian urgensi yang kedua yaitu untuk mengetahui kepastian orang-orang yang menjadi latar belakang turunnya ayat al-Qur’an, sehingga salah persangkaan dapat dihindarkan. Sebagai contoh kasus ‘Aisyah Ra. Membantah Marwan yang mengatakan bahwa Abd. Rahman bin Abi Bakar saudara istri Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang menjadi sebab turunnya firman Allah surah al-Ahqaf 46:17.

Muhammad Chirzin dalam bukunya, al-Qur’an dan ulum al-Qur’an menjelaskan, dengan ilmu asbab an-Nuzul. Pertama, seorang dapat mengetahui hikmah dibalik syariat yang di turunkan melalui sebab tertentu. Kedua, seorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga, seorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.

Menurut al-Wahidi bahwa asbab an-Nuzul ini dapat diaplikasikan dalam konteks kekinian atau di era modernisasi. Sebab al-Qur’an diturunkan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman, tidak hanya pemahaman yang tekstual tetapi juga pemahaman kontekstual terhadap suatu ayat. Terutama untuk mengetahui status hukum pada masa itu, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

Baca Juga  Apa Yang Kita Sembah: Tuhan atau Imajinasi?

Ali al-Sabuni berpendapat bahwa urgensi asbab an-Nuzul diantara lain, yaitu untuk mengetahui hikmah dan rahasia dibalik legislasi hukum, untuk menentukan hukum kekhususan suatu ayat, menghindarkan prasangka ayat hanya pada batas tertentu (hasr), karena arti zahir ayat itu memang menunjukkan hasr (terbatas), dan dapat memastikan pelakau yang turut berjasa atas turunnya ayat dan menghilangkan keraguan terhadap pelaku yang diduga sebagai sebab turunnya ayat.

Jadi, dari beragam pendapat tentang urgensi asbab an an-Nuzul yang dikemukakan baik oleh ulama klasik maupun kontemporer di atas, pada hakikatnya menegaskan bahwa eksistensi dan urgensi asbab an-Nuzul dalam sebuah penafsiran al-Qur’an adalah sesuatu yang niscaya. Di samping bertujuan untuk mengetahui latar belakang turunnya ayat al-Qur’an, pengetahuan akan asbab an-Nuzul juga sangat membantu dalam melacak makna dan spirit (ruh) dari suatu ayat.

Dapat disimpulkan dari berbagai pandangan urgensi asbab an-Nuzul di atas, bahwa mengetahui serta memahami asbab an-Nuzul adalah suatu niscaya dan mendasar dalam penafsiran terhadap al-Qur’an. Karena, tidak jarang dijumpai ayat-ayat al-Qur’an yang dilalah lahiriah (petunjuk normatif-tekstualnya) tidak sesuai dengan sasaran (realitas-kontekstual) yang ingin dituju oleh ayat itu sendiri. Hal ini hanya dapat dipahami secara tepat ketika mufassir menggunakan perangkat asbab an-Nuzul sebagai alat bantu dalam penafsirannya.

Muhammad Rizki Mubarrok Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya