Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Inspirasi Berkarya Bisa Dikategorikan sebagai Ilham

2 min read

Saat Sapardi menciptakan puisi legendaris Aku Ingin yang konon hanya ditulis sekitar lima belas menit itu, apakah ia tiba-tiba dapat bisikan dalam hatinya, atau itu hasil eksplorasinya atas berbagai puisi dan peristiwa-peristiwa cinta yang dialaminya?

Pertanyaan sejenis bisa diajukan pada semua proses karya, kepada Bung Karno saat merumuskan marhaenisme, nasakom, atau mencetuskan Pancasila; kepada Sunan Kalijaga saat menciptakan Lir-Ilir atau lakon pewayangan; kepada Newton saat tak sengaja kejatuhan apel yang membuatnya berpikir serius soal teori gravitasi; atau kepadamu sendiri saat mencoba mengerjakan tugas kuliah dari dosen, misalnya.

Bisikan pada jiwa dan hati sendiri dalam Islam disebut ilham. Saat membaca literatur kitab kuning mengenai ilham, penulis kemudian mengeksplorasi tentang siapa yang “diberikan” ilham: kepada siapapun atau hanya orang-orang tertentu? Kalau ilham bisa ditujukan pada siapapun, apakah ide berkarya seniman atau intelektual seperti contoh-contoh di atas, yang biasa disebut inspirasi, bisa disebut ilham? Pertanyaan itu yang coba diulas dalam tulisan ini.

Ilham Rohmani dan Ilham Syaithoni

Ilham dalam bahasa Arab, tidak jauh beda maknanya dengan pengertian dalam bahasa Indonesia, yaitu bisikan dalam hati. Hanya saja, ulama’ mengartikan ilham sebagai bisikan yang umum bagi orang-orang mukmin yang fikiranya mendapatkan ilham dari Allah, dimana outputnya adalah keimanan pada-Nya (Madarij as-Salikin). Lawan ilham dalam pengertian ini adalah waswas, yakni bisikan hati yang membuat ragu untuk beribadah dan mengimani-Nya (al-‘Aqlu wa al-Hawa). Berdasar pengertian ini, ilham berarti kaitanya dengan keimanan seseorang, yang berarti hanya ditujukan untuk orang-orang beriman dan outputnya pun terbatas pada akidah seseorang tentang Tuhan.

Sementara itu dalam literature lain, ulama’ mengklasifikasikan ilham pada dua kategori, yaitu ilham rohmani dan ilham syaithoni. Ilham rohmani diartikan sebagai bisikan hati yang membuahkan pada ibadah dan taat pada Allah, sementara ilham syaithoni diartikan sebagai bisikan hati yang membuahkan sikap menentang wahyu dan meninggalkan ibadah pada-Nya (Ma’alim ath-Thariq ila Allah). Klasifikasi ini berarti mengartikan ilham tidak hanya khusus pada orang beriman, tapi pada manusia secara umum yang outputnya tidak hanya keimanan, tapi juga bisa jadi berupa kekufuran, yakni yang dihasilkan dari ilham syaithoni.

Pengaruh ilham pada diri manusia sendiri mencakup pada tiga hal, yaitu ilmu, amal dan keinginannya. Misalnya, seorang santri kesulitan belajar tentang beberapa hal terkait sistem keuangan modern ditinjau dari fikih Islam, ia kemudian membaca lagi dan mendapat pemahaman mengenai kesulitan itu, berarti ia sedang mendapat ilham yang mempengaruhi ilmunya.

Baca Juga  Membumi Saat Pandemi: Menengok kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 1]

Selama ia tidak mencoba menggugat syariat dengan melihat keilmuan modern lebih maju dan melihat hukum ekonomi syariat tidak diperlukan lagi, berarti ia sedang mendapat ilham rohmani, karena sedang mencoba menghidupkan syariat Allah. Sebaliknya, bila pemahaman itu membuatnya percaya demikian, berarti ia mendapat ilham syaithoni. Begitu juga terkait dengan pengaruh ilham pada perbuatan dan keinginan seseorang.

Ilham sendiri menurut Imam Ghazali, bisa menjadi salah satu jalan dapat dihasilkanya ilmu sholih, yakni dalam kategori kasyf dan musyahadah, bukan kategori ta’allum. Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya ruh kudus membisiki jiwaku.” Jadi dalam hal ini, ilham bisa menjadi jalan tersingkapnya hal-hal ghaib. Hanya saja Imam Ghazali menggarisbawahi, bahwa hal ini biasanya terjadi pada kalangan sufi. Selain bisikan, ilham yang menjadi jalan kasyf bisa berupa sesuatu yang muncul dari hati yang menghilangkan penghalang untuk melihat hal-hal ghaib. Cara mengasah hati agar bisa mudah merangsang ilham yaitu berusaha mensucikan hati dan meninggalkan ketergantungan pada apapun yang membuat sulit penerimaan Allah (Ihya’ Ulum ad-Din).

Ilham dan Inspirasi Berkarya

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan, bahwa ilham adalah bisikan hati yang bisa menimpa manusia secara umum. Ilham bisa mempengaruhi pengetahuan, tindakan dan keinginan manusia. Namun, ada ilham rohmani yang mengarah pada keimanan dan beribadah pada Allah, ada pula ilham syaithoni yang mengarah pada kekufuran dan bermaksiat pada Allah. Ilham rohmani itu kemudian secara khusus ada yang ditujukan pada kalangan sufi sebagai jalan kasy dan musyahadah. Agar hati bisa mudah terangsang ilham rohmani, bisa mengikuti cara sufi, yaitu dengan mensucikan hati dan meninggalkan ketergantungan pada apapun yang membuat jauh dari Allah.

Baca Juga  Lembaga Pendidikan sebagai Sarana Cuci Otak?

Karena itu, inspirasi berkarya menurut hemat penulis bisa dikategorikan sebagai ilham. Kalau misalnya ide untuk berkarya tidak sepenuhnya datang dari diri sendiri, akan tetapi datang dari hasil eksplorasi pada karya-karya sebelumnya atau pengalaman-pengalaman lainya, minimal ada ilham yang membuatnya berkeinginan dan bertindak dalam berkarya.

Setelah karya lahir, barulah bisa dilihat apakah ilham yang membidaninya berasal dari ilham rohmani atau syaithoni. Kalau pondasi pikiran, niat dan eksekusinya sesuai dengan pilar-pilar yang digariskan syariat, berarti masuk dalam berkarya dari ilham rohmani. Kalau sebaliknya, berarti masuk karya hasil ilham syaithoni. Setiap orang kemudian mesti berusaha untuk membuat hatinya mudah merangsang ilham rohmani dengan mensucikan hati dan meninggalkan ketergantungan dengan hal yang membuat bermaksiat pada Allah. Wallahu a’lam bish showab.

Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga