Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.

Mati Ketawa Cara Wahabi

2 min read

Pak AR Fakhrudin pernah ditanya : ‘Bolehkah sebelum shalat baca usholi ? Beliau menjawab jenaka : ‘boleh, ‘pencak-kan’ dulu juga boleh’.

Masih tentang Pak AR Fakhrudin Ketua PP MUHAMMADIYAH yang sangat fenomenal ini, ketika Buya Syafi’i Maarif dalam sebuah pidato berkelakar : Pak AR ini kok banyak merokok yaaa ? Pak AR juga menjawab jenaka tanpa ekspresi marah atau tersinggung : ‘saya nggak banyak kok, cuman satu-satu.

Gus Dur juga pernah berkisah tentang Pak AR ini. Gus Dur pernah bertutur bahwa orang Muhammadiyah ini (Pak Abdul Rozaq Fakhrudin) pernah membuat ratusan orang NU menjadi Muhammadiyah dalam satu malam. Ketika pak AR ‘salah kamar’ masuk masjid NU dan didaulat menjadi imam shalat Taraweh.

Pernah juga Pak AR berpesan kepada Mendikbud Prof Yahya Muhaimin agar tidak ‘kenceng-kenceng’ dalam mengurus Muhammadiyah. Bukannya tak boleh serius, apalagi tak sungguh-sungguh, kadang kita perlu ketawa sedikit, agar tak spaneng, semacam kehilangan urat ketawa berganti serius amat, hingga lupa tertawa.

Tapi benarkah orang Wahabi kehilangan urat tertawa ? Wayang kulit haram, piara ikan koi, piara burung, musik, perayaan maulid, mancing, pakai sarung, dan tak boleh makan gorengan, haram ifthar dengan kolak pisang atau ketela, berorganisasi juga bid’ah, karena semua tak ada uswah dari Nabi SAW dan dalil,

Tak perlu pula di fikiran tentang fatwa dua ulama panutan Wahabi: Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin yang menyebut bahwa Tuhan berserupa dengan Adam, punya muka, tangan, kaki, dan tinggi 60 hasta atau sekitaran 30 meter.  Majmu Fatawa Al Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dar Al Alfa fatwa No: 2331 hal. 368

Tak perlu ditanggapi serius, senyumin saja. Ketika ada seorang Wahabi menyebut bahwa wayang kulit itu haram, Prof Abdul Mukti buru-buru menimpali bahwa wayang kulit adalah media dakwah yang efektif dan merakyat. Tertawa adalah kebutuhan sebagian besar umat. Para umat sudah lelah, butuh rehat, syukur bisa tertawa meski sejenak. Artinya tak perlu nunggu di surga untuk bisa tertawa lepas.

Baca Juga  Perkawinan Beda Agama dalam Perspektif HAM

Beragama dengan amat tegang alias spaneng pasti bikin pikiran lelah, sebab semua dianggap musuh dan beban, tak ada yang benar, semua salah dan harus diluruskan. Tak ada rileksasi meski sedikit, yang ada cuman boleh dan tidak boleh , hitam atau putih, tak ada kompromi, tapi benarkah Tuhan tak bisa ditawar ?

Tapi Abu Nawas pernah menawar Tuhan dengan jenaka ia berkata : ‘Tuhan aku tak pantas masuk surga tapi aku tak kuat masuk neraka’. Tak perlu marah dan baper dengan kenakalan Abu Nawas itu, lantas menghukumi dengan sesat, syirik atau lainya.

Apapun ditanggapi serius termasuk ketika ada yang bilang bahwa: Tuhan bukan orang Arab, China, Menadho, apalagi orang Minang atau Latin?. Bukankah memang Tuhan tidak bisa diserupakan dengan makhluk ciptaan. Jadi apa ada yang salah dengan pernyataan bahwa: Tuhan bukan orang Arab?

Jadi Khalifah Harun al Rasyid pun pernah dibikin geragapan ketika hendak ngerjain Abu Nawas : ‘Aku ingin BAB di masjidmu’ kata nya lugas. Tapi Abu Nawas tak kalah tangkas dan tak tersinggung marah, apalagi menganggapnya penistaan agama ketika sang khalifah ingin bab di masjidnya, Abu Nawas menjawab ringan : ‘Duli Tuanku ., ., silakan BAB asal jangan buang air kecil’. Sang khalifah mengurungkan niat BAB di Masjid nya Abu Nawas, sebab hanya orang yang hendak mati saja, yang BAB nggak pakai buang air kecil.

Jadi bolehkah bersalaman atau berdoa usai salam setelah shalat ? Boleh sangat boleh jawabku. Habis shalat buang angin juga boleh, buka gadget juga boleh, ngopi juga sangat boleh dan tak perlu dalil dan contoh dari Nabi saw dan Salafus Saleh untuk buka gadget, ngopi dan buang angin habis salam usai sholat . Wahabi garis bahagia

Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.