Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.

Membincang Peluang Tumbuhnya Ideologi Antirezim di Muhammadiyah

1 min read

Muhammadiyah di awal berdiri adalah organisasi koperatif bukan non-koperatif. Pikiran antirezim bukan tradisi, karena tidak bersanad. Demikian para sejarawan semisal Prof. Taufiq Abdullah, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, dan lainnya menyebut.

Sebab itu Kiai Dahlan sang pendiri mengambil jalan damai, semacam kemitraan dengan kompeni Belanda sebagai pilihan. Kiai Dahlan juga mengambil subsidi untuk operasional sekolah yang dikelolanya. Silakan saja dilihat manuskripnya—meski tradisi Muhammadiyah tak suka melihat sejarah para pendirinya karena takut dibilang riya dan kultus.

Pergerakan Muhammadiyah adalah sejarah pergerakan kaum menengah atau abdi dalem keraton di pusat kekuasaan Jawa. Kiai Dahlan adalah putra penghulu keraton. Orang istana. Dekat dengan kekuasaan dan raja-raja Jawa. Jangan lupakan itu. Jadi tak heran bila corak gerakannya bernuansa kosmopolit masyarakat menengah priyayi Jawa. Bukan ‘pesantren’ simbol Islam tradisional yang dibangun, tapi universitas, boarding, klinik dan panti asuhan yang kental aroma selera kompeni yang jadi pilihan amal—sebagai suara atau simbol modernisasi.

Kiai Dahlan adalah ulama waskita atau futuristik yang pintar membaca tanda-tanda zaman. Beliau punya selera kompeni, ingin umat Islam punya sekolah, boarding, klinik hingga universitas seperti orang Eropa. Baginya, orang Islam harus bercelana, pakai jas, vantovel atau pentalon seperti meneer Belanda. Orang Islam harus maju tak boleh jumud. Alquran tak cukup dihafal tapi harus diamalkan. Tak urung gagasannya ini dilawan banyak orang bahkan dikafirkan karena dianggap tasyabbuh.

Sejauh mata memandang, maka Muhammadiyah adalah gerakan yang eksotik, lincah dan kenyal—sebab yang ditawarkan adalah mengubah pikiran, mainstream atau paradigma—bukan perang atau jihad angkat senjata atau teriak teriak di pinggir jalan sambil mengucap takbir.

Pikiran Kiai Dahlan punya daya tarik kuat karena banyak memberi inovasi pemoderenan dan moderasi yang banyak menginspirasi. Prof Nakamura memberi catatan khusus tentang matahari terbit di atas pohon beringin yang banyak di apresiasi karena faktual menggambarkan sejarah pergerakan Islam modern di Kotagedhe ini.

Baca Juga  Dedikasi Perempuan dalam Membangun Peradaban

Pun dengan pergerakan yang dipilih bukan oposisi sebab Kiai Dahlan dekat keraton, orang istana yang ada di lingkaran kekuasaan—Kiai Dahlan adalah representasi Islam menengah atas yang peduli—sebut Dr. Alfian dalam risetnya yang menarik, Kiai Dahlan adalah bagian masyarakat kelas mapan yang gelisah karena peduli. Bukan politik kekuasaan yang dipilih tapi gerakan kultural kelas menengah atas. Bukan marjinalisasi apalagi eksklusivitas tapi inklusif dan toleran.

Substansi gerakannya ingin menyibak tesis Syaikh Muhammad Abduh tentang al-Islām mahjūb bi al-muslimīn—Kiai Dahlan melakukan purifikasi dan modernisasi dalam kesatuan ihwal yang melahirkan Islam moderat atau wasath.

Sejak kapan tiba-tiba Muhammadiyah menjadi oposan anti-kekuasaan, anti-rezim dan berdiri berhadapan dengan penguasa, sementara sisi lain juga menerima subsidi dan segala bantuan dari pemerintah?

Lantas bagaimana jihad dan nahy munkar dimaknai menurut perspektif Kiai Dahlan—pada perspektif modernisasi dan purifikasi yang ditawar Kiai Dahlan, maka domain jihad dan nahy munkar mengalami pemaknaan yang inklusif—mengedepankan maslahat dan pemodernan setelah dilakukan kontekstuasi maksimal.

Jadi inilah tafsir priyayi tentang jihad dan nahy munkar itu: Membangun sekolah adalah jihad melawan kebodohan. Rumah sakit adalah jihad melawan perdukunan dan kemusyrikan. Lazis dan bait amal adalah jihad melawan kemiskinan. Masjid dan musala adalah jihad melawan bid’ah. Nahy munkar ala priyayi, semuanya pakai modal. Inilah perspektif nahy munkar yang telah dilakukan dengan capaian yang luar biasa. [MZ]

Ust. Nurbani Yusuf Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.