Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang

Memaknai Bucin di Bulan Penuh Cinta dari BTS

2 min read

www.ctvnews.ca

Budaya populer atau budaya pop mampu menghipnotis pecintanya. Kepopuleran dari budaya pop membawa dia dari bukan siapa-siapa hingga menjadi public figure, dengan kreatifitasnya menjadikan mereka mega bintang. Ditengah arus informasi yang berkembang dengan dinamis, kepopuleran mereka juga didukung dengan media komunikasi yang memiliki power dalam penyebaran budaya pop.

Penyebaran Hallyu/ korean wave diberbagai negara secara global menandakan fenomena K-pop, memiliki penikmat yang tak sedikit. Selain drama korea (drakor), musik Korea Selatan BTS juga dilirik pasar Internasional. Asumsi BTS sebagai Behind The scene atau Behind The Story, padahal BTS sebagai ekspresi korea “Bangtan Sonyeon dan yang memiliki arti  ‘anak-anak pramuka yang tahan banting’.

Boys band ini mengajak para anak muda tumbuh melampaui titik maksimal, menghadapi segala realitas, dan harus maju kedepan. Boys Band yang digawangi Jin, Suga, J-Hope, V. Jungkook, Jimin dan RM memulai singlenya pada 13 Juni 2013. Bahkan menembus chart Bill board Amerika Serikat. Mampu mengguncang musik dunia, dengan mengkombinasikan rap, pop, elektronik dan R&B.

Kepanatikan penggemar kepada idola menjadikannya dilanda budak cinta alias bucin. Mulai dari mengkoleksi foto-foto guna ditempel di kamar, stalking idolnya, berburu album demi photo card idola. Bisa berburu dan memiliki barang –barang yang ada gambar idol tentu menjadi kebanggaan bagi bucin, sekalipun tak menghiraukan berapa rupiah yang harus dikeluarkan.

Kebucinan terhadap K-Pop, juga membut KPopers dilanda hallu. Apalagi dibulan Februari, dimana dijuluki bulan penuh cinta. Cinta bukan hanya dengan pasangan saja. Namun juga bucin dengan idolnya. Terlepas di kondisi Pandemi saat ini, bucin juga hallu untuk menunggu konser hingga fan meating, meskipun dilakukan daring, tentu bak mengobati kebucinannya. Berharap bisa dapat giveaway, ataupun membeli marchndise untuk dijadikan koleksi bak harta karun.

Baca Juga  Sikap Mulia Rasulullah saat Beliau Dihina

Mereka yang bucin, terhadap Idolnya bukan tanpa alasan. Selain kekompakan personil, ketampanan, hingga kreatifitas. Prestasi yang unggul, membuat Idol dikagumi. Dengan prestasi BTS yang mampu meraih sertifikasi Double Platinum untuk triple-A side single yang terjual 500.000 eksemplar hingga di tangga lagu Oricon. Hingga masuk sebagai figur dalam 100 nominasi figur yang memiliki pengaruh luas versi majalah TIME.

Sederet prestasi yang luar biasa, membuat Kpopers berdecak kagum, memberika spirit untuk terus melakukan suatu karya, yang memiliki kemanfaatan. Kebucinan tersebut setidaknya mendorong diri mendapatkan virus kebajikan, untuk berbuat lebih baik, sebagaimana yang idolnya lakukan.

Seperti RM yang rajin membaca buku, menjadikan penggemar kutu buku, yang tentu memiliki manfaat untuk dirinya sendiri, wawasan bertambah. Suatu hal kecil, hal baik yang Idol lakukan, bila diikuti followernya akan menjadikan suatu kebaikan yang terus dilakukan dan memiliki dampak positif pula.

Meskipun bucin selalu dipandang negatif oleh sebagian orang, mari jangan memukul rata, dan mengikuti hatters. Eitts… tak selamanya seperti itu. Di bulan penuh cinta ini mari kita maknai kebucinan untuk menjadikan kita mampu mencapai suatu goal oriented. Dilanda bucin membuat penggemar ‘belajar’ sehingga termotivasi belajar bahasa asing.

Melalui tontonan berbahasa asing, akan menambah perbendaharaan kata. Perbendahaaran kata asing yang banyak justru membantu kita dalam banyak hal dan berdampak positif. Bahkan membuka  kesempatan untuk bisa mengikuti student exchange, mencari beasiswa luar negeri, conference internasional dan sebagainya.

Kesuksesan BTS menjadikan fandom membuka motivasi besar. Untuk bercita-cita menginjakkan kaki di negeri Gingseng bertemu Idolnya, sehingga menjadikannnya lebih bijak dalam hal menabung. Atau menanbung sekedar untuk memuaskan diri sebagai wujud mencintai diri, bila suatu saat saat ada konser maupun penawaran marchndise mampu membelinya, tanpa merisaukan keuangan.

Baca Juga  Efektivitas Edaran Covid-19

Kebucinan juga membuka diri untuk mengenal dunia luar menjalin relasi sesama fandom BTS , tumbuh menjadi pribadi yang mandiri karena menemukan teman yang sefrekuensi, satu pimikiran terhadap idolnya. Jangan menghardik Bucin dengan suatu hal yang negatif, karena sesuatu selalu memiliki dua sisi. Belajar dari personil BTS mengajarkan kita pada banyak hal.

Melalui Jin belajar mengakui kelemahan diri, namun juga menunjukkan passion yang dimiliki. Suga, kegigihan, profesionalitas dalam menampilkan yang terbaik, sehingga penggemar menyelami pemikiran Suga yang sangat komplek ini.

RM, dikenal yang paling pintar diantara personil yang lainnya, hal ini tidak terlepas dari hobi, sehingga dia disebut paling bijak. Dari RM kita meneladani bahwa kritikan itu perlu, sebagai tanda cinta untuk membangun diri lebih kokoh. Jimin, mendapat julukan ‘The Angel of BTS’. Sosoknya mengajak penggemar untuk menjadi pribadi yang memiliki ketulusan dan kesetiakawanan.

Jungkook, bahwa hal yang tak bisa dilakukan dan mau belajar akan bisa, seperti dirinya mengakui tak bisa berbahasa Inggris, dan karena belajar bahasa Inggrisnya kian hari kian membaik. J-Hope, bahwa raihan prestasi terdapat kerikil yang harus dilalui untuk menuju gerbang.

Dengan semangat yang tinggi maka akan menuju pada gerbang yang diinginkan. Terakhir V, dia mendapat julukan ‘social butterfly’. Melalui sosoknya mengajarkan penggemar untuk menjadi pribadi yang peka dengan lingkungan, mampu berkomunikasi dengan baik, serta cepat beradaptasi dengan hal baru.

Melalui Idol, Kpopers dapat  mengambil hal baik untuk diterapkan pada diri sendiri maupun menularkan ‘hal baik’ ke orang lain supaya kebaikan akan mengalir. Mari ambil kisah dari para Idol dalam menularkan energi baik, sehingga menjadikan kita manusia yang mampu berfikir, bersifap dengan berbagai sudut pandang.

Baca Juga  Saya Bangga Menjadi Dosen PTKI Kala Ujian Menerpa
Priska Nur Safitri
Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang