Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [2]

1 min read

Source: synaoo.com

Lanjutan dari Artikel Sebelumnya [Klik Di Sini]

(2)

Si kidang umbagipun | Angendelke kebat lumpatipun | Pan si gajah ngandelake gung anginggil | Ula ngandelaken iku | Mandine kalamun nyakot. Iku umpamanipun | Aja ngandelken sira iku | Suteng Nata iya sapa ingkang wani | Iku ambeke wong di-gung | Ing wasana dadi asor. Adi-guna punika | Ngandelaken kepinteranipun | Samubarang kabisan dipun dheweki | Sapa pinter kaya ingsun | Tong-ing prana nora encoh.

Ambek adi-gang iku | Anugasaken kasuranipun | Para tantang cendhala anyenyampahi | Tinemanan nora – nora enjuh | Satemah dadi geguyon. Ing wong urip puniku | Aja nganngo ambek kang tetelu | Anganggowa rereh ririh ngati-ati | Den-kawangwang barang laku | Den-waskitha solahing wong. Dene tetelu iku | Si kidang suka ing patinipun | Pan si gajah lena ing patinireki | Si ula ing patinipun | Ngandelaken upase mandos.

Dalam bait kelima sampai sepuluh saling berkesinambungan dijelaskan bahwasanya ketiga sifat tersebut adalah sifat sombong yang tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Dalam hal kesombongan ini, si kijang sangat sombong dengan tabiat larinya yang kencang, si gajah dengan postur tubuhnya sedangkan ular dengan bisanya. Maka dari itu ketika seseorang menyombongkan dengan apa yang mereka miliki, mereka akan mati dengan sendirinya. Ini dijelaskan dalam surah al-Zumar ayat 60 yang berbunyi:

                                                وَيَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ تَرَى الَّذِيۡنَ كَذَبُوۡا عَلَى اللّٰهِ وُجُوۡهُهُمۡ مُّسۡوَدَّةٌ ؕ اَلَيۡسَ فِىۡ جَهَنَّمَ مَثۡوًى لِّلۡمُتَكَبِّرِيۡن

 “Dan pada hari kiamat, kalian akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah yakni mereka mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu terdapat orang-orang yang menyombongkan diri.” (Q.S. al-Zumar: 60)

Bahkan sekaliber putra raja tidak boleh sedikitpun menyombongkan drinya karna sifat sombong akan menghacurkan segalanya, Manusia tidak boleh memiliki rasa sombong sedikitpun, watak adiguna yang digambarkan dengan permisalan sebuah kijang sebenarnya adalah watak seorang manusia dengan kepandaiannya. Sepandai apapun manusia janganlah sampai menyombongkan dirinya, seakan-akan dia yang paling pandai di alam jagat ini.

Baca Juga  Syekh Yusuf al-Makassari dan Jaringan Tarekat Syattariyah di Nusantara

Berikutnya tentang Adigung, di sini manusia tidak boleh sombong dengan sifat adigung, yakni dengan keperkasaanya dan keberaniannya. Di sini sifat adigung jangan dipakai sekalipun kamu ditantang oleh orang lain lebih baik mengalah dan ditertawakan. Namun mengalah bukan berarti kalah dalam Alquran dijelaskan:

                                                            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Q.S. Ali Imrān [3]: 200)

Dalam ayat ini dijelaskan walaupun kamu memiliki kekuatan yang besar kamu tidak boleh sombong dan bahkan ketika kamu ditantang harus bersabar dan mengalah meskipun nantinya di caci maki dan ditertawakan, karna ketika kamu sombong dengan kekuatanmu kamu akan hancur sendiri. Pengertian yang sepenuhnya mengenai kata sabar di sini dapat berarti: sabar, tabah, teguh, menahan diri, pantang menyerah pada ancaman. Sifat-sifat yang baik itu akan menjadi ujian buat kita terhadap orang lain.

Masalah kaitanya dengan kehidupan seseorang janganlah memakai ketiga sifat itu tadi, selalu bersabar, bersikap hati-hati dan cermatilah prilaku orang lain agar dirimu selamat nantinya. Dari ketiga tabiat tadi itu semuanya akan mati dan mebunuh dirimu sendiri. Maka dalam bait ini memberikan pituah kepada kita agar menghindari sifat sombong karena sifat semacam demikian itu akan menghancurkan kita.

Ketika serat ini dibawa untuk konteks sekarang sangat tepat dengan kondisi manusia modern saat ini. Manusia modern adalah manusia yang paling sombong dengan segala pencapainnya terutama ketika berbicara masalah sains. Mereka selalu ujub dengan penemuan mereka bahkan mereka meninggal nilai-nilai adiluhung yang diajarakan oleh agama. Seharusnya kecerdasan mereka harus diimbangi dengan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para pendahulu mereka contohnya PB IV dan serat ini. [MZ]

Baca Juga  [Review Buku] Sains dan Agama Sama-Sama Jalan Mencari Kebenaran

-Bersambung-

Klik di Sini

Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta