Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [1]

2 min read

Source: synaoo.com

Ajaran agama Islam yang ada di dalam Alquran dan Sunnah Nabi disampaikan kepada masyarakat Muslim dengan cara dan metode yang berbeda-beda dengan menyesuaikan kondisi sosial masyarakat dan kebudayaan setempat. Para pendakwah Islam di Jawa baik itu para wali atau para raja Jawa Islam menyampaikan ajaran Islam dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui literasi (serat).

Serat Wulangreh misalnya, serat yang ditulis oleh Pakubuwana IV [PB IV] ini dijadikan sebagai media berdakwah sang raja untuk menyampaikan ajaran agama Islam terutama yang ada dalam pupuh Gambuh. Pupuh Gambuh terdiri dari tujuh belas bait, dimana pupuh ini berisi ajaran-ajaran atau nasehat periahal perilau-perilaku atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia seperti perbuatan yang berlebihan, tidak jujur, sombong, suka berbohong, takabur dan lain sebagainya.

(1)

Sekar gambuh ping catur | Kang cinatur polah kang kelantur | Tanpa tutur katula – tula katali | Kadalu warsa katutuh | Kapatuh pan dadi ewoh.

Pada bait yang pertama dijelaskan masalah perilaku yang tidak teratur, tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, serta tidak mau belajar kepada orang lain. Ketika hal ini diterapkan secara terus menerus kepada diri kita lama kelamaan perilaku ini akan menjadi buruk bagi diri kita sendiri. Segala perilaku yang kita kerjakan maka itu semua akan kembali pada diri kita sekecil apapun perilaku itu.

Ketika ditarik dalam ajaran Islam bait ini mengajarkan bahwasanya nasihat orang lain itu penting, sekalipun yang menasehati diri kita usianya lebih muda. Ambilah nasihat yang baik-baik dan tinggalkan perilaku yang buruk karena nasihat yang baik akan membawa kita menjadi orang yang baik begitu juga dengan sebaliknya. Bahkan Tuhan menciptakan kita dua telingan dan satu mulut yang artinya kita diharuskan lebih banyak mendengar bukan berbicara.

Aja nganti kabanjur | Sabarang polah kang nora jujur | Yen kabanjur sayekti kojur tan becik | Becik ngupaya iku | Ing pitutur ingkan yektos.

Pada bait kedua dijelaskan perilaku kādzib (suka berbohong) dan perilaku itu suruh dihindari. PB IV dengan piwulangnya ingin menyampaikan sifat Rasul yang pertama yakni siddīq. Bagi ummat Islam jujur itu mutiara yang paling berharga dan tidak bisa dibeli degan apa pun. Sedangkan lawan kata dari siddīq adalah kādzib atau berbohong, Islam sangat melarang perilaku berbohong karna sudah pasti orang tidak jujur atau suka berbohong nantinya akan celaka. Ini juga diterangkan dalam Alquran surah al-Nahl ayat 105 Allah berfirman:

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (20): Gerakan Tarbiyah di Jambi, Dari Halaqah Masjid Ke Bisnis Pendidikan Ideologis

إنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan ialah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka adalah orang yang pendusta.” (Q.S al-Nahl: 105)

Ketika melihat bait kedua ini, perilaku suka berbohong tidak disukai oleh siapa pun dan itu tergolong sebagai seorang pendusta, maka dari itu jadilah orang yang jujur karena kejujuran diibaratkan sebagai mata uang yang berlaku di mana-mana. Hikmahnya, sifat jujur menjadikan cahaya hidup dalam diri kita yang mana ketika sifat jujur itu ditempatkan di manapun itu akan menjadi jalan penerang bagi kita begitu juga dengan sebaliknya.

Pitutur bener iku | Sayekti iku pantese tinurut | Nadyan metu saking ing sudra paperki | Lamun becik nggene muruk | Iku pantes sira anggo.

Pada bait ketiga dijelaskan untuk belajar. Terutama belajar ilmu pengetahuan. Belajar itu kepada siapa saja, di mana saja, walaupun yang memberikan pengetahuan lebih muda dari kita ataupun derajatnya lebih rendah. Namun ketika itu baik maka harus didengarkan, diresapi dan dilaksanankan karena pada hakikatnya nasihat itu tidak melihat datangnya dari siapa dan derajatnya bagaimana, tapi seperti apa esensi dari nasihat atau ajaran yang dikasihkan.

Bait ini sebuah nesihat bagi manusia modern yang lebih bersifat egosentrisme, yang tidak mau belajar dari orang yang lebih muda ataupun yang lebih rendah derajatnya, karena manusia modern (sebagian) hanya melihat secara fisik saja atau kedudukan saja tapi tidak mau melihat esensinya yang disampaikan. Orang yang demikian adanya sudah lupa terhadap hakikatnya dirinya, karena mereka hanya maujud dari wujud yang hakiki.

Ana pocapanipun | Adi-guna adi-gang adi-gung | Kang adi-gang kidang adi-gung pan esthi | Adi-guna ula iku | Telu pisan mati sampyoh.

Ada sebuah kiasan adiguna, adigang dan adigung. Ketiga ajaran ini tidak baik untuk diikuti karena sifatnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai adiluhung. Adigang dikiaskan sebagai kidang, adigung dikiaskan sebagai gajah dan adiguna dikiaskan sebagai ular. Pengkiasan ini sesuai dengan ajaran yang ada di dalam kata tersebut yang sesuai dengan perilaku yang dimiliki sifat-sifat hewan itu tadi. Hewan adalah ciptakan Tuhan yang memiliki derajat yang rendah dibandingkan dengan manusia. PB IV mengkiaskan itu tadi agar manusia mengindari sifat-sifat yang dimiliki oleh hewan karena manusia derjatnya lebih tinggi. [MZ]

Baca Juga  Benarkah Masjid Tempat Selamat dari Penularan Covid-19? [Bagian 2]

-Bersambung-

Klik di Sini untuk Melanjutkan

Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta