Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [3]

2 min read

Source: synaoo.com

Lanjutan Dari Artikel Sebelumnya. Klik di Sini

Tetelu nora patut | Yen tiniruwa pan dadi luput | Titikane wong anom kurang wewadi | Bungah akeh wong kang ngunggung | Wekasane kajelomprong.

Dalam bait kesebelas dikatakan bahwa sifat-sifat buruk sebegaimana tersebut sebelumnya jangan ditiru.  Apabila ditiru akan berakibat buruk nantinya. Dalam bait ini dijelaskan ciri-ciri pemuda yang memiliki sifat ujub dan takabur. Di antaranya tidak dapat menyimpan rahasia, suka dengan sanjungan. Dalam Islam, ciri orang yang baik salah satunya memilik sifat amānah atau dapat dipercaya, biasanya pemuda sekarang jarang sekali bisa meyimpan rahasia baik rahasia orang lain, ataupun rahasia dirinya sendiri.

Pitutuh luhur ini ditujukan untuk generasi muda yang akan menggantikan generasi tua. Untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan sifat amānah seperti sifat para Rasul yakni dapat dipercaya. Tanpa sifat amānah sulit kiranya dia akan menjadi pemimpin yang baik yang dapat dipercaya oleh pengikutnya.

Adapun ciri yang kedua yakni adalah suka disanjung. Remaja biasanya paling suka dengan sanjungan, maka dari itu Islam mengajarkan kita untuk tawadhu seberapa besar pencapian prestasi kita atau seberapa tinggi kedudukan kita jangan sampai memiliki sifat takabur dan ujub yang suka dengan sanjungan karena pada akhirnya akan menjerumuskan.

Yen wong anom puniku | Pan sapele iku pamrihipun | Mung wareging wadhuk kalimising lathi | Lan telese gondhangipun | Reruba alaning uwong.

Dalam bait berikutnya dijelaskan bahwa jika seorang pemuda banyak sanjungan maka ia akan menjadi pemuda yang tolol, bingung, dan tuli. Serta akan mudah terombang-ambing tidak mempunyai pendirian yang teguh dan ketika sedang dipuji dia akan merasakan seperti di atas udara yang melayang-melayang inilah yang harus dihindari oleh para pemuda biar tidak terjerumus nantinya. Nasihat dalam serat ini sudah benar adanya, benar bagi mereka yang mau mendengarkan, yang mau belajar dari orang-orang terdahulu.

Ing wong kang padha ngunggung | Pan sapele iku pamrihipun | Mung wareging wadhuk kalimising lathi | Lan telese gondhangipun | Reruba alaning uwong.

Dalam bait ketiga belas diterangkan ketika ada orang yang suka menyanjung berarti bisa dikatakan bahwa orang itu ada udang di balik batu. Artinya, apabila seseorang selalu menyanjung orang yang disanjung, maka orang itu ada maksud tertentu. Dalam bait ini jelaskan ketika orang seperti itu biasanya meminta kenyang perutnya, basah lidahnya dengan menjual keburukan orang lain tanpa ada usaha dari dirinya sendiri. Artinya, dia berdiri di atas kaki orang lain dengan menjual keburukan orang lain dan Islam dangat melarang akan hal itu.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (10): Bagaimana Agama Mengkonstruksi Seksualitas Perempuan?

(4)

Amrih pareka iku | Yen wus kanggep nuli gawe umuk | Pan wong akeh sayektine padha wedi/ Tan wurung tampa pisungsung | Adol sanggup sakehing wong. Yen wong mengkono iku | Nora pantes pedhak mring wong agung | Nora wurung anuntun penggawe juti | Nanging ana pantesipun | Wong mangkono didhedheplok.

Dalam bait keempat belas dan lima belas dikatakan dia menggunakan sifat tersebut supaya dekat dengan atasan, setelah dekat dengan atasan ia akan memakai kedudukan itu untuk menakut-nakuti orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang seperti itu tidak pantas untuk dekat dengan para pembesar karena akan membawa keburukan untuk pembesar dan masyarakat sekitar. Namun, masih ada kegunaannya yakni ditumbuk.

(5)

Aja kakehan sanggup | During weruh tuture agupruk | Tutur nempil panganggepe wruh pribadi | Pangrasane keh wong kang nggugu | Kang wus weruh amelengso.

Dalam bait keenam belas dijelaskan seseorang itu jangan terlalu merasa dirinya tahu banyak sebelum tahu dari mata kepalanya sendiri tetapi banyak bicara, bahkan hanya mendengar seolah tahu dari diri sendiri. Dikiranya banyak yang menyanjung padahal keterbalikanya. Artinya dalam bait ini seseorang jangan terlebih dahulu merasa Percaya Diri dulu sebelum dia mengetahui langsung apa yang sebenarnya, tidak hanya mendengar dari orang lain, dan ajaran Islam tidak memperbolehkan kita untuk terlalu percaya diri dalam segala hal.

Aja nganggo sireku | Kalakuwan kang mengkono iku | Nora wurung tinitenan den-cireni | Mring pawong sanak sadulur | Nora nana kang pitados.

Dalam bait terakhir dijelaskan bahwasanya janganlah engkau memiliki sifat yang seperti itu, karena nantinya akan menjadi hal buruk untuk dirimu serta sekelilingmu. Mereka akan mancacat tentang keburukan dirimu. Setelah itu mereka tidak akan dipercaya lagi dengan dirimu karena sedikit keburukan akan menutupi semua hal-hal yang baik pernah kita lakukan.Falsafah Jawa mengatakan Becik ketitik ala ketara.

Nasehat dari Susuhunan PB IV ini perlu kita renungkan bersama. Petuah dan ajarannya sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman bahkan anak-anak muda sekarang (sebagian) sudah tidak mau menilik lagi petuah-petuah yang sangat mujarab ini. Petuah ini dihasilkan dari renungan yang panjang, di mana inti ajaranya diambil dari Alquran dan Sunnah yang dihidangkan melaui tembang Jawa sesuai kondisi sosial masyarakat Jawa. [MZ]

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (12): Menghadirkan Kembali Sinar Kuasa Perempuan
Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta