




Salat Dhuha merupakan salah satu Salat sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah), karena memiliki banyak keutamaan bagi siapa saja yang melaksanakannya. Di antara keutamaan tersebut adalah terbukanya pintu rezeki, hadirnya keberkahan dalam kehidupan, serta menjadi sarana pengampunan dosa.
Karena keutamaannya inilah, kanjeng Nabi saw. sangat menganjurkan umatnya untuk membiasakan diri melaksanakan salat Dhuha, sebagaimana hal itu diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih.
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Setiap pagi, setiap persendian salah seorang di antara kalian wajib bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat diganti dengan dua rakaat Salat Dhuha. (HR. Muslim)
Adapun waktu pelaksanaan Salat Dhuha dimulai dimulai setelah matahari terbit dan naik setinggi tombak, serta berakhir sebelum tergelincirnya matahari (zawal). Sederhananya, sekitar lima belas hingga dua puluh menit setelah matahari terbit dan berakhir sebelum matahari tepat berada di tengah langit atau sebelum masuk waktu zuhur.
Meskipun Salat Dhuha sah dikerjakan di sepanjang rentang waktu tersebut, terdapat waktu yang lebih utama (afdhal) untuk melaksanakannya, yaitu ketika matahari sudah terasa panas.
Dalam pelaksanaannya, Salat Dhuha dikerjakan dengan jumlah minimal 2 rakaat. Salat ini dikerjakan dengan pola 2 rakaat lalu salam, kemudian dapat dilanjutkan 2 rakaat berikutnya sesuai kemampuan. Rasulullah saw. sendiri paling sering melaksanakan Salat Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan pada kesempatan tertentu beliau menambahnya sesuai dengan kehendak dan kondisi beliau.
Adapun doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan salat Dhuha adalah sebagai berikut:
اللّٰهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
Allahumma innad duhaa-a duhaa uka, wal bahaa-a bahaa uka, wal jamaala jamaal uka, wal quwwata quwwat uka, wal qudrata qudrat uka, wal ‘ishmata ‘ishmat uka.
Allahumma in kaana rizqii fis samaa-i fa anzil hu, wa in kaana fil ardhi fa akhrij hu, wa in kaana mu’assaran fa yassir hu, wa in kaana haraaman fa thahhir hu, wa in kaana ba’iidan fa qarrib hu. Bi haqqi duhaa ika wa bahaa ika wa jamaal ika wa quwwat ika wa qudrat ika, aatini maa aataita ‘ibaadakas shaalihiin.
“Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah milik-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku berada di langit maka turunkanlah, jika berada di bumi maka keluarkanlah, jika sulit maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, dan jika jauh maka dekatkanlah. Dengan hak waktu Dhuha-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”