Dari Plato Hingga Aristoteles: Bagaimana Filsafat Yunani Memengaruhi Pemikiran Islam

Beberapa hari yang lalu ada seorang habib yang menyerukan kepada kaum muslim untuk tidak berteman dengan non muslim. Himbauan itu memunculkan pro dan kontra di kalangan umat.

Sebagian kaum muslim ada yang menyetujui sikap yang seperti itu dengan alasan untuk kemurnian dalam beriman dan menjaga agar tidak terpengaruh dengan ajaran agama lain. Sedangkan sebagian lagi melihat bahwa berteman dengan non muslim adalah bentuk menjalin relasi kemanusiaan atau dalam bahasa agamanya adalah hablum minannas. Artinya tidak perlu khawatir berlebihan bahwa pertemanan akan merubah keimanannya.

Sebenarnya, jika saja kita mau untuk menengok warisan pemikiran para filsuf muslim cum ulama’ masa lalu, sikap eksklusif seperti yang diserukan seorang habib tersebut adalah sikap yang tidak ada rujukannya di masa lalu.

Para filsuf cum ulama’ klasik itu hampir tidak ada yang gaya pemikirannya tidak dipengaruhi oleh pikiran-pikiran dari para cerdas cendikia peradaban lain yang tentu saja non muslim. Mereka tidak memiliki sikap eksklusif terhadap kelompok lain. Mereka menyerap unsur-unsur terbaik dari peradaban lain untuk dikembangkan di Islam.

Filsafat Plato dan Ibnu Sina

Kita mulai dari seorang filsuf cum ulama’ yang bernama Ibnu Sina. Sosok yang populer dengan nama Avicena di Barat ini kerap dibangga-banggakan umat muslim sebagai bukti bahwa peradaban Barat itu berhutang budi dengan Islam. Menurutnya, sosok Ibnu Sina ini menjadi pondasi dasar untuk ilmu kedokteran modern yang mula-mula dikembangan oleh orang-orang Barat.

Kebanggan kaum muslim terhadap sosok Ibnu Sina ini biasanya dibarengi dengan seruan untuk cukup bangga dengan tokoh-tokoh muslim saja. Sikap ngefans yang ekslusif ini sebenarnya sangat bertentangan dengan pemikiran Ibnu Sina sendiri yang mereka puja-puja.

Pemikiran Ibnu Sina sangat dipengaruhi oleh filsafat Plato. Plato adalah salah satu filsuf besar dari Yunani Klasik. Plato merupakan murid dari seorang Sokrates, sosok pemikir Yunani yang sangat penting. Plato hidup kisaran 2500 tahun yang lalu.

Plato dan para pemikir Yunani Kuno sangatlah mengagumkan. Pada tahun yang sangat purba itu mereka sudah memiliki sistem berpikir yang bagus dan menuliskan buah pikirannya dalam sebuah buku. Sekali lagi, sungguh luar biasa hal itu dilakukan 2500 tahun yang lalu. Entah apa yang nenek moyang kita lakukan pada tahun-tahun itu.

Ibnu Sina dipengaruhi oleh Plato. Gagasan Ibnu Sina perihal penciptaan alam semesta dengan teori emanasi yang terkenal, merupakan bentuk kaca mata Plato yang digunakan untuk menjelaskan konsep filsafat Islamnya.

Konsep Ibnu Sina yang menyebut alam semesta diciptakan oleh “Sosok Pertama” yang tidak berpenyebab, merupakan khas pemikiran Plato. Sosok pertama menghasilkan sosok yang kedua dan seterusnya. Itu adalah ide-ide Platonik.

Ibnu Rusd dan Filsafat Aristoteles

Sosok lain filsuf muslim cum ulama’ yang cita rasa pemikirannya dipengaruhi alam pikiran Yunani adalah Ibnu Rusd. Sosok ini di dunia Bara dikenal sebagai Averous. Pemikiran filosofisnya dipengaruhi oleh murid Plato, bernama Aristoteles.

Aristoteles adalah filsuf Yunani yang sangat cemerlang. Pemikiran dunia Barat modern  yang berhasil membangkitkan Eropa dari abad kegelapan adalah berkat sumbangsih besar Aristoteles. Pikiran filsuf ini mengilhami pemikir Pencerahan Eropa modern.

Ibnu Rusd sangat ngefans dengan Aristoteles. Ibnu Rusd mulai buku Tahafudz Attahafudz hingga Faslul Maqal, menyinggung bagaimana pemikiran Aristoteles. Melalui karya-karyanya, Ibnu Rusd berusaha meluruskan kekeliruan sitasi yang dilakukan Ibnu Sina dan Al-Farabi yang salah menyebut pikiran Plato sebagai pemikiran Aristoteles.

Sosok Ibnu Rusd dan Ibnu Sina merupakan gambaran bagaimana filsuf muslim cum ulama’ masa lalu sama sekali tidak alergi untuk berjumpa dan menyerap pikiran-pikiran dari peradaban lain. Sikap yang kosmopolit seperti ini belakangan ini sering dikebiri oleh sebagian ulama’ muslim yang kerap menyerukan sikap yang eksklusif. Sebuah sikap yang bertentangan dengan keteladanan ulama’ klasik. Wallahua’lam. (mmsm)

0

Mahasiswa Magister Universitas Ahmad Dahlan

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.