M Fakhru Riza Mahasiswa Magister Universitas Ahmad Dahlan

Islam, Salafisme, dan Tafsir Kemakmuran Masa Lalu

2 min read

Dalam kehidupan beragama kita sehari-hari, tak jarang kisah tentang masa lalu menjadi topik yang kerap dibicarakan dan diajarkan. Dalam Al-Qur’an sendiri kita kerap menjumpai kisah-kisah masa lalu tentang para Nabi. Misalnya dikisahkan tentang bagaimana Nabi Nuh Saw menghadapi bajir besar. Ada pula kisah bagaimana Nabi Yusuf Saw dimasukkan sumur oleh saudara-saudaranya.

Cerita tentang masa lalu yang kerap kita terima dalam kehidupan beragama sama posisinya seperti kisah-kisah fiksi sastra yang diajarkan kepada anak-anak di Barat. Kisah-kisah tentang masa lalu itu tak hanya sekedar hanya sebagai penghias pikiran, tapi juga menjadi bahan imajinasi dan refleksi untuk kita menapaki masa depan.

Salafisme Wahabi dan Dunia Masa Lalu

Perihal bagaimana kisah masa lalu yang berfungsi sebagai titik pijak masa kini sangat tampak pada sekte pengusung Salafisme Wahabi. Kelompok skriptualis itu menggambarkan masa lalu begitu sempurna tidak ada celah sama sekali. Kesempurnaan masa lalu yang mereka bayangkan tersebut berimplikasi kepada bagaimana mereka menjalani masa kini.

Kelompok Salafi ini begitu muram dan pesimis dalam memandang masa kini. Geliat dakwah mereka memiliki tujuan untuk menjadikan dunia masa kini seperti dunia Islam masa lalu seperti yang mereka bayangkan.

Dalam berbagai kesempatan, mereka mengutuk inovasi dan kreatifitas masa kini dengan label “bid’ah.” Menurut mereka, “kullu bid’atin dholalah, kullu dholalatin fi annar”, setiap kebaruan (bid’ah) itu sebuah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya ada di neraka.  Dalil agama mereka gunakan untuk melawan segala bentuk kebaruan.

Sains dan Tafsir tentang Kemakmuran Masa Lalu

Di luar narasi agama perihal masa lalu, ada narasi lain yang diberikan oleh para ilmuwan. Narasi tentang masa lalu yang dikisahkan oleh para ilmuwan ini menarik kita simak sebagai alternatif perspektif kita dalam melihat masa lalu agar tidak terjebak dalam kekakuan dalam berpikir.

Baca Juga  Refleksi 1 Tahun Pandemi (2)

Matt Ridley, penulis buku Optimis Rasional: Evolusi Kemakmuran (2020) menggambarkan tentang proses umat manusia menyelesaikan problem-problem masa lalu. Umat manusia dalam proses sejarahnya telah berhasil menghadapi tantangan seperti wabah, kelaparan, dan perang.

Menurut Ridley, melihat proses bagaimana kita umat manusia telah berhasil menyelesaikan tantangan masa lalu tersebut adalah sebuah kesuksesan besar. Berbeda dengan kaum Salafi yang muram melihat masa kini, Ridley justru melihat masa kini dengan penuh kebersyukuran.

Kesuksesan umat manusia saat ini tidak pernah ada tandingannya di masa lalu. Berbagai wabah telah dikendalikan secara penuh oleh sains kedokteran pada masa kini. Wabah tidak pernah sampai membunuh 90 % populasi sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal umat manusia mendomestifikasi pertanian dan peternakan ribuan tahun yang lalu.

Pada masa kini, produksi pertanian dan peternakan umat manusia mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangan umat manusia sedunia. Tidak pula pernah terjadi sebelumnya, umat manusia dapat berkomunikasi ke seluruh benua secara langsung hanya melalui telepon pintar.

Pada masa lalu tak pernah juga umat manusia dapat berkeliling dunia hanya dalam hitungan jam. Sedangkan pada masa lalu, untuk pergi ke kota tetangga saja membutuhkan waktu perjalanan berhari-hari.

Menurut Ridley, apa yang kita terima saat ini (seperti kemudahan teknologi, kemudahan akses pendidikan, banyaknya sumber pangan, pengendalian penyakit), jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Melihat berbagai kemajuan ini hendaknya kita banyak bersukur dan optimis atas masa depan.

Agama dan Pandangan Optimis tentang Masa Depan

Berbagai fakta yang dibeberkan ilmuwan perihal masa lalu hendaknya membuat kita lebih optimis tentang masa depan. Jangan seperti kaum Salafi yang pesimis tentang masa kini.

Baca Juga  Menolak Pemakaman Jenazah Covid-19

Padahal, melalui berbagai kemudahan teknologi tersebut dapat kita manfaatkan sebagai perangkat beribadah. Tidak pernah terjadi di masa lalu panggilan azan shalat dapat dilakukan melalui TOA, televisi, dan media sosial pada masa kini.

Dengan melihat berbagai kemajuan masa kini, hendaknya kita lebih optimis memandang masa depan. Berbagai kemajuan ini tak bisa dipungkiri ada peran dari agama. Meski secara sarkastis, Yuval Noah Harari melalui buku populernya Sapiens bahwa agama adalah fiksi pengikat dari kehidupan sosial.

Melalui ikatan sosial yang kuat tersebut kemudian teknologi dan segala kemajuan ini dapat kita capai. Melihat berbagai kemajuan ini kita seharusnya lebih optimis dalam menjalani hidup masa kini. (mmsm)

M Fakhru Riza Mahasiswa Magister Universitas Ahmad Dahlan