Rian Vebrianto Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau

Menggapai Lailatul Qadar Melalui Karantina Mandiri

2 min read

sumber: sulawesian.com

Bulan Ramadan adalah penghulu dari segala bulan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Tanpa terasa kita telah melewati sepertiga akhir dan memasuki penghujung Ramadan. Di bulan suci ini ada satu malam bernama malam Lailatul Qadar. Barang siapa yang mendapatinya, ia akan mendapatkan pahala sebanyak 1000 bulan.

Malam Lailatul Qadar merupakan respon atas keresahan Nabi Muhammad atas umatnya yang umurnya tidak panjang, jika dibandingkan umat terdahulu. Allah swt memberi bonus Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan, setara dengan 83 tahun 4 bulan. Dengan demikian, kita harus memiliki keyakinan bahwa selaku umatnya Nabi Muhammad yang tidak maksiat dan beribadah dengan baik, sesuai Alquran dan Sunnah, kita bisa mendapatkan Lailatul Qadar. Hal ini penting kita pahami, sebab Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi: “Wahai hamba-Ku, Aku sesuai persangkaanmu kepada-Ku, dan Aku bersamamu jika engkau ingat kepada-Ku.” (HR. Al-Hakim) Ibnu Hajar ra. Menjelaskan, “Maksudnya, Allah mampu untuk mewujudkan sesuai apa yang dipersangkakan oleh hamba tentang diri-Nya.” (Fathul Bari, 13/385).

Di daerah Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau terkenal dengan sebutan Negeri Seribu Suluk. Di sana banyak surau yang melanjutkan tradisi bersuluk untuk tujuan memperbaiki diri dengan cara mengenal diri. Dalam kamus bahasa, suluk bisa diartikan sebagai “jalan ke arah kesempurnaan batin” dan “pengasingan diri” (khalwat).  Bersuluk adalah kombinasi dari ber-uzlah dan berkhalwat, atau itktikaf dalam istilah fikih. Suluk atau iktikaf ini mirip dengan proses karantina diri dari godaan dunia dan hawa nafsu. Di masa pandemi Covid-19 ini kita diminta untuk melakukan karantina mandiri agar terhindar dari wabah yang membahayakan. Bahkan, tempat ibadah pun sebagian besar ditutup.

Baca Juga  Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Islam

Banyak kisah berkaitan dengan karantina diri yang bisa menjadi acuan bagi. Sebut saja, misalnya, kisah Nabi Yunus yang “dikarantina” di perut ikan, hingga akhirnya mendapati suatu kebaikan ketika umatnya bertaubat, Nabi Yusuf dikarantina di dalam penjara hingga akhirnya keluar menjadi nabi, sementara Nabi Muhammad melakukan “karantina” di Gua Hira selama 40 hari hingga mendapatkan wahyu dan membawa cahaya bagi seluruh alam. Kita kenal juga Buya Hamka dikarantina di dalam penjara hingga menyelesaikan karya monumentalnya, Tafsir Al-azhar.

Lalu, apa hubungannya antara karantina diri secara mandiri dengan proses menggapai lailatul Qadar?

Dalam bersuluk dan beriktikaf, kita mengasingkan diri dari kesibukan dunia untuk lebih mengenal diri dan mengenal Allah. Kita banyak melakukan ibadah, berzikir, membaca Alquran, dan membaca salawat. Bahkan ada yang bersuluk dengan cara membuat tempat tidurnya seperti kuburan, untuk mengingatkan bahwa kematian akan datang.

Di sinilah sejatinya ada perenungan dan refleksi tentang kehidupan sejati. Melalui momen pandemi Covid-19, kita harus bisa mengambil sisi positif sebagai ajang untuk meningkatkan pengetahuan Islam dan iman kita. Secara tidak langsung, adanya pandemic ini menyebabkan kita melaksanakan ibadah di rumah saja, bersama keluarga. Peristiwa ini mengingatkan kita akan lemahnya manusia. Di hadapan Allah, nyawa manusia bisa kapan saja dicabut, dan kita harus siap menghadapinya.

Proses karantina secara mandiri di rumah, melalui ibadah yang baik dan benar, akan mengantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa. Apalagi di bulan Ramadan yang penuh kemulian ini. Kita harus yakin bahwa rahmat Allah luas, sambil berharap bisa menggapai Lailatul Qadar.

Kapan malam Lailatul Qadar terjadi? Jika kita melihat nash dalam QS. Al-Qadar: 1, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan,” kita bisa sepakat bahwa malam Lailatul Qadar malam Nuzulul Qur’an, yaitu malam 17 Ramadan. Namun para ulama juga menyampaikan bahwa Lailatul Qadar terdapat di antara malam-malam ganjil di sepuluh terakhir malam-malam Ramadan.

Baca Juga  Tradisi Ziarah Dari Zaman Nabi Hingga Walisongo

Dengan melakukan karantina mandiri di rumah pada bulan yang sangat mulia ini, kita bisa lakukan ibadah sebanyak-banyaknya bersama keluarga. Karantina mandiri juga bisa meningkatkan keharmonisan rumah tangga dan memunculkan waktu bercengkrama bersama anggota keluarga, untuk menciptakan Bayti Jannati (rumahku surgaku). Lailatul Qadar, yang kita harapkan selalu, adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menggantikan umur umat Nabi Muhammad yang tidak sepanjang umur umat-umat terdahulu. Wallahu a’lam. []

Rian Vebrianto Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *