



Sebelumnya: Aamir Khan dan Sentuhan Poskolonialisme… (1)
Dalam “Lagaan” (Pajak Tanah), Aamir Khan mengajak kita bertamasya ke era tatkala kolonialisme Inggris mencengkeram India. Dia menghadirkan suasana sebuah desa miskin yang penduduknya kompak dan ceria di tengah himpitan upeti yang mencekik. Kebengisan kolonialisme tidak dia hadirkan di layar dengan brutal dan berdarah-darah, melainkan dia sajikan dengan cara yang khas: kemiskinan di sebuah desa yang kering di satu sisi, dengan keglamouran para penjajah di sisi lainnya.
Dengan caranya, Aamir Khan menampilkan kaum subaltern, para petani, yang melakukan perlawanan bukan dengan senjata, melainkan dengan sebuah olahraga. Kriket adalah olahraga yang menjadi alat tawar bagi penduduk desa miskin yang tak tahu bagaimana cara memainkannya, melawan hegemoni Inggris. Jika para petani miskin ini kalah, pajak dinaikkan tiga kali lipat, apabila mereka menang, bebas membayar upeti selama tiga tahun.
Aamir Khan kembali bermanuver dengan mengangkat kisah para petani: kaum subaltern di India, dan tentu saja di Indonesia, melalui “Peepli (Live)” (2010). Kaum penyangga pangan negeri yang justru paling rentan dihajar para mafia. Petani adalah kaum (di)pinggir(k)an dengan beragam problematikanya; bualan pemerintah, jeratan rentenir, mafia pupuk, sindikat yang menghancurkan harga panen, hingga penggusuran tanah semena-mena atas nama pembangunan.
“Peepli” yang diproduseri Aamir Khan bersama istrinya, Kiran Rao, secara satire mengangkat kehidupan para petani miskin India. Natha, petani miskin, dan kawan-kawannya ditipu aparat desa yang membual apabila negara bagian membagi tanah secara cuma-cuma bagi petani yang bunuh diri. Ada juga petani kurus kerontang bernama Hori Mahato yang menjual tanahnya.
Dia bukan menjual tanah dengan cara meteran, hektaran, maupun satuan luas tertentu sebagaimana lazimnya, melainkan benar-benar menggali tanah sempit yang dia miliki, mewadahinya dalam karung, mengangkatnya ke atas sepeda, lalu dengan tubuh cekingnya mengendarai sepeda anginnya. Kemana? Menjual tanah! Ini gambaran kemiskinan dan ketidakberdayaan yang fatal.
Kulit legam, tatapan nanar, tubuh kurus, dan nafas yang terengah saat mencangkul dan mengayuh sepeda, adalah gambaran nestapa seorang petani yang ketika menggali tanah, seolah sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Sebuah satire sarkastik yang diusung oleh Aamir Khan sebagai produser dengan tetap mengandalkan ciri khasnya: komikal dan menonjok, seperti yang diusung dalam “3 Idiots” dan “PK”.
Film-film yang dibintangi, disutradarai maupun digarap oleh Aamir Khan memang tidak seartistik dan seanggun gaya produksi Sanjay Leela Banshali, tidak seglamour produksi Yash Raj Chopra, tidak semeriah film-film yang disutradarai Karan Johar, juga tidak semewah garapan Rohit Shetty. Film-film Aamir Khan masih membumi dengan tetap menampilkan dan (bangga) dengan identitas ke-India-annya seperti cirikhas film-film bikinan Ashutosh Gowariker.
Melalui beberapa film yang dia bintangi, dia sutradarai, dan juga dia produseri bersama istrinya, Kiran Rao, Aamir Khan melakukan (semacam) penyuaraan kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan dan terpinggirkan, maupun tidak didengar jeritannya. Dia tidak melakukan “mimikri”, dalam istilah Homi K. Babha, dengan meniru-niru gaya Hollywood dan kaum Barat dalam tampilan, plot, gaya, hingga setting film.
Dia menghindari apa yang disebut oleh Gayatri Spivak sebagai “The Big Other” (yang lain yang besar), yakni manakala Barat menampilkan diri sebagai obyek hasrat ideal bagi pribumi terjajah. Dalam relasi ini, sang pribumi terjajah tidak pede dengan gambaran dirinya sendiri, tapi butuh gambaran orang lain—sang penjajah—untuk memberikan penilaian “modern”, “maju”, “progresif”, dan “kekinian”.
Dalam relasi ini, banyak film Bollywood akhirnya melangit dan sama sekali terasing dari kenyataan, sebab dunia yang diusung dalam filmnya sama sekali bukan Delhi dengan kesemrawutannya, Mumbai yang kosmopolit namun menyisakan kekumuhan di pinggirannya, maupun Agra yang eksotik. Yang ditemui malah film-film Bollywood yang bersetting New York, London, Amsterdam, hingga Zurich. Ini yang coba dihindari oleh Aamir Khan.
Pada akhirnya, gaya kebarat-baratan seperti film “Kites” (Hrithik Roshan), “Roy” (Arjun Rampal), “Don” dan “Dilwale” (Shah Rukh Khan), nyaris tidak kita temui dalam film yang digarap Aamir Khan selama satu dasawarsa terakhir. Kecuali “Dhoom 3”, Aamir Khan tetap bergerak dalam aras Hindustan beserta kehidupan kesehariannya. Amerika dan Hollywood yang dianggap sebagai rujukan sahih dalam banyak hal, justru dia hindari. Pada titik ini, kita ingat gaya sutradara Abbas Kiarostami yang tetap bangga dengan corak sinematrografi tradisional Iran dan Akira Kurosawa yang mengusung sentuhan teatrikal Kabuki Jepang dalam berbagai karyanya. (mmsm)
Wallahu A’lam Bisshawa
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah Kencong Jember