Naufal Robbiqis Dwi Asta Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Bagaimana Sikap Muslim Menghadapi Era Teknologi?

2 min read

Dewasa ini, perkembangan teknologi dan informasi mewarnai segenap dinamika dalam kehidupan manusia. Di era teknologi dan informasi yang terus berkembang sangat pesat seperti saat ini, menjadi seorang Muslim tentunya akan dihadapkan dengan beragam tantangan dan peluang yang tak pasti. Kondisi tersebut mendorong para Muslim untuk beradaptasi atau bahkan berkontribusi untuk dapat mencapai cita-cita agama yang tetap relevan sesuai tempat dan zamannya.

Di era teknologi, seorang Muslim dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup kompleks. Adapun salah satu tantangannya adalah informasi yang berupaya untuk membentuk opini negatif tentang agama, membentuk pemahaman yang pesimis terhadap masyarakat beragama, menyimpangkan ajaran agama, dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan lewat media, baik media massa maupun media sosial. Hal tersebut mengharuskan seorang Muslim untuk dapat lebih kritis lagi terhadap  informasi tentang agama yang diperoleh.

Di sisi lain, teknologi juga membawa risiko pengawasan diri yang lebih besar. Penggunaan ponsel pintar dan media sosial dapat mengalihkan perhatian seorang Muslim dari ibadah dan mempengaruhi praktik agama. Misalnya dengan ketergantungan pada media sosial membuat seorang Muslim lalai dengan kewajibannya sebagai seorang yang beragama. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bermedia sosial ketimbang ibadah. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu mengatur penggunaan teknologi agar tidak mengganggu komitmen mereka terhadap keyakinan dan praktik agama.

Kendati demikian, teknologi juga memberikan peluang besar untuk pembelajaran dan diseminasi informasi tentang keagamaan. Internet memungkinkan seorang Muslim untuk lebih mudah mengakses sumber-sumber pengetahuan, baik berupa al-Quran digital, konten-konten pengetahuan tentang agama, hingga konten-konten tentang pengetahuan lainnya. Hal ini dapat membuat proses belajar seorang Muslim menjadi lebih dimudahkan karena dengan internet, sumber pengetahuan tersebut dapat diakses.

Baca Juga  NU, Tradisi dan NKRI: Refleksi Satu Abad Nahdlatul Ulama

Kemudahan akses sumber pengetahuan tersebut juga memberikan kemudahan untuk dapat mengakses ke literatur Islam, fatwa-fatwa, dan riset keagamaan yang merupakan aset berharga bagi seorang Muslim yang ingin mendalami keyakinan dan praktik agama mereka. Melalui fitur dan aplikasi keagamaan, seorang Muslim dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk pengingat jadwal sholat, panduan untuk melakukan sunnah, hingga panduan melaksanakan zakat.

Akan tetapi, meskipun kemudahan akses tersebut dapat dirasakan, seorang Muslim hendaknya tidak melupakan dirinya untuk melatih kemampuan kritis sebagai upaya untuk memilah dan memahami informasi yang mereka temui serta menghindari sumber yang tidak valid atau bias. Mulai dari berita hoaks hingga pembentukan pemahaman agama yang mengarah pada hal negatif tetap menjadi suatu persoalan serius yang hendaknya dikurangi dan dicegah.

Selain kemudahan untuk belajar, teknologi juga telah mengubah cara seorang Muslim untuk berkomunikasi dengan sesama umat Muslim atau bahkan dengan non-Muslim di seluruh dunia. Media sosial dan platform pesan yang instan memungkinkan umat Islam untuk dapat terhubung, berbagi pengalaman, dan memberikan dukungan moral satu sama lain, terlepas dari jarak geografis.

Misalnya dengan kursus online, seseorang juga dapat belajar dari guru agama terkemuka di seluruh dunia. Hal ini dapat membantu umat Islam untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam dan terbuka tidak hanya tentang aspek keagamaan saja, tetapi juga aspek atau disiplin keilmuan lainnya yang dapat dilakukan tanpa harus berpindah tempat. Teknologi juga membantu menghubungkan generasi yang lebih muda dengan ilmuwan agama yang lebih tua, melestarikan warisan pengetahuan dan nilai-nilai agama.

Lebih jauh Islam juga memiliki prinsip utama dalam ajarannya, yaitu dengan melakukan amal shaleh atau perbuatan yang baik. Dalam hal ini, teknologi dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan perbuatan baik yang lebih efektif, seperti penggalangan dana online untuk amal, menyediakan akses ke pendidikan agama bagi mereka yang kurang beruntung, serta menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi.

Baca Juga  PNS dan Problem Standarisasi Kehidupan

Hal tersebut juga memiliki hubungan dengan kewajiban seorang Muslim untuk bertanggung jawab pada ranah sosial. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan memerangi penyebaran intoleransi di dunia maya. Mereka dapat menjadi agen perubahan dengan mendorong semangat toleransi, perdamaian, dan pengertian antarumat beragama.

Jika upaya pemanfaatan teknologi tersebut ditarik dalam perspektif al-Qur’an, kita dapat menemukan banyak ayat-ayat yang menjelaskannya. Terdapat sekitar 750 ayat yang menjelaskan tentang fenomena alam semesta dan isyarat bagi manusia untuk mengetahui dan memanfaatkannya. Adapun salah satu ayat yang menerangkan perihal tersebut adalah pada QS. al-Jatsiyah ayat 13, yang berbunyi:

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Menjadi seorang Muslim di era teknologi bukanlah perkara yang sederhana. Tantangan dan peluang yang ditawarkan teknologi memerlukan keseimbangan antara penggunaan yang bijak, terbuka, dan disertai dengan sikap kritis. Dengan pendidikan yang kuat, pemahaman yang baik tentang nilai-nilai agama, dan komitmen untuk berperan dalam memajukan kebaikan, seorang Muslim dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkaya pengalaman keagamaan mereka dan membantu membangun dunia yang lebih baik.

Naufal Robbiqis Dwi Asta Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya