Doktrin Hizbut Tahrir Melalui Sistem Pendidikan Islam Terpadu

Sumber: Youtube Melawan Miskin Logika

Sudah menjadi perbincangan umum di kalangan mahasiswa bahwa tiap-tiap instansi pendidikan yang membawa label “Islam Terpadu” merupakan yayasan yang didukung dengan PKS di dalamnya. PKS sendiri dikenal sebagai sebuah partai politik berbasis agama Islam. Walaupun demikian, politik dalam PKS sendiri memiliki tujuan utama yakni menciptakan negara Islam di Indonesia.

Banyak kontradiksi terjadi ketika membahas pendidikan Islam Terpadu ini. Pendidikan yang dimulai dari PAUD IT, TK IT, SD IT, Hingga SMP IT dan telah tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia ini bisa dibilang sebagai lembaga pendidikan yang elite, karena biasa merogoh uang pangkal dan bulanan yang cukup mahal. Tak jarang yang sering meliriknya adalah masyarakat kalangan menengah ke atas.

Sistem pendidikannya yang banyak menekankan hapalan Alquran dan bahasa juga menjadi suatu nilai tambah lembaga ini dijadikan tujuan utama bagi para orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Dianggap sebagai sekolah Islam yang bertaraf tinggi, memiliki kualitas yang tidak main-main, membuat lembaga ini turut disebut sebagai favorit di bidangnya.

Sayangnya, di tengah sistemnya yang sudah terlihat begitu sempurna, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi ketika berkehendak menyekolahkan anak di pendidikan Islam Terpadu. Latar belakang lembaga ini yang merupakan cabang akar dari PKS tidak bisa dibiarkan begitu saja. Banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan, seperti bagaimana kajian-kajian yang ada di dalam lingkup sekolah, agama Islam seperti apakah yang diajarkan di sana, bagaimana mereka memperlakukan perempuan.

Saya memiliki beberapa murid lulusan SMP IT. Salah satu dari mereka menceritakan pengalaman bahwa di sana mewajibkan penggunaan jilbab yang panjang bahkan ketika masih beranjak remaja awal. Selain itu, ketika menetap di asrama mereka harus mengikuti serangkaian kajian agama yang kitabnya sendiri tidak pernah dibeberkan dengan jelas. Bahkan mereka tidak tahu sama sekali kitab apa yang digunakan. Yang wajib bagi mereka adalah duduk dan mendengarkan. Hal ini tentu menyebabkan keambiguan sendiri atas latar belakang pengajar dan apa saja yang diajarkan oleh guru kepada para muridnya.

Selain dari sistem kajian agama yang tidak terbuka dengan asal usul atau jenis kitab yang digunakan, lebih mendasar lagi untuk diketahui adalah kenyataan bahwa pendiri sekolah Islam Terpadu merupakan amir dari Hizbut Tahrir Internasional, yakni Ismail Yusanto. Tentu hal ini akan berpengaruh dengan doktrin agama maupun kewarganegaraan kepada para peserta didik. Sebuah ketakutan bahwa lembaga sekolah ini akan memberikan doktrin anti-pancasila kepada para muridnya.

Namun juga ada fakta lain yang perlu diketahui, seperti halnya dalam sebuah postingan dari jaringan sekolah Islam Terpadu pada 7 Juni 2022, sebuah judul besar ditayangkan dengan “Peran Strategis JSIT Dalam Membumikan Pancasila”. Begitupun dengan fakta lain bahwa sekolah Islam Terpadu berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan. Bukan tidak mungkin, dari sini sudah terlihat bahwa sekolah Islam Terpadu akan tetap menanamkan jiwa cinta Pancasila dan Keindonesiaan kepada para peserta didiknya.

Lalu apa lagi yang perlu dikhawatirkan? dalam postingan di web jsit-indonesia.com, terdapat sebuah pernyataan dalam postingan “Pengertian Sekolah Islam Terpadu”, yakni sekolah ini mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Alqur’an dan Assunnah. Secara tersurat mungkin ini tidak ada masalah sama sekali, karena Alqur’an maupun Assunnah merupakan hukum utama di agama Islam. Dan menjaga keotentikannya merupakan suatu cara agar nilai keislaman dapat terus terjaga. Namun kerancuan mau disadari atau tidak, bisa terlihat di sini. Bahwa hukum dasar Islam tidaklah diambil dari Aqur’an dan Assunnah saja, melainkan juga ada ijma’ maupun qiyas. Penggunaan hukum dalam Islam sangat perlu memerhatikan perubahan zaman yang terjadi di masyarakat. Tidak ada yang saklek, dan Islam begitu dinamis memerhatikan kebutuhan umatnya.

Selain itu, saya akan berangkat dari sebuah pengalaman yang dirasakan oleh salah seorang teman ketika mencoba mengajar di SD Islam Terpadu. Walaupun hanya mengajarkan tahfidz, namun ia begitu merasakan hawa politik yang begitu dalam di sebuah lembaga pendidikan. Yah, seperti yang telah disinggung di awal tulisan. Sekolah ini didukung oleh partai politik PKS. Bahkan bendera PKS pun sampai dipajang di kantor. Kekuatan politik PKS dalam lembaga pendidikan ini tentu tidak hanya mendukung secara finansial semata, namun ajaran-ajaran Islam yang dibawanya yang juga memiliki ketersinambungan dengan Hizbut Tahrir juga perlu dipertanyakan ulang.

Di sini, saya hanya ingin menekankan kepada para orang tua untuk selalu berhati-hati ketika ingin menyekolahkan putra-putrinya. Lembaga sekolah yang terlihat elit, maju, memiliki sistem pendidikan yang terlihat bagus, apalagi dibumbui dengan forum parenting kepada para orang tua, tentu terlihat menggiurkan. Namun kelangsungan kehidupan beragama anak di kemudian hari juga perlu untuk diperhatikan.

2
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.