Dramaturgi Pemuka Agama di Indonesia

2 min read

Kemerdekaan atas penjajahan merupakan sebuah kejujuran. Sejauh ini Indonesia dilanda kontroversi politik agama yang diciptakan oleh para “Saksi Allah”.  Banyak pemuka agama yang berusaha menjadi Allah bagi sesama. Mereka menggunakan  teks firman untuk mendoktrin pengikut mereka, sebenarnya doktrin itu baik, sebab mengajarkan sesuatu yang menjadi sebuah ideologi tentang kebaikan Allah bagi manusia.

Akan tetapi berbeda bila doktrinisasi digunakan sebagai pemuas hasrat belaka, dalam artian merubah sesama manusia menjadi radikal. Radikal terhadap satu agama membuat seseoarang sering menggunakan agama menjadi senjata politik agama.

Dalam kehidupan umat beragama “saksi Allah” ialah mereka yang mendapatkan wahyu untuk mewartakan kesaksian tentang kabar baik ke semua umat manusia. Di Indonesia sendiri begitu beragam agama, suku, ras sehingga dapat dilihat menimbulkan sebuah persaingan antar sesama agama. Kebenaran akan persaingan ini tertutup rapat dalam diri individu.

Erving Goffman dalam teori melihat dunia sebagai panggung sandiwara, analogi tersebut menurutnya menunjukan bahwa manusia memiliki peran yang berbeda-beda, di ranah publik menyuarakan tentang keberagaman, di ranah lain ia lebih mementingkan kelompok tertentu daripada yang lainnya. Dengan demikian, ranah publik menjadi tempat menjual konsep “keberagaman” palsu.

Saya berpikir rumah ibadah merupakan tempat yang suci untuk mengajarkan tentang kasih terhadap sesama. Namun berbeda dengan di Indonesia rumah ibadah digunakan sebagai ruang menciptakan kekesalan bagi agama lain. Ada beberapa pemuka agama yang menggunakan ruang ibadah sebagai ruang penyebar kebencian. Hal ini perlu menjadi bahan refleksi bersama demi mewujudkan Indonesia yang harmonis dalam keberagaman agama.

Indonesia bisa terbebas dari penjajahan kolonial karena ada gotong royong masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Maka dapat dikatakan Indonesia berdiri atas beragam budaya, suku dan agama, tanpa persatuan negera Indonesia masih tetap dalam jajahan Belanda.

Baca Juga  Sosialisme Islam H.O.S Tjokrominoto dan Spirit Kebangsaan

Penderitaan dijajah Belanda dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Dalam Kehidupan politik Indonesia, didasarkan pada Pancasila. Pancasila dibuat sebagai dasar politik negara Indonesia memberi gambaran bahwa kita beragam, dan bukan hanya kepada kelompok tertentu.

Dalam pemikiran sosiolog jerman Karl Marx dirinya melihat bahwa agama telah kehilangan eksistensi dikarenakan pemuka agama yang digunakan oleh kaum borjuis. Doktrin teks agama membuat dirinya menyebut agama sebagai candu masyarakat. Sedari dulu agama telah menjadi sentral mengontrol kehidupan masyarakat. Namun agama dapat dijadikan senjata untuk merusak tatanan sosial yang telah di bangun oleh mereka sendiri.

Sejalan dengan Marx saya melihat bahwa di zaman ini, agama dijadikan senjata politik di Indonesia. misalnya dalam ruang virtual, ada perdebatan antara pemuka agama, ada sejumlah pemuka agama beradu kepintaran demi membela kepercayaan dalam agama mereka. Menurut saya hal ini tidak disadari bahwa hasil dari debat itu menimbulkan kebencian dalam hati umat. Saya menyebut dunia virtual sebagai ruang perang teks suci.

Dalam ruang virtual memiliki dampak besar dalam tatanan kehidupan keseharian masyarakat. Jadi ketika terjadi perang saudara antar sesama manusia di bumi Indonesia. bukan lain karena kesombongan para pemuka agama yang saling adu kebenaran dalam ruang virtual tersebut.

Ada salah satu penulis dalam bidang komunikasi media, dirinya mengatakan bahwa kita merupakan generasi internet, dalam artian seluruh umat manusia sekarang telah dengan mudah mengakses segala hal dengan teknologi yang semakin canggih. Lebih lanjut dirinya beranggapan bahwa manusia generasi internet akan belajar sesuatu hal yang didapatkan ketika mengakses media sosial. Hal ini yang menjadi perdebatan kita dalam konteks saat ini, karena sesuatu yang kita bagikan dalam media sosial dapat digunakan sebagai lahan politik untuk menghancurkan kebhinekaan di negara Indonesia.

Baca Juga  NU Channel versus Yufid.tv: Dari Perebutan Subscriber hingga Otoritas Keakidahan

Bagi saya pemuka agama haruslah menjadi aktor yang mendamaikan. Doktrin agama bersifat mutlak sehingga tidak seorang pun yang dapat mencari kebenaran dalam dunia. Kebenaran hanya ada apabila seseorang mampu berbuat baik terhadap sesama. Saya mengutip kata dari Gus Dur “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya”.

Bagi Gus Dur sang aktor perdamaian Indonesia beragama bukan soal pembenaran sepihak, melainkan penerimaan akan keberagaman Agama. Memuliakan Allah bukan berarti menjatuhkan kelompok yang berbeda dalam kepercayaan akan agama. Dengan demikian dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan “pemuka agama” yang hanya mementingkan dirinya, tanpa peduli orang lain, menjadi bagian dari sebuah tindakan yang munafik. Memanusiakan sesama manusia berarti menciptakan kebenaran teks kitab yang telah menjadi ajaran bagi semua ajaran agama di bumi Indonesia. (mmsm)

 

Revaldo Pravasta Julian MB Salakory