Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Alif dan Mim (1): Sebuah Roman

1 min read

Mim baru saja menutup Asarnya dengan salam, saat suara ketukan pintu itu muncul. Berdoa sebentar. Buru-buru melipat mukena, lalu bergegas menuju arah suara. Saat pintu terbuka Ranti sudah berdiri dengan senyum kecilnya. Mim menyambut tak kalah gembira. Mereka berangkulan. Dua sahabat yang saling melepas rindu.

“Jalan-jalan ke danau, yuk,” ajak Ranti.

Mim mengernyitkan dahi. Memastikan ajakan itu serius.

“Ada sapon. Orang-orang sudah ramai menuju ke danau.”

Ranti ragu-ragu.

“Sudahlah, ayo. Sudah lama kamu tidak pulang kampung dan melihat sapon di danau.”

“Baiklah. Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.”

Ranti semringah. Rayuannya berhasil. “Dandan yang cantik. Siapa tahu langit ketujuh membuka kotak jodohmu sore ini.”

“Sssttt…cerewet.!”

Ranti langsung cemberut.

Sambil tertawa menang Mim melangkah masuk kamar. Ganti sandang dan memacak diri sepantasnya untuk keluar rumah.

_______________

Sapon serupa pesta kecil bagi warga kampung. Turun temurun. Ini adalah musim ketika angin bertiup kencang menggiring ikan-ikan menuju tepi danau. Ikan-ikan yang biasanya berenang gesit tiba-tiba kehilangan kecepatan sehingga mudah ditangkap. Bahkan anak-anak kecil yang tak mahir berburu ikan pun bisa dengan gampang menangkapnya.

Sebagian percaya, ini kiriman rezeki dari penunggu danau kepada anak cicitnya, orang sekampung. Buyut Ranu, begitu orang-orang menyebut nama penunggu danau, sedang bebersih. Ia menyapu istananya. Ikan-ikan yang tergiring ke pinggir adalah sisa-sisa sapuan Buyut Ranu. Karena itu orang-orang menyebut peristiwa itu sebagai sapon.

Orang-orang tak pernah tahu kapan sapon akan datang. Tapi mereka menghafal tanda-tandanya. Cuaca cerah, sejak sore angin berhembus tak putus-putus. Air danau yang biasanya tenang menjadi beriak dan menimbulkan gelombang-gelombang kecil yang menggoyangkan perahu-perahu seng milik warga. Para nelayan yang sedang menjala atau memancing ikan di tengah danau akan memberi tanda. Mereka akan bergegas menepi, lalu berteriak mengabarkan di danau sedang terjadi sapon.

Baca Juga  Ngaji Maqāsid [2]: Batas Nalar Ijtihād Maqāsidī

Tak perlu lagi dikomando, kabar itu akan menyebar luar biasa cepat ke pintu-pintu rumah. Dalam setengah jam, tepian danau sudah dipenuhi orang-orang yang berlomba menangkap ikan. Mengumpulkan rezeki sebanyak-banyaknya.

Selepas Magrib, tepian danau menjadi lebih benderang. Ratusan obor berjajar berderet-deret menerangi aktivitas orang-orang mencari ikan. Mereka menangkapi ikan-ikan besar dan kecil seperti memunguti batu dari dasar air. Mendapat tiga ember besar ikan dalam semalam bukan hal susah bagi orang-orang itu.

Menjelang Subuh satu persatu obor ditiup. Pinggir danau kembali menjadi gelap. Orang-orang itu bergelimpangan tertidur kelelahan di samping ember-ember berisi setumpuk ikan hasil tangkapan mereka.

Saat matahari datang. Danau itu sudah berubah menjadi pasar. Ratusan orang dari kampung-kampung lain datang untuk menebas ikan-ikan tangkapan semalam. Tentu saja dengan harga jauh lebih murah dibanding hari-hari biasanya.

______________

Mim dan Ranti berjalan menuju danau. Orang-orang sudah ramai. Ranti menggandeng tangan Mim. Kedua gadis itu berjalan menuju pendapa. Ya, pendapa agung yang biasa dipakai warga untuk menyelenggarakan selamatan desa.

Tiba-tiba Mim menghentikan langkah. Ranti spontan ikut berhenti.

“Siapa menyuruhmu mengajakku ke sini?” tanya Mim.

“Alif?” desak Mim.

Ranti belum menjawab, Mim mengibaskan gandengan tangan sahabatnya dengan kasar.

“Aku pulang!” Mim balik kanan dan melangkah cepat meninggalkan Ranti.

“Mim, tunggu dulu.” Ranti mencoba menegah langkah sahabatnya.

“Mim..!”

“Miiiiiiimmmm…..”

Langkah Mim makin cepat menjauh. Ranti menyusul di belakangnya.

______________

Sesampai di rumah langsung Mim mengempaskan tubuhnya di sofa. Ia menangis. Bersambung… (AA)

Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra