Surya Adi Sahfutra Dosen Universitas Pembangunan Pancabudi Medan dan Founder WeRead

Melihat Indonesia dari Ruang Kelas: Pengalaman Kemesraan atas Keragaman Budaya dan Agama

3 min read

Gambar hanya ilustrasi

Sebuah kelas mahasiswa doktoral angkatan tahun 2022 di salah satu universitas yang ada di Yogyakarta menarik untuk menjadi dalil argumentasi pengalaman keragaman agama dan budaya sebagai pengalaman kemesraan. Kelas itu sering saya sebut sebagai miniaturnya Indonesia.

Sekarang mari mulai kita telisik dari demografi kelas. Saya akan ceritakan dari sisi agama dan budaya. Dari sisi agama, kelas tersebut diwakili oleh empat agama: Hindu Bali, Kristen, Katolik, dan Islam. Dari segi etnis dan wilayah: Jawa tulen, Jawa diaspora, Toraja rasa Papua, Ambon, Kupang, dan Bali.

Sebenarnya, suasana seperti itu banyak kita temukan di kelas-kelas perguruan tinggi umum atau juga sekolah-sekolah umum, yang menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia. Namun, pengalaman semacam itu sering sekali tidak menjadi sebuah pengalaman berharga sebagai bentuk penguatan karakter, pembentukan nilai, dan pertukaran pengalaman tentang perbedaan.

Siswa di kelas boleh saja beragam, tetapi ia berjalan seperti sebuah tempat keramaian yang tidak terjadi pertukaran pengalaman. Sense of belonging (rasa memiliki) bahkan tidak terbangun persepsi kebersamaan, melainkan muncul in group dan out group.

Nah, kelas yang kebetulan saya menjadi salah satu anggotanya tersebut berjalan secara berbeda. Karateristik budaya dan agama yang sangat berbeda justru menjadi pilar utama dalam membangun “harmoni”—dalam bahasa pemerintah sekarang: nilai-nilai moderasi beragama.

Tentu banyak faktor yang menjadikan kelas ini layak menjadi role model miniatur Indonesia dalam konteks kemesraan keragaman agama dan budaya. Faktor historisitas pengalaman masing-masing mahasiswa, “seni” berinteraksi, hingga konstruksi keagamaan yang menjadi pilar penting dalam semua proses jalinan pertemanan dan interaksi yang terjadi.

Apakah jalinan yang dibangun, kemesraan yang dirajut, hingga komitmen persaudaraan yang dibangun itu semu? Jawaban pertanyaan itu diuji oleh waktu, oleh konflik yang hadir dan tentu masalah-masalah yang muncul dalam perjalanan.

Baca Juga  Azan Magrib Berkumandang Dua Kali di Lebanon

Saya anggap kelas berjalan apa adanya, bahkan bisa dikatakan—dengan agak berlebihan—kelas itu berproses sebagaimana kehidupan masyarakat itu berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada duka, ada suka, dan—satu lagi—yang pasti ada konflik. Akan tetapi, semua itu dikelola dan berjalan. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat hampir satu setengah tahun berlalu, jalinan, kemesraan dan supporting system sebagai rule of the game masih terus terjaga. Bagaimana ceritanya?

Fondasi Keragaman: Kemesraan dan Supporting System

Suatu ketika di akhir semester satu, beban hidup saya begitu berat sekali. Saya adalah seorang bapak berkepala tiga yang hidup di perantauan dengan membawa anak kembar tanpa didampingi istri, asisten, atau apa pun. Saya seorang diri mengurus dua anak istimewa itu sambil kuliah. Anda bisa membayangkannya. Sudah cukup begitu saja.

Soal kenapa itu terjadi, ceritanya panjang, dan tulisan ini tidak hendak mendiskusikan itu, tetapi saya perlu menjelaskan sedikit konteks poin utama yang ingin saya uraikan. Kembali ke soal beban hidup yang begitu berat, si kembar mengalami culture shock di sekolah. Ternyata pada saat yang bersamaan saya juga mengalami puncak tekanan, kelelahan, dan sebagainya. Stres dan mungkin juga depresi tidak bisa saya tutupi.

Kehadiran teman-teman di kelas ternyata ibarat “berkah” yang benar-benar penting. Mereka memahami situasi yang terjadi. Tak pelak, pernah saya menangis terisak-isak di depan mereka. Bayangkan saja, seorang mahasiswa doktoral menangis tersedu-sedu di hadapan rekan sejawat, seperti seorang anak kecil menangis di pelukan abangnya sendiri, padahal mereka berbeda agama dan bahkan etnis dengan saya.

Apakah respon mereka berpura-pura? Kalau basis relasi itu dibangun dengan semu atau kepura-puraan, saya yakin bahwa saya juga tidak akan semudah itu menumpahkan tangisan dan isakan saya di hadapan mereka.

Baca Juga  Enam Perkara yang Harus Ditakuti oleh Orang Islam Menurut Syaikh Nawawi Al-Bantani

Cerita di atas hanya sebagian kecil dari interaksi berbasis supporting system satu sama lain. Masih banyak cerita yang menggambarkan bagaimana ruang-ruang diskusi kami lalui penuh dengan lintas dan beragam topik, dari agama, budaya, dan tentu pengalaman religiositas masing-masing.

Keragaman perspektif dari teman-teman sekelas juga sangat menarik. Kami punya teman dengan background lulusan Universitas al-Azhar Mesir, lulusan sarjana teologi Kristen, sekolah pastoral, dan orang yang pernah terlibat intens dalam dunia aktivis dakwah kampus. Selain itu, ada juga seorang budayawan yang lebih senang disebut sebagai Jawa Katolik daripada Katolik Jawa atau Kejawen berbaju Katolik. Namun, semua background tersebut mampu membangun kemesraan dan saling terlibat aktif dalam mekanisme supporting system.

Bukti bahwa fondasi relasi itu tidak semu dan tanpa kepura-puraan ditentukan oleh apakah ada konflik yang muncul dari relasi yang terjalin. Jika konflik tidak muncul ke permukaan, secara teoretik berarti relasi itu “standar minimalis” dari sebuah interakasi karena ada keinginan untuk menjaga jarak agar tidak muncul gesekan.

Namun, kalau muncul konflik, maka hal itu akan menjadi penanda bahwa relasi berjalan dinamis dan menjadi konsekuensi logis dari kemesraan dan kedekatan. Ibarat sebuah keluarga, mustahil tidak ada konflik, bukan? Begitu kira-kira situasi kelas miniatur Indonesia tersebut.

Kami juga mengalami konflik, pertentangan satu sama lain. Hal ini karena perspektif, standar nilai, dan kekayaan pengalaman yang sangat beragam. Namun, konflik tersebut bisa dilewati, bisa dikelola dengan arif dan bijaksana. Biasanya konflik yang muncul sering bersumber dari standar etik yang berbeda dalam melihat dan bersikap atas sesuatu.

Cara bersikap atas peristiwa juga sering menjadi dalang perselisihan karena sekali lagi pengalaman dan basis pengetahuan yang beragam. Namun, satu hal yang kemudian menjadi kesadaran bersama, bahwa seperangkat standar nilai, pengetahuan, dan pengalaman tersebut mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari masing-masing.

Baca Juga  Zakat Fitrah untuk Fakir Miskin yang Masih Jadi Rebutan

Bagaimana bisa orang dengan beragam latar belakang agama dan budaya tersebut bisa saling bermesraan tetapi pada saat yang bersamaan juga menjalani ketegangan konflik? Jawaban pertanyaan itu bisa saya rumuskan dalam beberapa poin kunci.

Pertama, kesadaran kolektif. Perlu diingat bahwa masyarakat kita adalah masyarakat komunal, bukan individual. Semua hal selalu mempertimbangkan aspek komunalitas. Kesadaran ini membawa konsekuensi penting dalam relasi sosial.

Berbeda dengan masyarakat yang menekankan aspek individual, yang segala sesuatunya ditekankan pada perspektif individu. Kalau dalam komunitas kelas kami ada dua aliran ini, kemungkinan tidak akan terbentuk tatatan seperti yang saya ceritakan di atas, karena ada pertentangan antara aspek komunalitas dan individualitas.

Kedua, kesamaan visi. Segala bentuk keragaman ketika dihadapkan pada visi yang sama, ia tidak akan menjadi fokus pertentangan, dari mulai kelompok kecil, masyarakat bahkan sebuah negara bisa dipersatukan oleh kesamaan visi.

Visi kelas kami adalah “belajar bersama, makan bersama, dan lulus bersama”. Tentu kami sadar bahwa visi itu tidak mungkin bisa tercapai karena bagi yang sudah pernah menjalani sekolah doktoral, lulus bersama itu semacam “hantu” yang kerap mengusik tidur nyenyak para mahasiswa. Namun, kesadaran bersama tentang visi menjadi modal penting dalam interaksi keragaman.

Indonesia adalah wilayah yang sangat sangat kaya dengan segala entitas keragaman. Kalau visi dalam skala nasional sulit dipahami, maka visi dalam skala yang lebih kecil bisa menjadi fondasi jalinan kemesraan sekaligus ketegangan yang muncul di tengah kehidupan masyarakat. [AR]

Surya Adi Sahfutra Dosen Universitas Pembangunan Pancabudi Medan dan Founder WeRead