[Idul Fitri] Hari Raya Idul Fitri dalam Konteks Kemanusiaan

اَللهُ أَكْبَرُ x 9. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا, لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ, لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ.

Hadirin sidang salat Idul Fitri yang berbahagia,

Puasa adalah ujian yang paling fundamental bagi umat Islam. Dalam ujian itu, ada tiga proses yang dilakukan. Pertama, puasa penyesuaian diri pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 Ramadan. Muatan di dalamnya adalah penyesuaian fisik yang pada awalnya makan dan minum kemudian tidak makan dan minum. Puasa ini dinamakan puasa jasadiyah (fisik). Kedua, puasa pengendalian diri pada tanggal 11 sampai dengan tanggal 20 Ramadan. Muatan di dalamnya adalah pengendalian diri dari hawa nafsu. Asumsi negatif kepada orang lain, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah dihindarkan. Selain itu, sikap sombong, hasud, dan marah juga ditinggalkan. Kepedulian kepada orang lain dimunculkan. Puasa ini dinamakan puasa nafsaniyah (psikologis) Ketiga, puasa penyucian diri pada tanggal 21 sampai dengan selesai. Muatan yang terkandung di dalamnya adalah penyucian spiritual. Usaha menangkap malam qadar, i’tikaf di masjid, memberi makanan kepada fuqara’ dan masakin, menunaikan zakat dilakukan. Puasa ini dinamakan puasa ruhaniyah (spiritual). Ketika spiritualnya bersih, capaian yang diraih adalah kembali pada kesucian, yaitu Idul Fitri.

Jamaah salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Umat Islam sekarang sedang berhari raya, yaitu beridul fitri. Idul Fitri adalah pengembalian diri pada kesucian. Secara etimologis “id” berasal dari kata عاد يعود yang berarti kembali, sedangkan “fitri” berasal dari bahasa Arab فطرة yang berarti suci. Dengan demikian, Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian. Untuk itu, ketika kita beridul fitri sebenarnya kita berusaha mengembalikan diri pada kesucian manusia sebagaimana kita dilahirkan. Secara substansial manusia dilahirkan dalam kondisi suci sebagaimana sabda Rasulullah saw:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

Setiap anak yang lahir dalam keadaan suci. Kedua orang tuanya yang mengantarkannya pada agama Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Sebelum sampai pada Idul Fitri, kita diwajibkan membayar zakat fitrah sebagai proses pembersihan diri dan relasi kemanusiaan. Ketika berpuasa, kesalahan tidak sengaja mungkin muncul baik kesalahan yang berkaitan dengan Tuhan maupun kesalahan yang berkaitan dengan manusia. Kesalahan pada saat berpuasa dapat ditutup dengan zakat fitrah. Selain pembersihan diri, pembebasan pada manusia yang dalam kondisi tertindas perlu dilakukan. Sebagai simbol pembebasan kepada mereka adalah kewajiban zakat fitrah. Dengan demikian, zakat fitrah memiliki dua fungsi, yaitu pembersihan bagi orang yang berpuasa dan membebaskan orang yang lemah. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah terdapat ketetapan dari Rasulullah saw:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرَةِ: طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ لِلْمَسَاكِيْنِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan dosa; dan sebagai pemberian makanan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan sebelum salat Idul Fitri, itu namanya zakat yang diterima. Barangsiapa yang mengerjakan setelah salat Idul Fitri, itu namanya sedekah.

Agar kita sampai pada kesucian diri, aspek sosial harus dikedepankan. Kecintaan kepada orang lain harus didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri. Aspek kecintaan kepada orang lain merupakan bagian dari iman. Iman transformatif adalah iman yang tidak hanya mengarah pada teologis tapi lebih mengena pada aspek humanistiknya. Kita terkadang salah tafsir, kekuatan iman diukur dari kepercayaan kepada Allah. Padahal iman sesungguhnya adalah transformasi kepada manusia. Dengan demikian, kesucian kita kurang bernilai jika perhatian kepada pihak lain tidak dikedepankan. Kita jangan melampau batas kesenangan diri dengan melupakan kesengsaraan orang lain. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak dikatakan iman yang sempurna salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai sesuatu yang dimiliki untuk diberikan kepada saudaranya.

Nilai Idul Fitri sebenarnya bukan terletak pada kesenangan dan kebahagiaan pribadi, apalagi melampau batas dengan pakaian yang sangat mewah. Nilai Idul Fitri ditentukan oleh aktualisasi dan transformasi diri pada ketataan kepada Allah dalam menunaikan ibadah dan ketundukan kepada Allah. Ketaatan yang semakin bertambah jika dibandingkan tahun yang lalu merupakan ukuran bagi kesuksesan orang yang berpuasa. Dengan demikian, Idul Fitri diorientasikan pada kita untuk semakin taat dan takwa. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ     وَلٰكِنَّ الْعِيْدَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Yang dimaksud Idul Fitri bukan bagi orang yang berpakaian baru, tetapi yang dimaksud Idul Fitri adalah bagi orang yang taatnya semakin bertambah.

Hadirin yang berbahagia,

Hal yang sangat urgen dalam Idul Fitri adalah menangkap ulang nilai kemanusiaan. Puasa sebagai proses pengendalian diri dan pembebasan kepada manusia harus teraktualisasi dan tertransformasi dalam konteks riil. Untuk itu, setelah Idul Fitri kita dapat membangun kesetaraan manusia dalam hidup. Kita diciptakan dalam status yang berbeda diharapkan dapat bekerjasama dengan baik dan tidak dengan merendahkan. Organisasi dan suku yang berbeda bukan sebagai platform untuk mengklaim kebenaran. Perbedaan hanya sebagai instrumen untuk saling mengenal dan tolong-menolong (al-Hujurat: 13). Oleh karena itu, perbedaan diharapkan dapat memahami nilai kemanusiaan secara universal tanpa terikat oleh berbagai simbol. Dengan demikian, nilai kesucian kita sebagai manusia betul-betul tercapai, karena inti dalam Idul Fitri adalah pengembalian manusia pada nilai fitrah.

Secara konseptual perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan logis. Perbedaan adalah Sunnatullah yang pasti terjadi. Untuk itu, kita harus bersedia menghargai manusia yang diciptakan oleh Allah dalam kemajmukan. Perbedaan kita jadikan pangkal untuk berlomba-lomba mendapatkan kebaikan (al-Ma’idah: 48). Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia adalah realitas. Sebagai konsekuensinya, di hari yang fitri ini kita harus mampu mengembalikan perbedaan itu dalam kesatuan poros, yaitu ketundukan pada Allah. Ketundukan pada Allah tidak akan diperoleh tanpa dasar fitrah kemanusiaan.

Selain perbedaan di atas, kemajmukan atau pluralitas agama merupakan realitas dalam kehidupan. Kita tidak bisa memaksakan orang lain masuk ke dalam agama Islam, demikian juga mereka. Perbedaan agama adalah keniscayaan. Untuk membangun kehidupan yang harmonis antarumat beragama, kita dituntut bertoleransi secara baik dengan melihat aspek kemanusiaan. Wahana yang dapat dimunculkan adalah Idul Fitri sebagai proses pengembalian fitrah kemanusiaan.

Bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara yang bahagia,

Di dalam Islam, manusia ditempatkan pada posisi yang paling berharga dan terhormat dibandingkan ciptaan yang lain. Ketika kita kembali pada fitrah kemanusiaan, kita harus menghormati manusia apa adanya tanpa mengggunakan berbagai simbol. Di dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 70 Allah sendiri menghormati manusia tanpa simbol. Dengan demikian, ukhuwah insaniyah dapat direalisasikan dalam realitas kehidupan.

Kalau kita merujuk pada sejarah, ciptaan Allah yang memberikan sekat dan batas penghargaan dan penghormatan kepada makhluk lain adalah iblis. Dia adalah makhluk pertama yang mengembangkan rasialisme. Dia menolak sujud kepada Adam karena menganggap dirinya lebih baik, dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah. Hal ini dideskripsikan oleh Allah dalam al-Qur’an:

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْا إِلَّا إِبْلِيْسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِيْنَ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ لَا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ (اَلْأَعْرَافُ: 11-12).

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan pada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (al-A’raf: 11-12).

Sebagai kerangka pijak untuk menghargai dan menghormati manusia adalah takwa. Ketakwaan seseorang tidak dapat diukur dalam konteks hubungan vertikal manusia dengan Allah. Hubungan horisontal antara manusia dengan manusia sangat penting. Artinya, nilai ketakwaan seseorang dapat dilihat dari prestasi dan kreasi seseorang. Amal seseorang adalah pilar penting untuk dijadikan pegangan. Kompetisi seseorang yang mengarah pada prestasi merupakan indikator ketakwaan seseorang. Amal seseorang inilah yang nantinya diperlihatkan oleh Allah di Hari Kiamat. Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى (اَلنَّجْمُ: 38-41) .

Sesungguhnya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakan. Sesungguhnya usaha manusia kelak akan diperlihatkan, kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna (al-Najm: 38-41).

Dengan mempertimbangkan amal manusia, kita tidak mudah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika menghancurkan satu nilai kemanusiaan, kita diibaratkan telah menghancurkan nilai kemanusiaan secara universal. Sebagai pegangan, kita dapat mengambil pelajaran moral dalam al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an disebutkan Qabil telah membunuh Habil. Meskipun dia membunuh satu orang, al-Qur’an mengibaratkan satu pembunuhan seperti pembunuhan secara menyeluruh. Allah berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذٰلِكَ كَتَبْنَا بَنِى إِسْرَائِيْلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا (اَلْمَائِدَةُ: 36).

Oleh karena itu, Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (al-Ma’idah: 36).

Ayat di atas secara implisit mengungkapkan bahwa kejahatan yang dilakukan kepada manusia secara individu atau personal mengandung resiko universal. Artinya, kejahatan itu tidak dipertanggungjawabkan secara pribadi kepada Allah tetapi secara kolektif, demikian juga dosa yang dikerjakan. Dengan memperhatikan konsep al-Qur’an semacam itu, nilai fitrah kemanusiaan harus dijaga. Bagian dari penjagaan terhadap firtah kemanusiaan adalah Idul Fitri. Oleh karena itu, di Idul Fitri ini kita harapkan betul-betul menjadi manusia yang fitri.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْاٰنِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

0

Guru Besar Ilmu Hukum Islam UIN Sunan Ampel Surabaya; Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sunan Ampel Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.