Sarah Salsabila Balxis Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Ketika Nasihat Kebaikan Melalui Perantara Media Sosial Menimbulkan Kesalahpahaman

2 min read

tebuireng.online

Saling mengingatkan pada suatu hal kebaikan merupakan kewajiban bagi sesama muslim. Namun, tidak melupakan bahwa tugas muslim pertama adalah menasihati diri terlebih dahulu kemudian orang lain. Perlu diketahui, menasihati orang lain tidak selalu disampaikan dalam bentuk ceramah, dan sejenisnya. Kewajiban saling memberi nasihat dipertegas oleh Allah SWT, salah satunya dalam Q.S. Al-Asr: 1-3 sebagai berikut:

وَا لْعَصْرِ (١) اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ (٢) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ (٣)

“Demi masa (1), sungguh, manusia berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Dalam islam, memberikan nasihat termasuk perkara amar ma’ruf nahi mungkar, yang mana mengajak orang lain melakukan sesuatu yang mengandung kemaslahatan, dan mencegahnya dari perbuatan yang mengandung kemudharatan. Seperti halnya nasihat kebaikan berupa ajakan memberikan perubahan kualitas pada diri dan sesama manusia untuk sama-sama saling intropeksi diri (bermuhasabah), sebab kualitas orang mukmin tidak lepas dari perhitungan dan perencanaan Allah SWT. sebagaimana Allah swt berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ (١٨)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini memperingatkan kepada setiap manusia untuk senantiasa melihat masa kini dan juga masa lalu. Dalam artian  dengan melakukan perbaikan dan perubahan dari kehidupan masa lalu yang menjadi suatu pelajaran bagi hari esok, dan bagaimanapun juga manusia tidak luput dari salah dan dosa, maka islam mengajarkan hal ini bermaksud untuk menghindarkan dari mengulang kesalahan sebelumnya serta berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Baca Juga  Bhinneka Tunggal Ika di Tanah Papua

Zulkifli (2018: 24) menerangkan kutipan mengenai pandangan para sufi terkait muhasabah diri ini misalnya merujuk pada Hasan al-Bashri, ia berpendapat bahwa orang mukmin adalah orang yang selalu memperhatikan dirinya. Ia selalu bermuhasabah diri karena Allah SWT. Perhitungan amal di akhirat akan terasa ringan bagi orang yang selalu mengoreksi dirinya saat didunia, perhitungan ini akan lebih berat. Dalam hal ini, maka pentingnya sebagai muslim yang baik untuk saling mengingatkan atau saling menasihati satu sama lain.

Oleh karena itu, yang menjadi hal utama pembahasan kali ini menjadikan media sosial sebagai perantara alternatif untuk mengajak orang lain saling bermuhasabah mengingat teknologi semakin pesat saat ini. Teknologi memberikan kontribusi bagi kehidupan dengan membuat suatu hal menjadi mudah dan efisien, adapun pada masa sekarang ini seperti, update status di media sosial perihal kebaikan, podcast kajian keislaman, konten keislaman, dan sebagainya.

Tidak lupa bahwa dalam memberikan suatu nasihat kebaikan terdapat adanya adab yang perlu diterapkan. Terkadang, tidak jarang sebagian masyarakat khususnya umat islam memandang adab dalam memberi nasihat itu sebagai suatu hal yang biasa, padahal adab menjadi salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW dimana jika orang memiliki adab, menjadikan mulia dihadapan Allah SWT dan Rasul-Nya. Adapun adab memberi nasihat yang diajarkan Rasulullah bila melihat adanya kemungkaran, sebagaimana tertuang dalam hadist, Nabi bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان.

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Adab memberikan nasihat kepada orang lain juga harus didasari dengan adanya niat ikhlas karena niat ikhlas penting bagi keberhasilan apa yang dinasihatkan, ikhlas ini bertujuan mengharapkan ridha Allah SWT dan bagaimanapun respon orang lain terhadap nasihatnya bukan menjadi tujuan, misalnya diberi pujian, disanjung, dan sebagainya; kemudian menggunakan kata-kata yang baik (tidak menyinggung); serta tidak berambisi untuk memaksakan nasihat kita untuk diterima.

Baca Juga  Sel-Sel NII (Bagian V)

Dalam memberikan nasihat, hendaknya nasihat itu dilakukan secara berulang kali untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan baik dan berperilaku yang baik. Berangkat dari sini dapat dipahami bahwa penanaman kebenaran itu memang bukan tugas yang ringan. Termasuk penanaman keimanan, sekaligus yang memungkinkan munculnya akhlak yang baik, itu adalah tugas yang berat. Karena itu pelaku-pelaku yang memberi nasihat harus sabar dan tidak bosan-bosan untuk terus saling menasihati di antara sesama (Kementerian Agama RI, 2014: 39).

Namun, jika nasihat kita menjadikan suatu kesalahpahaman antara kita dengan orang lain, diperlukan adanya komunikatif satu sama lain yang bertujuan untuk memahami satu sama lain. Sikap saling terbuka dan sikap saling pengertian dapat menciptakan suasana kondusif antara satu sama lain. Jika sikap saling pengertian didukung dengan adanya sikap positif dan sikap empati dapat menimbulkan terciptanya suasana yang harmonis (Awi, dkk., 2016: 7). (mmsm)

Sarah Salsabila Balxis Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya