Sumanto Al Qurtuby Direktur Nusantara Institute; Associate Professor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Saudi Arabia

Memahami Hadis Tidak Semudah yang Dipikirkan Khalayak Awam

3 min read

Dibanding dengan Alquran, seluk-beluk, sejarah, konten, dan pluralitas Hadis (perkataan Nabi Muhammad) jauh lebih rumit. Hadis itu cem-macem. Berbeda dengan Alquran, ada banyak buku tentang koleksi hadis ini. Setiap mazhab atau aliran teologi memiliki koleksi hadis sendiri-sendiri yang tidak jarang saling bertentangan dan saling-menegasikan otentisitas hadis yang dikoleksi, dipegangi, dan dipedomani oleh mazhab lain.
Apa yang diklaim sebagai hadis oleh pengikut mazhab tertentu belum tentu dianggap hadis oleh pengikut mazhab lain. Apa yang dianggap Hadis sahih oleh kelompok Islam tertentu, belum tentu dianggap sahih dan valid oleh kelompok Islam lain. Begitu seterusnya. Kalau Al-Qur’an, masing-masing mazhab, termasuk Syiah, memiliki kitab yang sama, meskipun kitab tafsir Alqurannya berbeda-beda sesuai dengan “ulama favorit” mereka.
Perbedaan dalam memandang dan memahami hadis itu sudah terjadi sejak era awal perkembangan Islam, misalnya ditunjukkan dengan adanya perseteruan antara “faksi tradisional” dan “fakti rasional” atau antara kubu “ahl al-hadis” dan kubu “ahl al-ra’yi.”
***
Misalnya, kaum Muslim dari Mazhab Sunni yang merupakan mayoritas memedomani enam kitab-kitab hadis utama yang dijadikan sebagai rujukan dalam pengambilan hukum Islam atau pedoman dalam kehidupan sosial-keagamaan sehari-hari setelah Al-Qur’an, yaitu:
pertama, Sahih Bukhari atau Bukhari Syarif yang ditulis oleh Abu Abdullah Muhammad Al-Bukhari (w. 870), seorang sarjana Muslim Persi kelahiran Bukhara (kini Uzbekistan). Koleksi hadis Imam Bukhari ini juga dipakai oleh kaum Muslim Syiah aliran Zaidiyah. Oleh Sunni, Kitab Sahih Bukhari ini dianggap yang paling valid atau sahih.
Kedua, kitab Sahih Muslim yang ditulis oleh Muslim al-Hajjaj (w. 875), yang juga seorang sarjana Muslim Persi (kelahiran Nishapur, Iran). Oleh Sunni, kitab ini dianggap sebagai yang tersahih kedua setelah Kitab Sahih Bukhari. Kitab Sahih Muslim ini juga dipakai oleh Syiah Zaidiyah atau Zaidi (mayoritas di Yaman utara).
Ketiga, kitab Sunan Abu Dawud (ditulis oleh Abu Dawud al-Sijistani, w. 889, yang juga sarjana Persia kelahiran Sistan, Iran).
Keempat, kitab Sunan al-Tirmidhi atau Jamiut Tirmidhi (ditulis oleh Abu Isa Muhammad al-Tirmidhi, w. 892. Beliau juga sarjana Persia).
Kelima, kitab Sunan Nasai atau al-Sunan al-Sughra (ditulis oleh Imam Nasai, w. 915. Beliau kelahiran Nasa, Turkmenistan).
Keenam, kitab Sunan Ibnu Majah, ditulis oleh Imam Ibnu Majah, seorang sarjana Persi yang wafat sekitar 887 M. Khusus pengikut Sunni Mazhab Maliki, mereka menolak otoritas Kitab Sunan Ibnu Majah dan menggantinya dengan Kitab al-Muwatta’, karya Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki.
Menariknya dari 6 kitab hadis yang dipedomani atau dijadikan rujukan oleh kaum Sunni, tidak ada satupun yang ditulis oleh sarjana Muslim Arab! Hampir semuanya beretnis Persi.
Kemudian kelompok Syiah Itsna Ats’ariyah atau Syiah Imamiyah yang merupakan Syiah mayoritas memiliki 4 kitab koleksi hadis yang dijadikan sebagai rujukan utama, yaitu: (1) Kitab al-Kafi (ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini), (2) Kitab Man La Yahdhuru al-Faqih (ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad al-Qummi atau Ibnu Babawaih), (3) Kitab Tahdhib al-Ahkam (ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad Tusi atau Syaikh Tusi), dan (4) Kitab al-Ibtisar yang juga ditulis oleh Syaikh Tusi. Kitab al-Ibtisar adalah ringkasan dari kitab Tahdhib al-Ahkam. Mereka semua adalah ilmuwan Hadis dari Persi.
Sementara itu kaum Muslim aliran Ibadiyah (Ibadi) memiliki dua kitab hadis utama, yaitu Jami al-Shahih (ditulis oleh al-Rabi bin Habib al-Farahidhi) dan kitab Tartib al-Musnad (dikoleksi oleh Abu Ya’qub al-Warjilani). Lalu, umat Syiah Ismaliyah, kitab hadis yang dijadikan rujukan adalah kitab Daim al-Islam yang ditulis oleh al-Qadi al-Nu’man.
Itu hanya sekelumit contoh saja tentang sejumlah kitab hadis yang dijadikan sebagai rujukan dan pedoman oleh berbagai kelompok umat Islam.
Selanjutnya, setiap mazhab dan kelompok keislaman juga memiliki tokoh-tokoh idola yang kitab-kitab kumpulan hadisnya dipercaya sebagai yang paling valid. Bukan hanya itu saja, setiap mazhab juga mempunyai tokoh-tokoh idola yang dipercayai dan dijadikan sebagai rujukan utama dalam periwayatan hadis. Misalnya, kaum Alawi di Suriah dan Libanon mempercayai tokoh Sulaiman Al-Farisi sebagai yang paling sahih. Sementara kaum Ibadi mempercayai hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Zaid. Begitu seterusnya.
***
Kemajemukan hadis itu, antara lain, disebabkan oleh tidak adanya orang (sahabat Nabi) yang ditunjuk secara spesifik untuk menulis, mengarsip atau mendokumentasikan perkataan Nabi Muhammad sewaktu beliau masih hidup. Hal itu terjadi mungkin karena umat Islam mula-mula sibuk mengurusi eksistensi mereka dari serbuan orang-orang dan kelompok suku yang memusuhi Nabi Muhammad dan pengikutnya.
Atau, ada sebagian riwayat yang mengatakan, Nabi Muhammad sendiri konon melarang perkataannya ditulis agar tidak “jumbuh” atau bertabrakan dengan ayat-ayat Alquran yang bisa membingungkan umat: mana ayat Alquran, mana Hadis Nabi. Atau, bisa juga, skill menulis itu masih barang langka kala itu.
Sependek pengetahuanku (tolong dikoreksi kalau keliru), upaya pendokumentasian hadis tertua secara “agak profesional” dilakukan oleh Imam Malik bin Anas (711-795) dalam kitab al-Muwatta, lebih dari seabad pasca wafatnya Nabi Muhammad (w. 632). Konon Hafsah atau Aisyah juga pernah mengoleksi sejumlah perkataan nabi tapi tidak seprofesional Imam Malik. Imam Maliki ini dikenal sebagai pendiri Mazhab Maliki yang berpengaruh di sejumlah kawasan umat Islam khususnya di negara-negara di Afrika Utara dan Afrika Barat. Konon beliau membutuhkan waktu selama 40 tahun untuk mengoleksi hadis ini.
Meski begitu, beliau cuma “mengoleksi” (sebagian) hadis saja, belum melakukan sistematisasi dan kanonisasi hadis secara metodologis-sistematis yang baru dilakukan sekitar abad ke-9 (sekitar 200 tahun setelah wafatnya Nabi), era ketika dunia Islam mengalami surplus para ilmuwan, termasuk ilmuwan hadis yang keren-beken seperti saya sebutkan di atas.
Lalu, apakah ada kelompok umat Islam yang menolak otoritas hadis sama sekali? Ada. Namanya Qur’aniyyun, yaitu kelompok mazhab Qur’aniyyah (didirikan oleh Ibrahim al-Nadham). Kelompok ini semacam gerakan Karaite di Yahudi atau Sola Scriptura di Protestan. Kapan-kapan saja jelaskan tentang kelompok ini. Jadi, jelasnya memahami hadis itu sangat kompleks sekali. Karena itu, boleh saja “mendalil hadis” tapi santai dan terbuka saja tak perlu ngotot: “Hadisnya begini…” apalagi sambil bawa golok, clurit, atau keris. Karena hadismu belum tentu hadis bagi yang lain. [SQ] [HM]

 

Baca Juga  Pendidikan Islam dan Naskah Kuno Keislaman Nusantara
Sumanto Al Qurtuby Direktur Nusantara Institute; Associate Professor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Saudi Arabia