GUS DUR DAN KONSEP GERAKAN ISLAM INDONESIA

Sumber: https://twitter.com/santriGD

Indonesia adalah salah satu negara yang pranata sosialnya banyak terbangun oleh ajaran keagamaan, bahkan pranata sosial yang dianggap bersebrangan dengan ajaran keagamaan, oleh kaum agamis dikaji dan kemudian dirubah menjadi pranata sosial yang lebih baik menurut paham keagamaan tertentu, atau lebih sederhananya kaum agamis acap kali memfilter pranata sosial yang sudah terbangun dengan ajaran agamanya, namun tidak merubah esensi daripada pranata sosial mulanya.

Kehidupan beragama di Indonesia ditandai dengan adanya tempat ibadah, ritual keagamaan, organisasi keagamaan, kantor organisasi keagamaan, poster, baliho, bendera dan sebagainya. Islam adalah salah satu agama yang jumlah penganutnya paling banyak di Indonesia sudah sewajarnya jika Islam melahirkan banyak oragnisasi, mulai dari Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama’, Darul Islam, Masyumi, FPI dan lain-lain. Organisasi Islam ini muncul untuk membumikan ajaran Islam dan memperbaiki pranata sosial. Ringkasnya munculnya organisasi keagamaan di Indonesia adalah bentuk sebuah respon kritis penganut agama terhadap realitas sosialnya.

Organisasi Islam yang bersifat sosial keagamaan seharusnya bukan hanya menjadi pelopor untuk menjalankan ritual keagamaan, tetapi melalui pendekatan kultural seharusnya dapat menjadi pelopor gerakan Islam untuk menciptakan pranata sosial dan kesejahteraan di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kemudian organisasi Islam yang bersifat politik seharusnya dapat melakukan pendekatan politis terhadap pemerintah untuk mendukung dan mengawal seluruh aspirasi masyarakat serta menjadi organisasi yang selalu kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Memperhatikan realitas di atas penulis menyimpulkan agama dan organisasinya adalah salah satu instrument yang sangat berdampak atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi di lapisan masyarakat Indonesia, Namun melihat organisasi-organisasi gerakan Islam dewasa ini penulis menilai organisasi-organisasi gerakan Islam perlu membaca dan mengkaji ulang gagasan tertulis Gus Dur yang berjudul Massa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa.

Setidaknya ada tiga konsep yang saling berkesinambungan dalam gagasan Gus Dur tersebut. Yaitu, Arti Umat, Tujuan Perjuangan dan Format Perjuangan, tiga konsep ini menjadi tolok ukur yang harus diperhatikan oleh organisasi gerakan islam Indonesia dalam memperbaiki tubuh organisasi atau me-refresh gerakan organisasi Islam Indonesia.

Perubahan – perubahan arti itu berjalan mengikuti meluas atau menyempitnya wawasan perjuangan gerakan – gerakan islam yang ada. Semula, dalam abad – abad yang lalu umat islam hanya meliputi sesama kaum muslimin yang tinggal disebuah Kawasan, yaitu kretika masyarakat suku – suku bangsa Indonesia masih dijajah oleh pemerintah kolonial. Setelah itu, kata tersebut berkembang, meliputi semua kaum muslimin diseluruh dunia, yaitu ketika bangsa – bangsa muslim dijangkiti rasa gairah untuk memerdekakan diri dari penjajahan. Kemudian kata tersebut berubah liputannya, menjadi hanya sesama kaum muslimin yang membentuk nasion Indonesia. Makin kemudian lagi kata “umat” lalu hanya meliputi mereka yang masuk (atau dimasukkan ke dalam) gerakan – gerakan formal islam. (Lihat : K.H. Abdurrahman Wahid, Islam Sosialisme & Kapitalisme, 2000 : 70)

Kutipan Gus Dur diatas hendaknya dapat direnungkan dan dikaji secara komprehensif oleh organisasi gerakan Islam Indonesia dewasa ini, Penulis menilai “arti umat” menjadi konsep yang paling dasar untuk menentukan tujuan perjuangan serta format perjuangan, karena penentuan “Arti Umat” berarti penentuan siapa yang hendak diperjuangkan oleh organisasi gerakan Islam Indonesia. Apakah kaum muslimin yang masuk dalam organisasi,? kaum muslimin dalam konteks suatu nasio Indonesia,? Kaum muslimin dalam konteks dunia,? atau memperjuangkan umat (semua manusia) di muka bumi?.

Jika “arti umat” atau siapa yang hendak diperjuangkan sudah ditentukan maka tujuan perjuangan akan bisa ditentukan, karena tujuan perjuangan sifatnya bergantung ke “Arti Umat” atau siapa yang hendak diperjuangkan. Misalnya yang diperjuangkan oleh organisasi gerakan Islam adalah umat atau seluruh manusia di muka bumi maka tujuan perjuangannya li maslahatil ummat bukan li maslahatil muslimin.

Setahap demi setahap jika “arti umat” atau siapa yang hendak diperjuangkan dan tujuan perjuangannya sudah mendapati titik temu, maka format perjuangan menjadi konsep penyempurna gerakan organisasi Islam Indonesia seerta dalam penyusunan dan penerapannya harus berorientasi lurus dengan tujuan perjuangan.

Ketiga konsep ini sangat fundamental dan sangat sesuai untuk dijadikan rujukan perbaikan organisasi gerakan islam Indonesia dewasa ini, ketiga konsep ini saling berkesinambungan dan ibarat rukun wudhu’ yang harus dilakukan secara berurut – urut.

Ketiga unsur yang digambarkan itu Batasan arti umat, tujuan perjuangan dan format perjuangan merupakan tolok ukur dari sebuah tilikan yang lengkap tentang perjuangan massa Islam di sebuah Kawasan. (Lihat : K.H. Abdurrahman Wahid, Islam Sosialisme & Kapitalisme, 2000 : 72)

Memperhatikan konsep Gus Dur tersebut penulis menilai organisasi gerakan Islam hendaknya memperjuangkan seluruh masyarakat Indonesia dengan tidak memandang perbedaan Ras, Suku, Etnis, Budaya maupun Agama (SARA). Serta organisasi gerakan Islam Indonesia dalam bergerak hendaknya tidak hanya berkutat soal ritualitas, tapi organisasi gerakan Islam Indonesia juga harus membuat gerakan-gerakan perubahan tatanan sosial yang kongkret serta organisasi gerakan Islam Indonesia harus selalu hadir untuk bahu-membahu menggerakkan dan membangun negeri. Pandangan  ini senada dengan apa yang ditegaskan oleh Asghar Ali Engineer.

Agama harus mentransformasikan diri menjadi alat yang canggih untuk melakukan perubahan sosial, menjadi sebuah agen yang secara aktif melakukan perubahan terhadap tatanan sosial yang telah usang. (Lihat : Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, 2009 : 89)

Dalam tulisannya Gus Dur juga  menjelaskan panjang lebar organisasi modern Islam Indonesia pertama yaitu Sarekat Islam, dan memperhatikan tulisan tersebut. Penulis menilai Sarekat Islam dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan oleh organisasi gerakan islam Indonesia dewasa ini. Melihat dalam prosesnya terdapat lompatan besar di tubuh Sarekat Islam, yang mulanya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang perjuangannya berkutat soal ritualitas dan kesejahteraan anggotanya, menjadi Sarekat Islam (SI) yang perjuangannya lebih ke perbaikan nasib seluruh rakyat Indonesia.

“Ada sebuah lompatan besar dari SDI ke SI suatu lompatan berupa pertumbuhan dari kesadaran yang semula hanya untuk memajukan kesejahteraan dan kualitas hidup anggota belaka, menjadi kesadaran akan perlunya sebuah sistem kekuasaan yang akan menciptakan kesejahteraan yang diinginkan itu” (Lihat : K.H. Abdurrahman Wahid, Islam Sosialisme & Kapitalisme, 2000 : 78)

Simpulnya penganut agama Islam harusnya sholeh ritual dan sholeh sosial artinya bukan hanya baik dan benar dalam melakukan ritual keagamaan tapi harus baik dan benar juga dalam menjalankan kehidupan sosial. Dan organisasi gerakan islam hendaknya menjadi tangan panjang agama untuk melakukan gerakan perbaikan tatanan kehidupan diseluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bung karno dengan tulisannya yang berjudul Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme dalam buku Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 menegaskan.

“Islam yang sejati mewajibkan pada pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat diantara mana ia hidup.” (Lihat : Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1, 2005 : 10)

(MMSM)

0

Santri Ngalah dan Kader GMNI Yudharta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.