S.Mahmudah Noorhayati Dosen IAI Nasional Laa Roiba Bogor.

Covid-19 dan Penguatan Komunikasi Keluarga

2 min read

Lahirnya Keppres nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan masyarakat didorong oleh meningkatnya kasus penyebaran Coronavirus Disease (covid-19) di tanah air. Dampak pandemik covid-19 ini diduga turut memberi sumbangsih keretakan rumah tangga. Sektor ekonomi yang terdampak menyebabkan banyak perusahaan alami keguncangan sirkulasi produksi dan pemasaran sehingga pemecatan atau pemutusan hubungan kerja karyawan tak terelakkan.

Penetapan masa karantina sebagai tindakan mitigasi resiko penyebaran penyakit memaksa individu atau kolektif melakukan aktifitasnya dari bilik terkecil suatu kelompok masyarakat yang disebut keluarga. Praktis seluruh anggota keluarga memiliki intensitas bersama dalam satu tempus dan lokus yang hampir jarang dilalui secara maksimal.

Sebagai pekerja, seorang suami atau istri (ayah/ibu) melakukan pekerjaannya secara work from home (WFH). Sementara anak-anak melakukan aktifitas sekolahnya secara daring, belajar dari rumah (BDR). Dengan sistem bekerja dan belajar seperti ini otomatis tingkat interaksi antar anggota keluarga sangat tinggi sehingga memunculkan banyak komunikasi.

Pertanyaan yang muncul kemudian mungkinkah covid akan berdampak positif bagi penguatan komunikasi keluarga atau sebaliknya, sebagai penyumbang keretakan keluarga?

Idealisme Keluarga

Membangun keluarga berkualitas adalah cita-cita dan dambaan setiap manusia. Keluarga sebagai bagian inti dan awal kehidupan bagi manusia memiliki peran penting dalam menyiapkan dan membentuk karakter serta kepribadian suatu bangsa.

Dari keluarga-lah benih cinta dan kasih sayang pertama kali disemai. Cinta suami terhadap istri dan sebaliknya, cinta orangtua terhadap anak dan sebaliknya juga cinta terhadap lingkungan sekitarnya.Cinta adalah hal penting dan mendasar yang harus diperhatikan, dijaga, dipupuk, dipertahankan dan ditumbuhsuburkan dalam keluarga.

Keluarga ideal sebagaimana yang dipesankan dalam Alquran adalah keluarga yang mampu mensinergikan konsep sakinah, mawaddah dan rahmah, serta mampu menghadirkan nilai ketenangan, ketentraman, cinta dan kasih sayang di setiap saat dalam interaksi satu dengan lainnya.

Baca Juga  Halal Bihalal Virtual dan Fenomena Ber-Zoom Ria

Ada “kesalingan” (mubadalah/partnership) yang mewujud pada satu tujuan yaitu menggapai Ridlo Allah SWT. “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih saying. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 21)

Komunikasi adalah Kunci

Covid-19 mengindikasikan munculnya shock culture di seluruh sektor kehidupan. Sektor pendidikan, sektor ekonomi, sektor sosial, sektor agama, sektor budaya , dan sebagainya. Perubahan tatanan sosial ini berdampak pada kehidupan keluarga. Bagaimana peliknya ekonomi keluarga, manajemen pendampingan anak serta membangun emosional dan ketundukan kepada agama.

Sependek pengamatan penulis, terdapat dua tipikal keluarga dalam menghadapi covid-19 ini. Pertama, tipe keluarga yang memanfaatkan momen karantina sebagai quality time. Keluarga ini berusaha menerima covid-19 sebagai peringatan atau teguran Allah SWT sehingga memunculkan sikap bermuhasabah, memperbaiki diri.

Asumsi positif ini menumbuhkan prinsip kesalingan/ partnership antar anggota keluarga, saling mengingatkan, saling menjaga, saling menguatkan, saling mensupport sehingga tugas khalifah fil ardl dapat dijalankan secara bersama.

Kedua, tipe keluarga yang merespon covid-19 sebagai musibah, sehingga apapun yang mengiringinya adalah sebuah keburukan, kesialan dan petaka. Asumsi negatif ini tak henti-henti mendorong anggota keluarga untuk selalu menghujat dan berseloroh kapan musibah ini berakhir.Ketidaksanggupan menjalani kehidupan yang abnormal menyulutkan bara dalam sekam. Intensitas pertemuan keluarga 24 jam menjadi boredom, dan ketersiksaan.

Bagaimanapun, Covid-19 dengan segala atribut dan dampak yang menyertainya harus dihadapi dan dijalani setiap keluarga. Kondisi ketidakstabilan perekonomian keluarga, ketidaksiapan pendampingan belajar anak, ketegangan mental-spiritual ini memicu stress condition yang menyebabkan ketegangan, lekas marah, cemas, khawatir, kehilangan konsentrasi dan gairah. Sehingga kegaduhan atau perselisihan dalam keluarga menjadi hal yang tak terhindarkan.

Baca Juga  Normal Baru, Jangan Ikut Mengubah Pemahamanmu [Bag 2-habis]

Sangat penting untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan dalam keluarga. Tantrum, konflik-konflik rumah tangga hingga perceraian bermuara pada pendeknya komunikasi yang dibangun dalam sebuah keluarga. Penting kiranya memperhatikan pola interaksi dan komunikasi.

Koerner, A.F., & Fitzpatrick, M.A. (2002) menjelaskan komunikasi memiliki peran penting dalam meningkatkan sebuah kualitas dalam suatu keluarga. Komunikasi keluarga dapat dilakukan dengan pendekatan simbol-simbol yang sudah menjadi kesepakatan dalam sebuah keluarga. Komunikasi yang baik akan menghasilkan kesehatan mental dan jiwa yang baik pula. Komunikasi merupakan salah satu kunci keluarga tangguh dan berdaya.

Pola komunikasi internal keluarga akan menghasilkan persepsi masing-masing anggota keluarga. Neurolinguistik sebagai kecerdasan berbahasa menjadi magnet dalam meminimalisir konflik yang dibangun oleh nuclear family (keluarga inti).

Seorang suami bagaimana memilih diksi untuk tidak menyinggung aktifitas domestik istrinya. Mencoba memberikan bantuan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah atau memantau anak-anak dengan penuh ketulusan. Seorang istri bagaimana tidak melukai perasaan suami -yang mungkin- sedang tidak stabil secara finansial dan tetap menghormatinya. Seorang anak tetap menunjukkan kepatuhan pada orangtua dan merasakan kenyamanan di dalam rumah meski harus meninggalkan kebutuhan interaksi sosial dengan temannya.

Komunikasi menjadi medium yang sangat terbuka membicarakan setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Jika demikian maka jangan pernah memberi ruang covid-19 sebagai penyumbang keretakan rumah tangga.

Melakukan komunikasi verbal, non verbal, sikap menghargai, konsistensi ucapan serta perilaku dan komitmen antar anggota keluarga adalah mutlak yang mengindikasikan kokohnya pondasi komunikasi keluarga yang akan menggiring pada kesejahteraan psikologis seluruh anggota keluarga. [HM]

S.Mahmudah Noorhayati Dosen IAI Nasional Laa Roiba Bogor.