Slamet Makhsun Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga; Alumnus PP Muntasyirul Ulum Yogyakarta

‘Kematian’ Tuhan dan Kritik M. Quraish Shihab

2 min read

Abad 18 dan 19 merupakan serangan tajam bagi agama-agama di dunia. Pasalnya pada abad-abad tersebut begitu banyak ilmuwan atau filsuf yang menentang bukti adanya Tuhan dengan berbagai argumen ilmiah dan narasi-narasi yang dibangun untuk ‘memusnahkan Tuhan’. Mereka percaya bahwa agama adalah buatan manusia, Tuhan adalah ilusi belaka.

Agama-agama yang berdiri kokoh sejak ribuan tahun yang lalu, sedikit demi sedikit mulai terkikis dan kehilangan pengikut setianya. Ateisme benar-benar telah menjadi agenda yang nyata. Inilah abad ketika Sigmund Freud, Nietzsche, Charles Darwin, Karl Marx, dan Ludwig Feurbach menyusun berbagai karya ilmiah dan penemuan filosofisnya tanpa memberi ruang sedikit pun kepada Tuhan, bahkan cenderung menyerangnya. Ajaran-ajarannya memiliki pengaruh luas di Eropa dan Amerika.

Mengutip Karen Armstrong dalam buku berjudul Sejarah Tuhan, “Pada akhir abad itu, sejumlah besar orang mulai merasakan bahwa sekiranya Tuhan belum mati, maka adalah tugas manusia yang rasional dan terdorong untuk membunuh-Nya.”

Secara umum para ilmuan dan filosof abad 18 dan 19 beraliran filsafat naturalisme. Filsafat naturalisme yang dimaksud adalah suatu sekte dalam filsafat yang tidak menerima realitas lain selain alam dan dunia indra. Oleh sebab itu, seorang naturalis (julukan bagi pengikut paham naturalisme) akan menganggap bahwa manusia adalah bagian dari alam. Dan, seoarang naturalis akan menggantungkan dirinya pada alam, bukan pada takhayul-takhayul rasionalistik, mitos, bahkan agama atau Tuhan sekalipun.

Karl Marx (1818-1883) seorang filsuf dan pakar ekonomi, pernah mengatakan bahwa agama adalah candu. Menurutnya, seseorang yang beragama akan menggantungkan segala harapannya kepada Tuhan, sehingga tidak mau berusaha keras untuk mengubah keadaan hidupnya.

Inilah kiranya yang merisaukan pikiran Marx, bahwa ekonomi orang yang beragama tidak akan pernah mengalami kemajuan, karena terlalu pasrah dengan Tuhan. Solusinya, kata Marx, agama harus dilepaskan dari seseorang agar ekonominya bisa terangkat. Marx menambahkan bahwa ideologi-ideologi (termasuk agama) manusia, merupakan produk dari dasar masyarakat.

Baca Juga  Belajar Zuhud Progresif dari Tarekat Shadhiliyyah di Jombang

Ludwig Andreas Feurbach (1804-1872) juga berpendapat bahwa Tuhan hanyalah hasil proyekasi manusia. Gagasan tentang Tuhan telah mengucilkan manusia dari hakikat dirinya sendiri dengan menempatkan kesempurnaan yang mustahil di atas kelemahan manusia. Dikatakan Tuhan suci, sedangkan manusia kotor; tuhan tidak terbatas, sedangkan manusia terbatas; Tuhan maha kuasa, sedangkan manusia lemah. Tentu, perkataan Feurbach tersebut sangat membahayakan iman bagi setiap pemeluk agama.

Charles Darwin dalam karyanya yang berjudul The Origin of Spesies (1859) mengungkapkan berbagai hipotesis yang revolusioner, yang sangat bertentangan dengan pemahaman agamawan kala itu.

Manusia, bagi Darwin bukanlah ciptan Tuhan, melainkan hasil cipta dari suatu evolusi biologis yang berlangsung sangat lama, sejak ribuan tahun yang lalu. Penelitiannya di pulau-pulau yang ia kunjungi tentang paruh burung yang berbeda-beda bentuk padahal sama jenisnya, mengantarkan Darwin pada hipotesis bahwa segala sesuatu yang bernyawa akan berevolusi demi mempertahankan hidup dan kelanjutan keturunanya, termasuk manusia.

Bahkan dengan sangat yakin dan ilmiah, Sigmund Freud (1856-1939), bapak psikologi modern, menganggap bahwa kepercayaan kepada Tuhan hanya sebagai ilusi yang harus ditinggalkan manusia. Gagasan tentang Tuhan bukanlah suatu kebohongan, melainkan sarana alam bawah sadar yang perlu diuraikan lebih dalam oleh psikolog. Tuhan hanya proyeksi-proyeksi keinginan, ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya yang dialami.

Itulah beberapa argumen dan narasi-narasi para filsuf yang menentang adanya Tuhan. Perlu diketahui, gerakan ateisme nyata yang dilakukan para filsuf tersebut, mengandung serangan hebat bagi semua agama, terlebih agama Samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam).

Tapi, dengan gamblang Prof. M. Quraish Shihab membantah semua argumen dan narasi-narasi filsuf ateis di atas. Dalam buku Membumikan Al-Quran, beliau memulai dengan menukil pendapat Alexis Carrel, seorang sarjana Prancis ahli bedah dan fisika, “Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ahli yang memperlajari manusia hingga kini masih tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-daerah yang tidak terbatas dalam diri (batin/spiritual) kita yang tidak diketahui.”

Baca Juga  Sosok Kiai Abdul Ghofur, Ulama-Cum-Pengusaha

Bagi orang yang beragama, kiranya untuk mengetahui daerah-daerah yang tidak terbatas tersebut, manusia membutuhkan pengetahuan dari Tuhan sebagai pencipta manusia. Yang dalam hal ini, agama adalah limpahan pengetahuanNya.

Prof. Quraish Shihab merujuk pada Alquran surah Shad ayat 72-71 tantang penciptaan manusia. Pada awalnya manusia diciptakan dari tanah, setelah bentuk-bentuk tubuhnya sempurna, maka Tuhan meniupkan ruh (nyawa) padanya.

Dengan “tanah”, manusia dipengaruhi kekuatan alam seperti makhluk-makhluk bumi lainnya sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan lain-lain. Sering disebut dengan dimensi material atau sifat hayawaniyah manusia.

Dengan “ruh”, manusia diantar ke arah tujuan non material yang tak berbobot dan tidak bersubstansi. Dan hal ini, dari dulu sampai sekarang tidak dapat diukur atau diperhitungkan dengan nalar manusia. Lazimnya sering disebut dimensi spiritual. Dimensi inilah yang mendorong manusia untuk cenderung menuju keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, cinta, dan lain-lain, yang akan mengantarkannya kepada Tuhan yang realitas sifatnya Maha Sempurna; tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir.

Dengan berpegang terhadap pemahaman diatas, manusia akan melampaui batas dimensi tanah, sehingga bisa menjalani hidup dengan indah dan penuh makna dari Tuhan.

Catatan akhir saya, para filsuf yang mengingkari tantang adanya Tuhan, mereka hanya berfokus dan muter-muter pada pembahasan manusia dalam dimensi tanah. Sedangkan dimensi ruh atau spiritualnya, sama sekali tidak mereka sentuh. [MZ]

Slamet Makhsun
Slamet Makhsun Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga; Alumnus PP Muntasyirul Ulum Yogyakarta