Rasulullah Tidak Menganjurkan untuk Berpoligami

2 min read

Bincangsyariah.com

“…maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua dan tiga, dan empat… (…fankihuu maa thaaba lakum minan nisaa-i matsna wa tsulaasa wa rubaa’…)”. Seorang ustadz pernah berkata bahwa batas poligami adalah sembilan istri. Merujuk pada kata “wa” dalam ayat yang diartikan sebagai penambahan. Dua tambah tiga tambah empat, hasilnya adalah sembilan.

Rupanya ustadz telah melupakan bahwa sambungan ayat itu adalah …lalu, bila kalian khawatir tidak adil, maka nikahilah satu orang perempuan saja…“. Adil adalah sebuah syarat mutlak dari sebuah poligami. Namun, syarat ini adalah sebuah kemustahilan. Sebuah pertanda bahwa poligami juga mustahil jika dilakukan. Bahkan Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa perilaku adil tidak akan dapat dilakukan oleh pelaku poligami.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…” (QS. An-Nisa : 129)

Poligami memang dilakukan Rasulullah saat itu. Karena hanya poligami satu-satunya jalan untuk melindungi hak-hak perempuan saat itu. Waktu itu tidak ada Komnas perempuan, tidak ada LSM perempuan, tidak ada hukum yang melindungi perempuan dan hak-haknya kecuali ikatan pernikahan.

Namun, sesungguhnya Rasulullah tidak melakukan poligami saat beliau beristrikan Sayyidah Khadijah selama dua puluh lima tahun pernikahannya. Hal ini membuktikan bahwa monogami yang telah dilakukan Rasulullah adalah pilihannya. Bahkan saat kematian menghampiri Sayyidah Khadijah, Rasulullah berkabung satu tahun lamanya, tanpa menikahi perempuan lain.

Setelah satu tahun berselang, Rasulullah melakukan poligami, namun tidak dengan perempuan perawan, melainkan para janda yang ditinggal syahid oleh para suaminya di medan perang. Jika poligami hanya sekedar nafsu, pastilah Rasulullah akan melakukan poligami di usia mudanya, namun faktanya tidak begitu. Ini membuktikan bahwa poligami Rasulullah adalah bentuk upaya penyelamatan atas hak-hak perempuan janda dan perlindungan bagi mereka.

Baca Juga  Surau Tanpa (Papan) Nama: Rumah Ibadat yang Tak Mementingkan Formalisme

Namun, fenomena poligami hari ini berbeda yang mana laki-laki mencari perempuan  lebih muda, lebih cantik, lebih kaya untuk menjadi istri keduanya. Untuk apa? Apakah mereka merupakan perempuan lemah, yang hak-haknya terancam? Tidak. Jelas poligami ini hanya sekedar masalah nafsu laki-laki. Inilah mengapa poligami tidak lagi relevan untuk dilakukan hari ini.

Memang benar, jika apapun yang dilakukan Rasulullah, dikatakan, dan diputuskan oleh Rasulullah adalah Sunnah. Poligami memang dilakukan Rasulullah, namun Rasulullah juga melarang Ali bin Abi Thalib melakukan poligami atas istrinya Fatimah. Bahkan dalam hal ini, Rasulullah menyatakan bahwa Fatimah adalah bagian darinya, apa yang menyakiti Fatimah, juga menyakiti Rasulullah. Sebuah isyarat bahwa poligami akan menyakiti Fatimah, maka Rasulullah melarang Ali menduakan Fatimah.

Sebenarnya ada hal menarik terkait putri-putri Rasulullah. Keempat putrinya, yakni Zainab yang menikah dengan Abul Ash, Ruqayyah dan Ummi Kultsum yang menikah dengan  Utsman, dan Fatimah yang menikah dengan Ali. Semuanya tidak ada yang dipoligami. Dan dalam kasus Utsman yang menikahi Ruqayyah dan Ummi Kultsum, dua putri Rasulullah karena Ruqayyah telah wafat, dan setelah itu Utsman menikahi Ummi Kultsum, tanpa adanya poligami semasa Ruqayyah masih hidup. Sebuah fakta bahwa poligami tidak terjadi pada putri-putri Rasulullah.

Seorang anggota lembaga ulama senior Arab Saudi, Syaikh Abdul Karim Al Khudair mengatakan, jika terdapat perbedaan antara perbuatan dan perkataan Rasulullah, maka Sunnah perkataan Rasulullah lah yang didahulukan. Sebagaimana pada kasus poligami, larangan Rasulullah pada Ali tentang poligami lebih didahulukan daripada tindakan poligami yang dilakukan Rasulullah. Hal ini karena perbuatan Rasulullah tidak dapat digeneralisasi, sedangkan perkataan Rasulullah bersifat general.

Menurut Lies Marcoes, seorang aktivis feminis muslim Indonesia, tatkala mengambil pandangan seorang pendidik dan filsuf dari Brazil, Paulo Freire tentang poligami. Ia menyatakan bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan, seperti ketika perempuan sebagai korbannya sampai dibuat kehilangan daya, harga diri, dan logikanya. Mereka terpaksa menerima poligami meskipun harus mengalami penderitaan yang luar biasa dan tak sedikit yang menganggap bahwa penderitaan itu adalah bagian dari pengorbanan yang harus dijalani.

Baca Juga  Tafsir Maqāshidī dan Gerakan Pembaruan Tafsir

Terlebih, dalam kehidupan sosial hari ini, poligami bagaikan buah simalakama bagi setiap perempuan. Istri tua akan mendapatkan stigma sebagai perempuan yang gagal menjaga suaminya. Dan istri muda akan mendapatkan stigma perempuan “gatal” yang merebut kebahagiaan perempuan lainnya. Poligami menyakiti perempuan, adalah sebuah kenyataan. Inilah mengapa Sunnah perkataan Rasulullah didahulukan daripada Sunnah perbuatan Rasulullah.

Mengutip kata-kata mbak Asma Nadia dalam buku Istana Kedua, “Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada seorang lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”. Tidak ada poligami yang tidak menyakiti perempuan. Rasulullah bahkan melarang menantunya untuk melakukan poligami atas putrinya. Lalu, masihkah para lelaki berlindung di balik kata Sunnah Rasulullah dalam praktik poligami? (mmsm)

Sulma Samkhaty Maghfiroh