Akhmad Faozi Sundoyo Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pandemi, Tirakat dan “Raos Sami”

3 min read

kuasakata.com

Pandemi ini memang berat, tetapi ada yang lebih dari itu yakni ketika masa pendudukan Jepang. Ketika pulang ke kampung, kakek saya seringkali berkisah tetang masa-masa ia muda. Masa di mana terselip ingatan tentang zaman Jepang (1940-an).

Pada waktu itu nyawa begitu murah, pangan dan sandang begitu mahal. Petani yang bertani padi saja, sering tidak punya hak atas padinya sendiri. Padi, beras, nasi adalah kosumsi para ningrat dan priyayi (pegawai pemerintah). Orang-orang desa, lebih akrab dengan gaplek (ketela kering) dan bonggol pisang untuk makan sehari-hari. “Jika terlihat ada tumpukan daun-daun yang dikerubungi lalat, itu mayat”, kata kakek. Dan itu lumprah ditemui di pinggir-pinggir jalan.

Ketika saya mendata masjid-masjid di tingkat perdukuhan, saya berjumpa dengan pengurus masjid tersebut ada yang seusia kakek saya. Di penghujung kunjungan, ia berudar rasa. “Sak rekoso-rekosone jaman sak iki, ijeh rekoso jaman biyen. Masiyo pandemi koyo ngene, sandang-pangan lan liya-liyane ijeh kecukupan”. Walaupun ada yang terdampak secara ekonomi, tetapi secara umum kenyamanan dan ketercukupan hidup masih baik-baik saja. Demikian pungkas mbah Jaman, seorang sesepuh desa Panjangrejo, Bantul.

Testimoni dari dua karib zaman itu menunjukkan ada satu masa dimana tanpa perlu terjelang pandemi, manusia sudah kalang kabut bertahan hidup. Dan di tempat lain, kesengsaraan-kesengsaraan tersebut bisa berkali-kali lipat lebih antap.

Tirakatan

Selain karena tampil berseiring live PPKM berkelanjutan, Agustusan tahun ini bersamaan dengan wulan Suro. Bagi sebagian orang Jawa, Suro atau Muharram bukanlah bulan biasa. Di dalamnya memuat harapan, ritus, dan kesakralan yang erat. Di Bulan ini terdapat pamali atau pantangan, menyelenggarakan gawe mantu (nikahan) dan hajatan penting. Hal ini tak lain karena karakter bulan Suro yang lebih cocok digunakan untuk bertirakat daripada berpesta-raya.

Baca Juga  Menunggu Kontribusi Agen Moderatisme Islam di Indonesia

Ada banyak alasan mengapa Suro disakralkan dan mengapa mesti ditirakati. Tragedi Karbala yang menewaskan Husein, cucu Nabi, secara tragis di bulan ini, menjadi salah satu alasan. Napak tilas hijrahnya Nabi ke Madinah yang tidak lempang dan nyaman, menjadi alasan lain. Dan sebutan “Suro” sendiri menurut jelajah kepustakaan serat (Ahmad Baso, 2019) dirujukkan pada kata As-Syuro yaitu tanggal 10 Muharram yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) “berpuasa”. Berpuasa adalah saudara sekandung dari tirakat.

Orang-orang dulu gemar bertirakat. Puasa mutih (hanya makan nasi dan air putih), ngebleng (puasa sehari semalam penuh), pati geni (tidak tidur), masih sering diwicarakan saat saya kecil. Ragam puasa tersebut ada yang tujuh hari, matangpuluh (empat puluh hari), dan ada yang bertahun-tahun. Iya, bertahun-tahun!

Praktik-praktik itu begitu resap di tiap ruas kehidupan masyarakat Jawa. Lebih-lebih ketika datang wabah atau pagebluk, tirakat menjadi keharusan. Misalnya tradisi Rebo Wekasan di Wonokromo yang diinisiasi Sultan Agung untuk melingsirkan pagebluk dari tlatah Mataram Islam bertitimangsa 1600-an.

Secara umum, kata tirakat—bila dicuplik dari kamus—berarti berpuasa (menahan nafsu) dan bersunyi dari keramaian. Bagi Emha Ainun Nadjib dalam Tidak. Jibril Tidak Pensiun (2007), tirakat adalah laku menidak: memilih “tidak” untuk sesuatu yang sebenarnya boleh-boleh saja. Misal, seorang wanita boleh saja melahap rujak nanas, minum soda, tidur tengkurap, jingkrak-jingkrak, dan mendaki gunung di hari biasa. Tetapi ketika ia sedang hamil tua, semua itu di-tidak-kan. Semata karena tanggung jawab supaya kandungannya sehat dan selamat.

Di era Tik-Tok, dzikir android didawamkan, pansos medsos berseliweran, dan bentangan baliho-baliho iklan mengangkangi jalanan, tirakat model lama sudah bernisan. Tetapi esensi tirakat sebagai “penempaan diri” belum tumbang. Dengan frekuensi dan sekuens khasnya sendiri, tirakat membersamai zaman.

Baca Juga  Kecendekiawanan, Benarkah Arahnya Berubah?

Menirakati Diri

Pada prinsipnya tirakat dilakukan untuk mengembangkan diri, sehingga seseorang memiliki kecakapan khusus dari hasil prihatin itu. Walaupun ada kesan tirakat diresapkan pada aspek mistis, tetapi tidak melulu seperti itu. Sealir dengan arus waktu, tirakat pun mengalami dinamisasi orientasi.

Konsep tirakat lebih persis bila dimaknai sebagai kesengajaan mengintensikan energi terhadap satu aspek tertentu. Joko Pinurbo, sastrawan, melihat susahnya hidup dan ragam keterbatasan bisa menjadi tirakat khusus untuk mematangkan kekayaan. Sebuah karya puisi lahir dari menirakati kata dan pengalaman hidup secara konsisten, terang pencipta puisi gaya baru itu. Proses itu bisa sangat lama, tetapi sepadan dengan ‘hasil’. Bandingkan dengan Malcom Gladwell tentang ‘teori 10.000 jam’ untuk menjadi seorang pakar, bukankah mirip?

Konsep tirakat yang melulu dilekatkan pada praktik mistik, telah banyak dikritik dan dikoreksi. Pada 1930-an, Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) termasuk kritikus garis depan perihal konsep tirakat semacam itu. Praktik tirakat dengan berpuasa, bertapa, mendatangi tempat-tempat keramat, malah lebih sering memperunyam masalah daripada menyelesaikan masalah. Misalnya, orang berpuasa supaya kaya. Bagaimana bisa miskin kreativitas diatasi dengan puasa dan membakar dupa? Tidak nyambung, Bung. Itu kata Ki Ageng Suryomentaram.

Tirakat sebagai perlambang ‘intensi energi’ seharusnya diselaraskan dengan hukum rasionalitas, korelasi-koherensi dan keterbuktian (evidensi). Bagi Ki Ageng Suryomentaram, intensi energi lebih tepat bila diarahkan sebagai pangawikan pribadi. Yakni, sebentuk kesungguhan memahami diri sendiri—benar-benar diri sendiri—dengan pikiran terang dan dewasa sehingga karakteristik dan potensi yang ada pada diri dapat diweruhi.

Setelah diri diweruhi (dipahami) akan muncul sikap mawas diri. Mawas diri ini pada gilirannya akan menumbuhkan dan memperkuat kesadaran raos sami terhadap liyan. Rasa ‘ingin menang sendiri’ terkikis, sehingga kepentingan bersama lebih diperhatikan dari sebatas merasa enak dan nyaman sendiri-an. Raos sami adalah menganggap orang-orang di sekeliling diri—bahkan di seluruh dunia—sedang memikul masalah atau kesengsaraan yang sama.

Baca Juga  Cara Isolasi Mandiri Di Rumah

Jika konsep raos sami ini diruangkan bersama krisis pandemi, setidaknya ada tiga jenis tirakat yang dibutuhkan. Pertama, menseriusi melihat diri sendiri. Fokus membangun kemandirian, mengurangi “menyalahkan” sana-sini. Kedua, menunda atau membatasi kesenangan-kesenangan diri sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama; Bukan sebatas memasang twibbon “lawan Covid-19” di potret profil, karena sebenarnya itu tak lebih dari bentuk kesenangan lain. Ketiga, rutin meluangkan waktu khusus untuk mendoakan kebaikan bersama. (mmsm)

Akhmad Faozi Sundoyo Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta