Taschiyatul Hikmiyah Mahasiswa KPI UIN Sunan Ampel Surabaya

Islam dan Justifikasi Media Sosial

2 min read

Sumber: Digitalbisa

Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wassalam sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia hingga hari akhir. Mayoritas muslim meyakini bahwa Islam ialah agama yang didasari oleh iman pramodial dan dapat membawa manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Islam berakar dari kata “salm.” As-Salmu dapat diartikan sebagai damai atau kedamaian. Hal ini senada dengan Firman Allah SWT dalam Alquran, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian (lis salm), maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal : 61).

Esensi Islam Universal

Islam merupakan salah satu dari sekian ragam agama yang dianut oleh manusia di seluruh dunia. Esensi ajaran setiap agama yakni mengajak umatnya untuk memanusiakan manusia, di dalamnya  terdapat ekualitas yang harus disadari, dipahami, dan diimplementasikan oleh masing-masing penganutnya.

Islam ialah agama yang memiliki nilai universal, yang mana universal berarti agama yang pemberlakuannya tidak dibatasi oleh sesuatu, baik tempat dan waktu tertentu. Ke-universal-an Islam dapat terlihat melalui konsep tauhid yang menjadi sendi ajarannya.

Esensi ajaran Islam yakni tentang bagaimana syariat di dalamnya menganjurkan agar penganutnya senantiasa menjaga sikap adil, toleran, moderat dan tidak bersikap ekstrem demi mewujudkan perdamaian.

Tantangan Islam Menuju Era 5.0

Seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial menjadi salah satu faktor dengan pemilik pengaruh terbesar dalam penyebaran serta pemahaman nilai religius.

Senada dengan Kalamulah Q.S. Al-Anfal: 61, Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk memprioritaskan perdamaian. Namun hal ini tidak berbanding lurus dengan fakta di lapangan, beragam faktor dapat melatarbelakangi seseorang untuk menciptakan keretakan antara satu dengan lainnya.

Baca Juga  Perbedaan Cara Mengasah Hati Nurani Ala Barat dan Islam

Media sosial yang seyogianya menjadi wasilah untuk mewujudkan perdamaian karena dapat memperkuat tali silaturahmi, justru masih kerap kali disalahgunakan.

Masifnya pemahaman terhadap esensi ajaran keislaman dibuktikan dengan salah satu unggahan video yang ditemukan dari salah satu aplikasi media sosial. Video tersebut menunjukkan seorang wanita bercadar yang lengkap dengan pakaian gamis tertutupnya tengah nge-vape.

Meski nge-vape bukanlah suatu perilaku di luar batas kewajaran, yang artinya masih diterima dalam nilai kemasyarakatan, namun perilaku wanita dalam video tersebut dirasa tidak kontras dengan cara ia berpenampilan.

Oleh karena itu, diperlukan adanya pemahaman dan kesadaran penuh bagi umat Islam agar segala berbuat dan berucap, sehingga dapat merepresentasikan value Islam yang senyatanya.

Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi manusia yang dilanggar hak-haknya, apalagi pelanggaran itu dilakukan dengan mengatasnamakan agama.

About “Justifikasi”

Dewasa ini, kita tengah dihadapkan dengan darurat etik budaya justifikasi, yang mana hal ini menjadi pemicu dan penyebaran hoak di media sosial. Hal ini diperkuat dengan keberadaan beberapa pihak yang kekeh dalam mempertahankan kebenarannya sendiri tanpa membuka matanya sehingga tidak menyadari keberadaan kebenaran lain yang lebih real.

Melansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Justifikasi didefinisikan sebagai sebuah putusan berupa alasan atau pertimbangan yang berdasarkan pada hati nurani. Sedangkan menurut M. Ansjar, dkk, justifikasi adalah suatu proses pembuktian atas suatu pertanyaan yang didasarkan pada definisi, teorema, dan lemma yang sudah pernah dibuktikan sebelumnya.

Lagi, menyinggung perihal bagaimana representasi value yang diajarkan dalam agama Islam juga terdampak perilaku justifikasi media sosial. Mengusung fenomena wanita bercadar yang nge-vape, tentunya jika dimintai klarifikasi wanita tersebut akan memiliki pembenaran, namun pembenaran yang ia miliki tidak seiras dengan bagaimana kebanyakan orang memandang value dalam Islam.

Baca Juga  Formula Pemberdayaan Guru Ngaji Melalui Zakat Produktif

Kini negeri ini tengah darurat kesadaran terkait perilaku bersosial media. Pemahaman serta kesadaran penuh sangat dibutuhkan sebagai upaya dalam meminimalisir justifikasi yang bernilai negatif. Berbagai konten serta respons yang kita bagikan melalui media sosial setidaknya harus merepresentasikan bagaimana karakteristik kita sekaligus sesuai dengan syariat agama dan norma yang berlaku di masyarakat. Bukan hanya sebatas untuk kesenangan semata dan menuai kerugian bagi orang lain.

Taschiyatul Hikmiyah Mahasiswa KPI UIN Sunan Ampel Surabaya