Mengapa Rajin Bersholawat Tapi Tidak Berubah?

Di tengah maraknya semangat keislaman dan gelombang orang-orang yang rutin membaca sholawat setiap hari, tak sedikit yang mulai bertanya-tanya: mengapa ada orang yang rajin bersholawat tapi hidupnya terasa sama saja? Emosinya masih meledak-ledak, lisannya masih menyakiti, pikirannya masih keruh, dan hatinya belum juga tenang. Bukankah sholawat itu membawa berkah, rahmat, bahkan cahaya dari langit? Lalu kenapa tidak ada perubahan yang nyata?

Pertanyaan ini sebetulnya sangat wajar dan penting untuk direnungkan. Sebab jika ibadah hanya menjadi aktivitas rutin tanpa makna, maka alih-alih mendekatkan diri kepada Allah, bisa jadi kita justru terjebak dalam formalitas kosong. Termasuk dalam urusan sholawat. Meski ia adalah amalan mulia yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, namun dampaknya tak serta-merta muncul hanya karena jumlahnya banyak. Sebab inti dari sholawat bukan hanya pada jumlah bacaan, tapi pada kehadiran hati dan niat yang tulus.

Secara ilmiah, ada penjelasan menarik dari perspektif psikologi dan neurosains. Sholawat, atau bacaan zikir lainnya, memang bisa memberikan efek menenangkan pada otak. Ia bisa meredakan stres, menurunkan detak jantung, bahkan menstabilkan emosi. Tapi semua itu terjadi jika bacaan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh. Artinya, otak manusia merespons bukan hanya suara yang didengar, tapi makna dan emosi yang menyertainya. Ketika seseorang melafalkan sholawat dengan penuh cinta dan penghayatan, otaknya bekerja secara reflektif. Tapi jika hanya dilafalkan di bibir—seperti robot yang mengulang kata—maka tak akan ada proses internal yang berubah. Hanya seperti suara yang masuk telinga, lalu hilang begitu saja.

Lalu dari sudut pandang tasawuf, para sufi punya jawaban yang lebih dalam. Menurut mereka, sholawat adalah cahaya. Tapi cahaya itu hanya bisa ditangkap oleh hati yang bersih. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa dzikir tanpa hati itu seperti tubuh tanpa ruh. Maksudnya, jika hati kita kotor oleh iri, dengki, sombong, atau niat yang salah—maka seberapa banyak pun sholawat yang kita ucapkan, ia tidak akan hidup dalam jiwa. Cahaya sholawat akan memantul begitu saja karena tidak menemukan wadah untuk singgah. Maka, para sufi sangat menekankan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian hati. Membersihkan diri dari sifat-sifat buruk sebelum sibuk berdzikir.

Fenomena tidak berubahnya seseorang meski rajin sholawat bisa disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah niat yang tidak ikhlas. Misalnya, ingin dipuji sebagai orang alim, ingin dianggap dekat dengan Allah, atau sekadar ikut tren karena sedang ramai. Ada pula yang bersholawat tapi tidak menghadirkan cinta kepada Nabi karena tidak mengenal beliau. Padahal, bagaimana bisa mencintai kalau tidak mengenal? Rasulullah SAW bukan hanya sosok sejarah, tapi panutan hidup. Jika kita tak pernah membaca sirah atau mempelajari akhlaknya, maka sholawat yang kita ucapkan menjadi seperti surat cinta kepada seseorang yang asing—indah, tapi hampa.

Ada juga orang yang hatinya terlalu sibuk dengan urusan dunia. Terlalu banyak iri, dengki, dan dendam yang membuat hati gelap dan keras. Dalam kondisi seperti ini, sholawat menjadi seperti air hujan yang jatuh ke atas batu. Tak meresap, tak menyuburkan. Inilah mengapa para ulama selalu mengingatkan agar sebelum kita berdzikir dan bersholawat, kita perlu memperbaiki diri—bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.

Imam Junaid al-Baghdadi bahkan pernah berkata, “Amal lahir tanpa penyucian batin itu seperti pohon tanpa akar.” Artinya, ibadah yang tidak dibarengi dengan pembersihan hati tidak akan tumbuh menjadi amal yang berbuah. Sholawat pun demikian. Ia membutuhkan pondasi berupa cinta, akhlak yang baik, dan kesadaran ruhani. Tanpa itu semua, ia hanya jadi gema kosong.

Lalu, bagaimana agar sholawat bisa berdampak nyata dalam kehidupan kita? Pertama-tama, hadirlah dengan niat yang ikhlas. Bukan karena ingin terlihat alim atau karena ingin viral, tapi karena cinta dan rindu kepada Rasulullah. Setelah itu, pelajari kehidupan dan akhlaknya. Baca sirah Nabi, pelajari bagaimana beliau menghadapi manusia dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Sholawat yang diucapkan dengan cinta yang tumbuh dari pengenalan ini akan jauh lebih bermakna.

Gabungkan juga sholawat dengan tindakan nyata. Bersikap jujur, menolong sesama, menjaga lisan, dan memperbanyak amal salih. Jangan hanya bersholawat di lisan, tapi wujudkan pula dalam perilaku. Ikuti majelis ilmu yang membimbing hati, bukan hanya yang menambah hafalan. Berkumpullah dengan orang-orang yang jujur, sederhana, dan ikhlas dalam menjalani hidup. Di sanalah ruhani akan terasah.

Kesimpulannya, sholawat memanglah cahaya. Tapi hanya hati yang bersih, sadar, dan hidup yang mampu menangkap cahaya itu. Jangan puas hanya dengan jumlah bacaan yang banyak. Fokuslah pada makna, kesadaran, dan cinta yang mengiringi. Jadikan sholawat sebagai jembatan untuk mengenal Rasulullah, dan ubahlah diri secara perlahan—dari lisan, hati, hingga tindakan. Karena hanya dengan itu, kita bisa benar-benar menjadi manusia yang bercahaya—seperti sang Nabi yang kita cintai dan doakan setiap hari.

12

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.