Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Bencana Alam dan Dakwah Substantive

3 min read

Kemarin, setelah terjadinya gempa yang mengguncang daerah-daerah di Jawa Timur, saya menerima sebuah video di WhatsApp Group di mana saya menjadi anggotanya. Video itu berisikan suara keras dan lantang seorang penceramah disertai gambar-gambar tower-tower pencakar langit yang tumbang dan hancur berantakan karena gempa diringi terjangan tsunami yang sangat tinggi.

Orang-orang yang berada di dalam gedung-gedung tinggi tersebut, maupun mereka yang berada di luar gedung, di jalan-jalan di sekitar gedung lari tunggang langgang untuk menghindari terjangan air. Akan tetapi, mereka semua habis tersapu air yang sangat tinggi dan kuat tersebut. Mereka hanyut ke laut lepas bercampur aduk dengan serpihan gedung-gedung dan kendaraan-kendaraan yang telah hancur berantakan.

Gambar-gambar yang ditunjukkan pada video yang berdurasi lebih dari 8 menit tersebut diiringi oleh penceramah tersebut dengan pernyataan bahwa kejadian yang mengerikan ini adalah prediksi pakar tentang gempa dan tsunami yang akan menimpa Indonesia.

Penceramah tersebut mengatakan bahwa ini semua akan terjadi, karena masyarakat Indonesia, secara khusus pemerintah, sudah lalai dengan perintah Allah, dengan seruan para ulama. Pemerintah Indonesia sedang asyik mengikuti ajakan setan. Mereka berhutang begitu banyak. Mereka telah mendholimi para ulama. Uniknya, tidak ada foto penceramah tersebut, hanya suaranya saja yang diperdengarkan.

Untuk menghindari bencana yang mengerikan tersebut, pemerintah dan orang-orang Indonesia yang mengikuti mereka harus bertaubat. Pemerintah tidak boleh lagi mendholimi para ulama. Terlebih lagi karena ulama adalah penerus nabi di muka bumi ini.

Penceramah tersebut juga mengatakan bahwa berselang satu hari ketika seorang ulama dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah, maka tsunami menerjang kota Palu. Semua bangunan di tepi pantai di kota ini, hancur berantakan. Tetapi, luar biasa kekuasaan Allah, rumah dan pesantren ulama tersebut, yang terletak di kota Palu tidak rusak. Ini menandakan bagaimana Allah menjaga para ulama dari malapetaka dan bencana.

Baca Juga  Pentingkah Beragama secara Moderat?

Ini juga menggambarkan bahwa Allah membalas langsung kedholiman terhadap ulama dengan bencana. Maka sekali lagi jangan dholimi para ulama. Bersamaan dengan pernyataan ulama tersebut, gambar video kemudian menunjukkan seseorang yang sedang ditangkap aparat.

Saya yang melihat video itu, menjadi teraduk-aduk pikiran dan perasaannya. Suara penceramah yang begitu lantang, tegas, dan meyakinkan, disertai gambar-gambar yang mengerikan tersebut menggetarkan hati saya, mampu meyakinkan hati saya, bahwa memang bencana alam yang terjadi di Indonesia karena kita telah mendholimi para ulama. Kita telah melakukan berbagai perbuatan maksiat, perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Allah.

Namun di sisi lain saya mempertanyakan siapakah yang beliau maksud dengan ulama tersebut? Apakah contoh nama yang dia sebutkan dalam orasinya pada video tersebut benar-benar seorang ulama? Apakah benar ulama tersebut bertempat tinggal di Palu? Siapakah sebenarnya yang berhak memberikan gelar ulama kepada seseorang? Pantaskah seseorang menyebutkan dirinya sendiri sebagai seorang ulama? Pantaskah jika teman-teman sejawat, teman-teman dekat atau anggota keluarga yang mengumumkan dengan lantang bahwa seorang itu adalah ulama?

Dari sebutan “Gus” yang dilekatkan pada contoh yang disebutkannya sebagai seorang ulama pada video tersebut, saya kemudian meraba-raba apakah masyarakat Palu memberi gelar “Gus” kepada seorang ulama? Tentu, bisa saja terjadi bahwa “Gus” yang disebutkan sang penceramah tersebut, mendirikan pesantren di kota Palu. Yang saya rasakan, begitu saja pertanyaan-pertanyaan muncul di benak saya, dengan serta merta setelah saya melihat video tersebut.

Dalam pandangan saya, upaya membuat dan menyebarkan video tersebut adalah sebuah upaya dakwah yang cukup baik. Untuk mengingatkan kita agar tidak berbuat dholim pada ulama. Mengingatkan kita agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Allah. Sebab, bencana dan kematian bisa datang tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada kita.

Baca Juga  Menyikapi Radikalisme Agama dengan Kacamata Kemanusiaan Ala Gus Dur (2)

Memang dengan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, para pakar mulai bisa memprediksi bahwa akan terjadi gempa bumi, dapat diprediksi apakah gempa bumi tersebut akan disertai dengan tsunami atau tidak. Tetapi yang namanya prediksi tentu tidak bisa 100% akurat. Sehebat-hebatnya manusia, Allah adalah yang paling hebat.

Akan tetapi, saya kira, menyerukan kebaikan harus pula diiringi dengan cara-cara yang baik. Cara-cara yang tidak provokatif. Jika ingin berdakwah melalui pembuatan video, maka isilah konten video tersebut dengan data-data yang benar, data-data yang valid. Tidak mengambil potongan-potongan gambar yang “dicomot” dari sana dan dari sini. Karena mengisi video dengan konten yang tidak benar juga termasuk perbuatan yang dholim.

Boleh-boleh saja berdakwah dengan cara menciptakan rasa takut di hati para penerima dakwah. Akan tetapi tidaklah patut juga memberikan rasa takut yang berlebih-lebihan. Seolah-olah Allah adalah Yang Maha Pemarah. Seolah-olah tidak ada kebaikan yang datang dari diri orang lain. Tidak ada kebaikan yang datang dari pemerintah.

Bukankah pemerintah harus menjadi sahabat para ulama? Bukankah ulama dan umara harus bergandeng tangan untuk membawa masyarakat pada perbuatan ma’ruf dan menjauhkan mereka dari yang munkar? Siapa yang akan menyediakan kebutuhan-kebutuhan praktis yang bersifat material jika bukan pemerintah?

Di dalam melakukan aktifitas dakwah, tidak hanya tujuan dakwah yang harus diperhatikan. Banyak elemen-elemen yang lainnya seperti metode, materi, dan media dakwah. Yang tidak kalah pentingnya adalah elemen pelaku dakwah, para da’i, ustad, dan penceramah. Niat dari para da’i, ustad, atau penceramah tersebut juga merupakan elemen yang sangat mendasar.

Tidaklah pantas jika niat seorang da’i, ustaz, atau penceramah adalah melakukan provokasi, mengaburkan pandangan ummat. Sehingga, mereka tidak lagi bisa membedakan informasi mana yang benar, informasi mana yang salah. Ummat menjadi galau apakah dia adalah pribadi yang selalu berbuat dosa, apakah tidak ada kebaikan yang datang dari dirinya. Memandang diri sebagai pembuat dosa akan melahirkan sikap pesimisme yang besar di hati seseorang. Bisa-bisa dia akan berpandangan lebih baik mati daripada berbuat dosa.

Baca Juga  Relasi Kuasa, Persetujuan, dan Kekerasan Seksual (2)

Padahal jika seseorang diingatkan akan potensi yang dimilikinya untuk berbuat kebaikan, maka sikap optimismenya akan menjadi kuat. Dia adalah pribadi yang sangat bermanfaat. Banyak kebaikan yang bisa dilakukannya untuk kemaslahatan masyarakat dan lingkungannya. Tidak perduli apakah mereka adalah aparat pemerintah atau rakyat biasa yang diatur oleh pemerintah.

Bencana alam memang dapat dijadikan sebagai sebuah contoh bagi masyarakat, bagaimana pentingnya menjaga alam dan manusia. Bencana alam memang dapat menjadi contoh bagaimana manusia perlu memperdalam dan meluaskan pengetahuan dan ilmu. Bencana alam juga dapat menjadi contoh, bagaimana kuasanya Allah. Tidak ada yang mampu menandingi kekuasaanNya. Bencana alam dapat menjadi contoh, bahwa sepahit-pahitnya ujian-ujian yang kita hadapi, kita harus berusaha untuk optimis.

Bencana alam menjadi contoh bahwa manusia harus berusaha berbuat baik, sebab kematian sewaktu-waktu datang menghampirinya. Namun, bencana alam tidak boleh dijadikan alat pembenar bagi sikap-sikap yang provokatif. Sikap-sikap yang mencampur adukkan antara kebenaran dan kebohongan. Sikap-sikap yang membingungkan siapa sebenarnya yang disebut sebagai ulama. Wallahu a’lam… (MMSM)

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya