Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Perut dan Mulut dalam Pusaran COVID-19

3 min read

Indonesia sudah mengalami pasang surut dalam menghadapi COVID-19. Virus Corona-19 dideteksi sampai di Indonesia pada 2 Maret 2020. Di tanggal 20 Juli 2021, hari ini, virus ini berarti telah berusia 1 tahun 4 bulan 18 hari. Pada usianya yang masih cukup muda belia, virus yang konon sudah berubah menjadi beberapa jenis ini telah mampu meluluh lantakkan negeri Indonesia yang dihuni oleh 270,20 juta orang (berdasarkan Sensus Penduduk 2020).

Mari kita bertanya, adakah dari kita yang tidak terkena dampak Virus ini? Semua kita pasti menerima akibat dari kehadiran dan perkembangannya. Jika tidak secara pisik, maka secara psikis. Virus ini telah menggoyahkan berbagai sendi kehidupan kita, pada ranah pribadi maupun ranah sosial.

Virus ini telah menggoyahkan tatanan ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan maupun keamanan negeri kita. Virus ini bahkan telah mengajak kita mempertanyakan kekuatan keimanan kita, mempertanyakan fungsi agama di dalam kehidupan kita. Mengajak kita untuk berinstrospeksi diri benarkah kita seorang pemeluk agama yang sudah memahami dan mengimplementasikan agamanya dengan baik.

Virus ini telah membongkar jati diri kita, tingkat rasionalitas kita. Benarkah kita telah menjadi pribadi yang dapat menghubungkan antara pengetahuan, pemahaman, sikap, dan tingkah laku secara harmonis?

Secara garis besar kita bisa mengatakan bahwa pukulan terberat dari virus ini adalah masalah ekonomi. Istilah lain yang lebih simpel virus ini berakibat pada kekuatan atau kestabilan perut manusia. Perut yang harus diisi melalui mulut. Perut yang harus diisi dengan berbagai makanan dan minuman, agar organ-organ lain yang ada di dalam tubuh bisa bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Mereka yang biasanya hidup dengan mewah tiba-tiba diharuskan menjadi hidup lebih sederhana. Mereka yang biasanya hidup dengan gaji “pas-pasan”, tiba-tiba tidak lagi bisa mengalokasikan gaji tersebut untuk kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Sumber gajinya tiba-tiba saja tercerabut, menghilang karena dia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mulut-mulut yang harus dipakai untuk mengunyah, menghantarkan makanan dan minuman menuju perut tidak lagi bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sebab makanan dan minuman belum sampai padanya.

Baca Juga  Relasi Agama-Negara Ala Gus Dur: Mempertahankan Republik Bumi Hingga ke Surga (1)

Tidak kalah pelik adalah mereka yang hidup di rumah mewah, mengendarai mobil mewah, berpola hidup serba mewah, tetapi memperoleh semua itu dengan cara berhutang. Di awal dia berani berhutang karena gajinya tinggi, akan mampu memenuhi semua kemewahan yang dia inginkan. Di masa pandemi sumber gaji tersebut tercerabut karena perusahaan tempat dia bekerja mengalami kebangkrutan dan harus ditutup. PHK tidak bisa dihindarkan.

Yang terjadi kemudian adalah mereka yang perutnya kosong, mereka yang sedang menahan lapar, tinggal di rumah mewah. Orang-orang di sekitar, tidak percaya bahwa orang-orang yang biasa terlihat mewah tersebut butuh bantuan untuk mengisi perut.

Dalam kondisi seperti ini, bagi mereka yang terancam perutnya, Virus Corona bukan lagi merupakan sesuatu yang ditakuti. Kerja mulut untuk perut harus diutamakan. Ibarat kata, filosofi tidak lagi bisa dipraktekkan ketika perut terasa lapar. Maaf kata, dalam konteks kelaparan seperti ini, maka beda antara manusia dengan hewan seperti tidak lagi terlihat secara jelas. Maaf kata pula, kekhusyukan ibadah mungkin juga akan terganggu jika suara keroncongan perut terdengar secara jelas.

Melihat dengan kasat mata, kesulitan-kesulitan ekonomi yang dialami oleh masyarakat, kita bisa memahami mengapa Karl Marx mengatakan bahwa ekonomi, Mode of Production, berada pada posisi superstructure. Dia akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan yang lainnya. Bahkan agamapun akan terkalahkan karena kepentingan ekonomi.

Pukulan berat pada ekonomi ini, membuat masyarakat pencari bahan-bahan pengisi perut ini menjadi liar. Mereka mencari berbagai cara untuk mengelabui aparat pencegah penyebaran COVID-19. Seolah-olah hanya ada dua pilihan pada mereka: mati karena virus Corona atau mati karena perut yang lapar. Pilihan ini sangat jauh berbeda dengan slogan yang ditiupkan para pahlawan kemerdekaan dengan keras: merdeka atau mati.

Baca Juga  Teror Bom: Salah Kaprah Jihaders Anyaran

Meskipun demikian, secara kasat mata, di sisi lain, kita juga bisa melihat, cukup banyak orang yang perutnya terus kenyang karena mulutnya terus bekerja mengunyah makanan dan menghirup minuman, tidak terdampak oleh COVID-19 di konteks ekonomi. Mereka tidak mengalami PHK.

Usahanya bukannya surut tetapi malah bangkit meninggi. Yang paling mencolok adalah mereka yang bekerja di di bidang IT. Apalagi mereka yang menjadi provider internet. Begitu juga mereka para produsen obat-obatan dan berbagai keperluan alat-alat kesehatan untuk mencegah dan mengobati COVID-19. Yang tidak kalah menakjubkan adalah para kurir pengantar belanjaan online. Bersyukurlah mereka.

Walau tidak ada jaminan bahwa mereka ini lepas dari intaian dan incaran COVID-19, kemampuan membeli makanan dan minuman penguat imun tubuh, agaknya mampu menghindarkan mereka dari virus ini. Perut mereka selalu aman. Tidak mengeluarkan tanda-tanda kelaparan.

Sayangnya, kita juga melihat, mereka yang dapat membeli pengisi perut dengan aman ini, tidak jauh berbeda perilakunya dengan mereka yang perutnya lapar. Mereka juga menjadi orang-orang yang liar. Mengelabui para aparat pencegah penyebaran COVID-19. Mereka bekerja di sektor yang sangat esensial, sehingga mereka harus terus berada  di jalan-jalan. Menyediakan berbagai semua kebutuhan-kebutuhan masyarakat, khususnya, penderita COVID-19.

Ibarat kata, saat ini adalah saat panen raya. Apalagi jika kemudian mereka bisa meninggikan harga produk-produk atau jasa yang mereka miliki. Masyarakat mau tidak mau akan membeli produk dan menggunakan jasa tersebut. Contoh kecil yang mudah dilihat, harga-harga alat-alat kesehatan yang berhubungan dengan serangan COVID-19 tiba-tiba saja melambung tinggi. Mendapatkannya bahkan bukan pekerjaan yang mudah, alat-alat tersebut sudah menjadi barang yang langka, sulit untuk dicari.

Kenyataan ini membuat kita bertanya lagi: apakah benar bahwa urusan perut dan mulut yang menjadi tujuan utama dari keluarnya orang-orang ke jalan raya ini? Apakah mereka benar-benar bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang esensial atau justru ingin menumpuk keuntungan sebanyak mungkin. Dengan kata lain exceeding kebutuhan perut dan mulut?

Baca Juga  Mengenal Teori Double Movement Fazlur Rahman

Akhirnya kita kembali melihat seolah-olah ekonomi menjadi penentu bagi berbagai aspek kehidupan kita. Padahal kalau ditelisik secara lebih jauh sebenarnya keinginan yang tidak terbataslah yang menjadi penentu dari berbagai aspek kehidupan kita.

Pandemi COVID-19 ini sebenarnya mengajarkan kepada kita bahwa kebutuhan kita sebenarnya sederhana mengisi perut dengan cukup, tiga kali sehari, mengajak mulut mengunyah makanan, tiga kali sehari, mengajak mulut minum air putih, 10 gelas sehari. Tetapi kita telah diperdaya oleh keinginan yang tidak terbatas.

Kita yang mengutamakan keinginan yang tidak terbatas ini membuat virus Corona bertahan sangat lama di negeri kita. Karenanya, mari kita buat skala prioritas pada diri kita masing-masing. Sebegitu pentingkah bagi saya untuk keluar rumah? Bisakah saya menunda dulu keinginan keluar rumah? Benarkah perut saya hanya bisa terisi dan mulut saya hanya bisa bekerja ketika saya keluar rumah? (mmsm)

 

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya