Yoga Irama Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Covid-19 Menjadi Alat Deteksi Moderasi

2 min read

Concept of harmony and balance. Balance stones against the sea. Rock zen in the form of scales

Di situasi serba heboh sekarang ini terjadi kepanikan berlebih akibat fenomena Pandemi Covid-19 yang terus menyebar di penjuru belahan dunia. Data terbaru dari Worldometers menunjukkan total angka kasus positif Covid-19 di dunia telah mencapai 1.276.732 pasien. Setidaknya 208 negara telah terpapar pandemi. Sebanyak 69.529 pasien positif corona di seluruh dunia telah meninggal dunia. Selain itu, pasien yang berhasil sembuh dari penyakit Covid-19 sudah sebanyak 265.956 orang.

Sedangkan kasus di Indonesia sendiri jumlah total kasus positif Covid-19 saat ini ada 2.956 orang, sebagaimana diumumkan lewat siaran langsung kanal Youtube BNPB Indonesia oleh Achmad Yurianto (juru bicara pemerintah bagian penanganan Covid-19). Pantas saja jika wabah pandemi Covid-19 dijuluki sebagai wabah terburuk sepanjang sejarah, setelah wabah flu Spanyol (pandemi influenza) yang menyebar di seluruh dunia antara tahun 1918 sampai 1919.

Beragam ekspresi bermunculan dalam menyikapi penyebaran wabah virus corona ini, khususnya di negara Indonesia. Kepanikan masyarakat terhadap corona secara tidak langsung dapat mencerminkan karakter asli pribadinya, sebagaimana diketahui “tindakan adalah hasil manifestasi dari pikiran dan hati seseorang”. Karakter seseorang yang penulis maksud adalah kemoderatannya, seberapa besar naluri moderat dalam diri dapat terlihat melalui aktivitas kesehariannya dalam mencegah dan melindungi diri dari serangan virus tersebut.

Terdapat berbagai cara dalam menghadapi paparan bahaya virus corona. Jika diamati dan dikelompokkan lebih lanjut, sekira tiga macam golongan yang mengambil sikap terkait hal ini. Pertama, yang yakin bahwa virus tersebut menular melalui kontak fisik serta komunikasi social. Golongan ini sangat yakin pada unsur jasmani saja. Biasanya kelompok ini menafikan unsur rohani seperti halnya memohon berlindungan kepada Tuhan dengan berdoa dan melakukan ritual peribadatan. Kelompok ini lebih condong pada pencegahan luar seperti halnya dengan menjaga kebersihan diri, menggunakan masker, dan menerapkan “sosial distancing“.

Baca Juga  Tentang Politik Dinasti Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali

Kelompok kedua meyakini bahwa virus tersebut adalah salah satu makhluk Tuhan yang diutus guna memberikan pelajaran (azab) kepada orang-orang yang telah berbuat zalim di dunia. Kelompok ini merupakan kebalikan dari golongan pertama, kelompok ini sangat yakin peran rohanilah yang terbaik untuk menangkal Covid-19. Biasanya kelompok jenis ini mudah dikenali melalui jargonnya bahwa “hidup dan mati manusia sudah diatur oleh Tuhan, jadi tak perlu terlalu khawatir dengan virus”. Kelompok ini secara tampilannya terlihat begitu agamis, baik secara gaya ucapan maupun tampilan. Jika kebijakan pemerintah melarang acara-acara ngumpul secara berjemaah, justru kelompok ini secara masif dan tegas menginstrusikan kepada anggotanya untuk membuat acara tabligh besar guna memohon ampun kepada Tuhan dan berharap Ia lekas mengangkat wabah Covid-19.

Kelompok ketiga meyakini keduanya, sehingga secara aktif melakukan pencegahan lewat unsur jasmani dan rohani dengan menjaga kebersihan badan dan menerapkan “sosial distancing” sebagai ikhtiar jasmani. Model kelompok ini tak lupa meminta perlindungan dan pertolongan sepenuhnya kepada Tuhan dengan berdoa dan berpasrah diri atau tawakal.

Secara garis besar ditinjau dari beragam jenis ekspresi masyarakat Indonesia dapat disimpulkan bahwa golongan pertama, yakni yang terlalu condong pada unsur jasmaniyah bisa dikategorikan sebagai golongan kiri (ekstrem kiri) biasanya disebut dengan istilah liberal. Sedangkan golongan kedua yang lebih condong kepada unsur rohaniah, bisa dikategorikan sebagai condong kekanan (ekstrem kanan) yang sering disebut sebagai aliran konservatif, karena lebih fanatik kepada unsur-unsur spiritual. Sedangkan golongan yang ketiga bisa disebut dengan golongan moderat (pertengahan), yakni proporsional dalam tindakan.

Seperti yang dijelaskan M. Quraish Shihab dalam buku Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama, bahwa moderasi (moderat) adalah sebuah pilihan terbaik di antara dua kutub ekstrem (baik ekstrem kanan maupun kiri). Hakikat moderasi tercermin dalam tindakan dan sikap, di antara jasmani dan rohani, serta di antara pemahaman jabariyah dan qadariyah. Lebih lanjut, moderasi merupakan sikap kehati-hatian agar tidak salah dalam melangkah. Bukan saja pada sikap keagamaan, namun juga cara pandang dan tindakan yg diambil dalam menyikapi keadaan yang ada.

Baca Juga  Kiai Hasyim Asy’ari: Sikap dan Karakter Santri terhadap Guru

Kalau ditarik pada konteks saat ini, dimana orang berlomba-lomba memutus rantai penyebaran virus corona, yang secara grafik saat ini masih meninggi sehingga diharapkan bisa melandai, tentu apabila menerapkan sikap moderat adalah pilihan yang sangat tepat. Sekali lagi maksud dari moderat (berada ditengah-tengah), yakni pencegahan maksimal secara zahir (jasmani) dan juga pencegahan maksimal secara batin (rohani). Sebagaimana yg disabdakan oleh baginda Muhammad SAW “khairu alumūri awsatuhā“, yang artinya “sebaik-baik urusan adalah pertengahan”. Dari sini sudah sangat jelas moderat adalah pilihan proporsional, pilihan terbaik yang bisa diterapkan disituasi genting ini dalam mengatasi wabah pandemik corona yang kian hari kian menjadi-jadi. Sepatutnya kita sebagai hamba Tuhan janganlah meremehkan dan menyombongkan diri, karena manusia tidak tahu nasib dan takdirnya. Semua itu tergantung dari seberapa besar ikhtiar yang dilakukan manusia selama hidup di dunia. [MZ]

Yoga Irama Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *