Zaky Ismail Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Peminat Kajian Keislaman

Meretas (Jalan) Peradaban dengan Menentukan Teman Duduk

2 min read

Foto: https://www.arabianbusiness.com/
Foto: https://www.arabianbusiness.com/

Konon, Bung Hatta, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia sangat cinta dengan buku-bukunya. Bahkan ketika Hatta diasingkan ke Boven Digul, Maluku, yang mula-mula diminta adalah agar ia diizinkan membawa koleksi bukunya. Dalam banyak ulasan sejarah, tercatat bahwa buku yang dibawa ke pengasingan kurang lebih sebanyak 16 koper. Baginya, dengan buku ia merasa bebas walaupun secara politik ditahan. Kutipan Hatta paling bersejarah membuktikan hal tersebut, beliau mengatakan “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Dengan buku aku bebas.”

Pengalaman Hatta sepertinya memberi inspirasi bagi banyak orang dalam menghadapi kondisi seperti sekarang, di mana mereka harus bekerja dari rumah. Dalam amatan saya, dalam situasi karantina ini banyak kaum cerdik pandai menjadi produktif membaca dan menulis.

Belakangan ini muncul fenomena majelis-majelis ilmu yang mendedah karya-karya bermutu, terutama khazanah Islam klasik. Aktivitas web seminar (webinar) terutama saat bulan Ramadan ini meningkat tajam, dari berbagai penyelenggara dan dengan beragam tema. Kegiatan-kegiatan tersebut tentu lahir dari sebuah pembacaan intensif yang belum tentu bisa diperoleh di waktu yang lain. Selain itu, muncul juga tulisan-tulisan bermutu, baik melalui media cetak maupun media daring.

Semua itu terjadi, saya pikir, karena aktivitas menjadikan buku sebagai teman terbaik. Bahwa buku adalah kawan paling setia, tidak ada yang meragukan. Buku selalu memberi manfaat kepada teman duduknya, sementara ia tak pernah meminta balasan apapun. Sebuah pepatah Arab menyebutkan, khairu jalīs fi al-zamān kitāb (teman terbaik sepanjang waktu adalah buku).

Kegiatan membaca adalah kegiatan membuka jendela dunia, memperluas pengetahuan dan mengakses informasi. Pertanyaan pentingnya adalah: sudah berapa banyak buku yang kita baca?

Mari kita lihat data yang menginformasikan tentang minat baca. Data yang dirilis sebuah lembaga pengindeks menyebutkan bahwa di tingkat ASEAN, literasi Indonesia kalah jauh dari negara tetangga, Malaysia dan Thailand. Dua negara tetangga itu adalah negara-negara yang ibukota negaranya pernah ditunjuk UNESCO sebagai ibu kota buku. Bahkan, 23 April 2020 lalu, saat perayaan hari buku sedunia, Kuala Lumpur di Malaysia menjadi World Book Capital (WBC) 2020.

Baca Juga  Dari Samurai Musashi, Kita Belajar Mengenal Diri

Sejak 2001, UNESCO membuat program dengan mengumpulkan asosiasi penerbitan buku di seluruh dunia dan menyelenggarakan even untuk memilih satu kota untuk menjadi WBC. Kota terpilih akan disebut sebagai “Ibukota Buku Dunia” sampai dengan ditunjuknya kota lain pada tahun berikutnya. Kota Madrid di Spanyol menjadi kota pertama yang menjadi WBC. Tahun 2019 lalu, WBC disematkan ke Kota Sarjah di Uni Emirat Arab.

Sebagai bangsa kita tidak boleh malu untuk sekedar belajar pada Nigeria ataupun Guinea di Afrika, negara yang untuk menyebut namanya saja kita mungkin harus sering menonton liga Inggris atau Liga Seri A Italia. Kenapa? Karena banyak anak muda dari negara bersangkutan menjadi pemain sepakbola di dua liga tersebut. Jika Guinea dan Nigeria masih terasa familiar, coba saya sebut kota Conakry dan Port Harcourt. Reaksi pertama kita mungkin adalah mengernyitkan dahi, lalu pergi ke mesin pencari untuk memastikan kota itu benar-benar ada.

Begitulah, kota-kota yang berada jauh di Afrika Barat tersebut pernah terpilih menjadi WBC. Tidak usah kita bandingkan kondisi literasi di negara kita dengan kota-kota lain di dunia yang terkenal, semisal Montreal di Kanada, Turin di Italia, Amsterdam di Belanda, Incheon di Korea, Athen di Yunani, Beirut di Yordania atau Alexandria di Mesir. Minimal kita alihkan perhatian kita ke kota di pelosok Afrika.

Pelajaran penting bisa datang dari mana saja. Contoh baik yang bisa ditiru tidak harus dari pihak yang dianggap “maju”. Deskripsi di atas memberi gambaran betapa negara-negara yang selama ini dianggap “dunia ketiga” memberi kita contoh tentang cara menjadi pintar. Saya sebut cara menjadi pintar, karena gelar yang mereka dapatkan sungguh sangat prestisius: World Book Capital. Tidakkah anda bangga jika di hari buku tahun depan, di luar dugaan Sorong di Papua Barat ditunjuk menjadi WBC?

Baca Juga  Meninjau Kembali Relasi Manusia dengan Teknologi

Penyebutan Papua Barat bukan tanpa alasan. Coba anda baca laporan Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019. Anda yang membaca laporan tersebut pasti miris dan terkejut, betapa persoalan literasi di Indonesia harus menjadi perhatian serius, mulai persoalan kemampuan membaca (proficiency), akses sumber daya pendukung literasi, maupun budaya dan habituasi literasi.

Semoga hari-hari ini menjadi saat yang tepat untuk restart. Kita harus segera sadar dan memulai. Masa karantina gegara wabah Covid-19 ini bisa kita jadikan sebagai kesempatan terbaik untuk mengatur diri dan keluarga di rumah mencintai dunia literasi. Langkah pertama, ambillah buku yang kita suka sekarang juga dan mulailah membaca. Langkah pertama itu akan sangat berarti bagi capaian-capaian peradaban di kemudian hari. Sekali lagi, mulailah. Selamat memilih teman setia yang terbaik. [AS, MZ]

Zaky Ismail Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Peminat Kajian Keislaman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *