Radiasi Perlawanan: Marie Curie dan Sains yang Membebaskan

Dalam sejarah panjang ilmu pengetahuan, nama-nama besar seperti Newton, Einstein, dan Galileo telah mendapat tempat istimewa dalam narasi dominan yang kita hafal sejak sekolah. Tapi di antara semua itu, nama Marie Curie hadir sebagai semacam gangguan: seorang perempuan, ilmuwan, dan imigran, yang menolak tunduk pada dunia sains yang maskulin dan eksklusif.

Ia tak sekadar meninggalkan warisan ilmiah berupa unsur radium dan polonium, tetapi juga mengukir satu pelajaran penting yang kerap diabaikan: bahwa ilmu pengetahuan bukan milik satu jenis kelamin, bangsa, atau kasta sosial tertentu. Bahwa pengetahuan adalah alat pembebasan, bukan alat kekuasaan.

Marie Curie lahir dengan nama Maria Sklodowska di Warsawa, Polandia (1867) sebuah masa dan tempat di mana perempuan dilarang mengakses pendidikan tinggi. Sejak kecil, Curie tumbuh dalam keluarga yang mengagungkan pendidikan. Ayahnya adalah guru sains, ibunya seorang kepala sekolah.

Sayangnya, sistem yang represif dan patriarkal membuat kecerdasan Marie muda tak mendapat ruang tumbuh di negaranya sendiri. Ia lalu mengikuti jejak intelektual bawah tanah: belajar diam-diam di Flying University, lembaga ilegal yang memberi akses pendidikan pada perempuan. Di sinilah titik mula pemberontakan Curie dimulai, bukan pemberontakan dalam bentuk senjata, tapi dengan buku, rumus, dan mikroskop.

Ketika akhirnya ia bisa menempuh pendidikan tinggi di Sorbonne, Paris, hidupnya jauh dari glamor. Ia tinggal di kamar kecil dan kerap tak makan demi menghemat biaya kuliah. Tapi kelaparan itu tak mampu memadamkan semangat belajarnya.

Ia menjadi perempuan pertama yang lulus dari Sorbonne di bidang fisika, dan kemudian di bidang kimia. Dunia akademik yang selama ini menjadi klub eksklusif kaum pria, kini mulai terusik oleh kehadiran seorang perempuan imigran yang tak hanya pintar, tapi juga keras kepala. Marie Curie bukan sekadar ilmuwan dalam pengertian teknis, ia adalah representasi dari subyek yang melawan dominasi pengetahuan yang bias gender dan kelas.

Di laboratorium, bersama Pierre Curie suaminya sekaligus rekan sejawat, Marie meneliti fenomena radioaktivitas yang saat itu belum dipahami sepenuhnya. Dari kerja keras yang berlangsung bertahun-tahun, mereka berhasil mengisolasi dua unsur baru: polonium dan radium. Marie memberi nama “polonium” sebagai bentuk penghormatan kepada tanah kelahirannya yang terus dijajah dan dikoyak politik kolonial. Ia menjadikan ilmu sebagai bentuk patriotisme kultural, tanpa harus menggenggam senapan.

Radium, di sisi lain, membuka cakrawala baru bagi dunia kedokteran dan fisika nuklir. Namun ironisnya, unsur yang ia temukan itu pelan-pelan juga membunuh tubuhnya. Ia terpapar radiasi setiap hari, tanpa perlindungan memadai, karena kala itu belum ada kesadaran tentang bahaya radiasi. Tapi tak sekalipun ia mundur. Ia tidak menyesali pilihannya. Ia percaya, ilmu pengetahuan memang membawa risiko, tapi juga membawa makna.

Dalam perjalanannya, Marie Curie tidak hanya harus melawan keterbatasan alat laboratorium atau kompleksitas eksperimen. Ia juga harus melawan prasangka sosial. Ketika menerima Nobel pertamanya pada 1903 bersama Pierre dan Henri Becquerel, panitia awalnya hanya mencantumkan nama suaminya. Berkat keberanian Pierre membela istrinya, barulah nama Marie dimasukkan. Ia kemudian menjadi perempuan pertama yang memenangkan Nobel, dan satu-satunya yang pernah menang di dua bidang sains berbeda: fisika dan kimia.

Tapi, penghargaan ini tak serta-merta membuat hidupnya tenang. Setelah Pierre meninggal tertabrak kereta, Marie kembali diserang media karena hubungan pribadinya dengan sesama ilmuwan, Paul Langevin. Ia dilabeli perusak rumah tangga, pelacur intelektual, dan dihujat habis-habisan oleh pers Prancis. Dunia yang dulu menyanjungnya karena prestasi, tiba-tiba mengutuknya karena identitas gendernya. Seolah perempuan jenius tak berhak memiliki kehidupan personal yang kompleks.

Marie Curie tak meladeni semuanya dengan dramatisasi atau klarifikasi. Ia membalasnya dengan kerja. Ketika Perang Dunia I meletus, ia tak lari dari konflik. Justru ia menciptakan unit radiologi portabel untuk membantu tentara yang terluka di medan perang. Ia melatih perempuan muda mengoperasikan mesin X-ray dan mendistribusikannya ke garis depan. Ia tidak duduk manis sebagai peraih Nobel, melainkan terjun ke lumpur perang dengan keyakinan: bahwa ilmu bukan milik menara gading, tapi milik manusia yang menderita.

Radiasi yang dulu menyakiti tubuhnya, ia gunakan untuk menyelamatkan tubuh-tubuh lain dari luka dan kematian. Itulah Marie Curie. Ia tidak hanya menemukan elemen kimia, tapi menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bisa menjadi alat solidaritas, bukan hanya alat kekuasaan.

Marie Curie adalah seorang ilmuwan, sekaligus seorang martir. Ia memperjuangkan keadilan epistemik yakni keadilan dalam siapa yang boleh menciptakan, menyampaikan, dan menikmati pengetahuan. Ia menunjukkan bahwa sains tidak netral. Sains, seperti politik dan agama, juga bisa menjadi alat represi, jika dikuasai oleh sekelompok kecil elit yang menentukan siapa yang pintar dan siapa yang cukup pantas.

Dalam konteks hari ini, Marie Curie bisa dibaca ulang sebagai simbol perlawanan intelektual perempuan terhadap sistem yang secara historis menindas mereka. Ia adalah antitesis dari anggapan bahwa perempuan tidak rasional, tidak kuat, dan hanya cocok menjadi pendukung.

Jika kita membandingkan Marie Curie dengan konteks Indonesia hari ini, banyak sekali resonansi yang bisa kita temukan. Di negeri ini, perempuan masih harus berjuang lebih keras untuk bisa menjadi dosen, ilmuwan, atau peneliti. Banyak dari mereka berhenti sekolah karena menikah, atau merasa tidak pantas mengejar gelar doktor karena takut dikatakan “terlalu pintar.”

Padahal, kisah Curie seharusnya mengajarkan bahwa kecerdasan tidak perlu meminta izin. Bahwa tubuh perempuan bukan penghalang bagi ilmu pengetahuan, melainkan bagian dari revolusi epistemik yang lebih luas. Kita membutuhkan lebih banyak Curie di ruang-ruang kelas, di laboratorium, di universitas, dan juga di kebijakan pendidikan.

Mengenang Marie Curie bukanlah sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan kegagalan dunia saat ini dalam memperlakukan perempuan yang cerdas dan berani. Ia adalah simbol bahwa menjadi ilmuwan bukan hanya soal riset, tapi soal etika dan keberanian. Marie Curie meninggal karena anemia aplastik akibat paparan radiasi tapi gagasannya hidup lebih lama dari semua partikel radium yang pernah ia isolasi.

Selama dunia ini masih membatasi akses perempuan terhadap pengetahuan, selama anak-anak perempuan masih merasa takut mengejar mimpi sains mereka, selama itu pula Marie Curie masih harus kita sebutkan kembali bukan sebagai legenda, tapi sebagai perlawanan yang terus menyala.

5

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.