

Semakin derasnya arus perkembangan zaman, sepertinya menjadi wanita Muslimah bukanlah perkara ringan. Dibanding dunia dulu, lebih terjaga batasannya, kini banyak ruang yang nyaris tanpa sekat. Informasi mengalir tanpa filter, gaya hidup dipertontonkan tanpa malu, dan nilai-nilai kerap dikaburkan atas nama kebebasan. Dalam situasi seperti ini, bagaimana seharusnya wanita Muslimah bersikap agar tetap kokoh dalam keimanannya, sekaligus bijak menyikapi dunia yang begitu cepat berubah?
Kajian klasik dari para ulama tentang sifat wanita Muslimah memberikan fondasi yang kokoh. Wanita yang baik adalah yang beriman, bertakwa, menjaga kehormatan, tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, serta memainkan peran aktif dalam mendakwahkan kebaikan. Dalam kitab Durūs al-Shaykh ‘Āiḍ al-Qarnī miliknya ‘Āiḍ bin ‘Abd Allāh al-Qarnī dikatakan:
المرأة سواء أكانت معلمة أو مربية أو ملتزمة لبيتها لا بد أن تتعلم من علوم الشرع ما يكفيها
“Wanita, baik ia seorang guru, pendidik, maupun yang menetap di rumahnya, wajib mempelajari ilmu-ilmu syar’i (agama) yang mencukupinya.” Dari sini poinnya bisa ditarik bahwa seorang wanita harus memiliki ilmu agama yang cukup untuk bisa menjaga kehormatan.
Menjaga pandangan, bicara, dan amanah dirinya sebagai anggota masyarakat dan hamba Allah juga penting. Namun, ketika dihadapkan pada situasi saat ini, prinsip-prinsip ini seringkali terasa asing dan disalahartikan. Seakan-akan menjadi wanita Muslimah berarti terkungkung, terpasung, dan terpinggirkan dari kehidupan “aktual”.
Justru di sinilah letak kesalahpahaman besar yang perlu diluruskan. Islam tidak pernah memerintahkan wanita untuk mundur dari dunia. Islam tidak melarang wanita untuk berpendidikan tinggi, berkarier, ataupun bersuara. Yang ditekankan adalah bahwa semua itu harus dijalani dalam kerangka kehormatan, tanggung jawab, dan orientasi akhirat. Jika nilai-nilai ini dilupakan, maka kemajuan yang diraih pun kosong. Dan pada akhirnya hanya menjadi kulit tanpa isi, pencapaian tanpa makna.
Realitas hari ini menunjukkan betapa banyak wanita yang terseret arus zaman tanpa kendali. Biasanya mereka membela dengan mengatasnamakan kebebasan, sehingga banyak yang kehilangan batas. Atas nama kesetaraan, banyak yang melepas jati dirinya. Bahkan, tidak sedikit wanita Muslimah yang akhirnya hidup dalam kontradiksi batin—antara tuntutan agama dan tekanan zaman—hingga akhirnya memilih diam, menyerah, atau larut.
Namun, apakah memang tidak ada jalan tengah? Apakah menjadi Muslimah yang taat harus berarti menolak modernitas?
Saya jawab tidak. Menjadi wanita Muslimah sejati di era ini justru menuntut agar lebih bijak. Artinya, bukan cukup hanya dengan menutup aurat. Lebih dari itu, memahami makna kehormatan diri di dunia digital. Bukan hanya dengan tinggal di rumah, tetapi juga memahami bahwa rumah adalah basis nilai dan stabilitas, bukan penjara. Bukan hanya dengan patuh kepada suami, tetapi dengan memahami bahwa ketaatan itu lahir dari iman, bukan dari relasi kuasa semata.
Sebagaimana yang dikatakan banyak orang, bahwa sekarang ini sebenarnya “kita” berada dalam pertempuran. Seorang wanita Muslimah modern harus sadar bahwa ia sedang hidup dalam medan tempur yang tersembunyi dan sunyi. Pertarungan hari ini bukan lagi hanya soal ruang fisik, tapi ruang pikiran dan nilai. Tantangan bukan hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam, atau di sekitar kita seperti media, budaya, tekanan ekonomi, rasa minder atas identitasnya, kebingungan arah hidup, atau ketidakpahaman terhadap agamanya sendiri. Maka, yang paling dibutuhkan bukan hanya semangat, tapi ilmu dan kesadaran.
Oleh karena itu, menjadi wanita Muslimah di era modern bukan sekadar memenuhi kewajiban agama secara mekanis; itu adalah identitas hidup yang teguh dan dihormati. Tidak ada jalan pintas yang mudah ditempuh melalui pilihan ini. Mungkin akan lebih ringan atau lebih berat. Namun, inilah kemuliaannya.
Ketika Rasulullah berkata kepada putrinya Fathimah, “Selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena aku tidak bisa menolongmu di hadapan Allah,” beliau menunjukkan bahwa keimanan bukan hasil dari harta warisan atau kedekatan dengan orang lain. Ini adalah hasil dari perjuangan pribadi hamba dengan Tuhannya. Nasihat itu, meskipun ditujukan kepada putri Nabi, tapi masih relevan bagi setiap wanita Muslim yang ingin hidup yang berarti baik di dunia maupun di akhirat.
Mahasantri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo