Refleksi Hari Batik, Saatnya Kembali Memberdayakan Perempuan

Setiap tahun, sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian atas warisan budaya lokal,  masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional yang diperingati pada setiap 2 Oktober. Penggunaan batik juga sebagai pengingat bahwa batik adalah salah satu karya seni sekaligus warisan budaya Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Bahkan dalam prosesnya batik mengalami banyak perkembangan, mulai dari motif, bahan, distribusi dan juga cara pembuatannya.

Hari ini pembuatan batik pun sudah mulai beragam seperti batik tulis, batik cap dan batik print. Batik tulis senditi dibuat dengan menggambar motif batik manual dengan media canting yang berisi malam cair. Sedangkan batik ‘cap’ batik yang dibuat dengan mencetak motif batik menggunakan media stempel yang terbuat dari tembaga. Adapun batik print yaitu batik yang dibuat dengan cara mencetak motif batik menggunakan mesin cetak.

Dari ketiga proses pembuatan batik tersebut tentu yang paling sulit adalah batik tulis sebab dalam proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, ketelatenan dan keterampilan tinggi. Meskipun begitu, justru batik tulis ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dibandingkan dengan batik cap dan batik print, sebab selain motifnya tidak ada yang sama, ia juga memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Jika dilihat dari kaca mata teknologi dan perkembangan zaman, proses pembuatan batik justru mengalami kemajuan yang sangat signifikan, sebab bisa memproduksi 50 sampai 100 batik dalam hitungan hari. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, perkembangan ini justru menyingkirkan para pengrajin batik tulis khususnya perempuan.

Bias Gender dalam Industri Batik

Secara historis perempuan memiliki peran dalam menemani proses pembuatan batik. Awalnya pembuatan batik hanya dilakukan oleh putri-putri keraton dan para abdi dalem (pelayan kerajaan) di kerajaan-kerajaan Jawa. Selain itu batik juga hanya digunakan oleh para bangsawan. Sehingga batik menjadi simbol sosial pada saat itu. Lambat laun, Para abdi dalam ini kemudian membawa ilmu membatik keluar dari istana keraton. Akhirnya penggunaan batik menjadi bagian dari masyarakat.

Adapun yang menjadi pengrajin batik tulis saat itu banyak dilakukan oleh perempuan. Sebab perempuan dianggap memiliki sikap ketelatenan, kesabaran dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu. Di sisi lain yang menjadikan perempuan banyak menjadi pengrajin batik adalah faktor ekonomi di mana pada saat itu situasi dan kondisi yang menuntut mereka bekerja untuk membantu kebutuhan rumah tangga. Maka pada momentum inilah perempuan hadir untuk berkontribusi dalam menopang finansial keluarga.

Namun, perkembangan zaman menciptakan modernitas yang menggeser masyarakat multikultural. Termasuk dalam hal industri pembuatan batik di Indonesia. Kadek Ayu Ariningsih dalam Jurnal Perempuan menyampaikan bahwa peran aktif perempuan dalam membatik pun turut tergeser oleh perkembangan zaman. Budaya membatik tulis yang dilakukan oleh perempuan kini mulai beralih ke batik cap dan printing yang produksinya menggunakan mesin. Dalam hal ini laki-laki mulai mengambil alih pekerjaan perempuan.

Kemampuan perempuan dianggap kurang mumpuni dalam menggunakan mesin batik dibandingkan dengan laki-laki. Muchamat Hasim dalam penelitiannya di Desa Waru Lor, Wiradesa, Pekalongan menemukan bahwa laki-laki lebih banyak ditemukan pada pekerjaan yang berkaitan dengan batik cap dan pekerjaan kasar lainya karena membutuhkan kekuatan fisik.

Di sisi lain,  konsumen memang lebih banyak menyukai batik cap dan printing daripada batik tulis karena memang harganya yang cukup terjangkau jika dibandingkan dengan batik tulis. Namun, meskipun perempuan ikut terlibat dalam pembuatan batik cap dan print tapi tidak dapat dipungkiri bahwa peran perempuan dalam dunia perbatikan mulai tergeser dengan kemajuan teknologi.

Memberdayakan Perempuan Melalui Seni Batik

Pada kalangan menengah bawah perempuan seringkali menjadi ujung tombak dalam perekonomian keluarga contohnya adalah para pengrajin batik yang didominasi oleh kaum perempuan. Namun itu tidak bertahan lama semenjak dunia perbatikan mulai mengenal dengan mesin cap. Akibatnya pengrajin batik tulis perempuan mulai tersingkirkan dan digantikan mesin dan tenaga laki-laki.

Pada momentum ini, Hari Batik menjadi refleksi kita semua bahwa eksistensi perempuan dalam membatik perlu untuk diangkat kembali. Sehingga perlu adanya pemberdayaan perempuan dalam seni batik misalnya memberikan pelatihan membatik, setelah mengikuti pelatihan perlu adanya tindak lanjut seperti pemberian modal, kemudian memberikan relasi di pasar batik untuk menjual hasil batik tulis.

Hal ini untuk membuktikan bahwa perempuan pada dasarnya juga mampu tampil di ruang publik dengan keterampilannya sendiri. Sehingga perlu rasanya untuk memberdayakan perempuan pada tingkat sosial bawah dan menengah agar dapat menggali kreativitas mereka. Salah satunya adalah dengan mengembalikan eksistensi batik tulis yang banyak di dominasi oleh perempuan.

Memberdayakan perempuan dalam membatik sama halnya dengan merawat, menjaga dan mempertahankan warisan budaya Indonesia dalam bidang fashion agar tidak hilang seiring perkembangan zaman. Di sisi lain juga memajukan kesetaraan gender dengan memperkuat peran perempuan dan laki-laki di ruang publik. Wallahua’lam… [AA]

0

Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.