



Mendengar nama Sapardi Djoko Damono, ingatan kita hampir selalu tertuju pada puisi-puisi yang teduh, lirih, dan dalam. Ia bukan penyair yang gemar berteriak tentang cinta. Sebaliknya, Sapardi memilih berbisik, membiarkan pembacanya menemukan makna di sela-sela kata yang tampak sederhana. Hingga akhir hayatnya pada 19 Juli 2020, Sapardi tetap setia menulis, karenanya adalah tempat untuk menyalurkan sesuatu yang hadir dalam pikiran dan batinya.
Salah satu puisinya yang paling dikenal adalah “Aku Ingin”. Puisi ini begitu akrab di telinga masyarakat karena bahasanya yang ringan, tetapi menyimpan makna yang tidak dangkal. Dengan metafora alam kayu dan api, awan dan hujan Sapardi menghadirkan gambaran cinta yang tidak diucapkan lewat kalimat romantis, melainkan ditunjukkan melalui tindakan. Di sini, cinta tidak berhenti pada kata aku mencintaimu, tetapi bergerak ke makna yang lebih hakiki yaitu memberi.
Lebih jauh, “Aku Ingin” dapat dibaca sebagai art of life seni menjalani kehidupan. Cinta dalam puisi ini bukan cinta transaksional yang sibuk menghitung untung dan rugi, melainkan cinta yang lahir dari ketulusan. Ia serupa cinta seorang ibu kepada anaknya, atau cinta Tuhan kepada hamba-Nya, hadir tanpa syarat, memberi tanpa menuntut balasan.
Hal itu tampak jelas sejak bait pertama. Sapardi seolah ingin mengatakan bahwa dalam cinta sejati, kata-kata bukanlah pusat segalanya. Yang utama justru kesediaan untuk berkorban. Metafora kayu kepada api menggambarkan cinta yang rela kehilangan dirinya demi menghadirkan manfaat bagi yang lain. Kayu yang berubah menjadi abu tidak sedang binasa tanpa arti, ia menciptakan kehangatan dan cahaya. Di situlah cinta bekerja diam-diam, tanpa banyak suara.
Puisi “Aku Ingin”
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
(1989)
Pengulangan larik dalam kata sederhana bukan tanpa makna, justru menjadi pusat tafsir puisi ini. Sederhana bukan berarti dangkal. Ia bukan sekadar selembar kertas bertuliskan aku mencintaimu, bukan pula janji manis tanpa bukti. Sederhana, dalam puisi ini, adalah cinta yang bersedia mengusahakan, menanggung, dan memberi bahkan ketika itu tidak terlihat oleh siapa pun.
Pada titik inilah puisi “Aku Ingin” menemukan resonansinya dengan konsep cinta dalam Islam. Cinta, dalam perspektif Islam, bukan sekadar perasaan atau ungkapan verbal, melainkan kesediaan untuk memikul beban. Teladan paling agung dari cinta semacam ini tampak pada diri Rasulullah Saw.
Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa beliau dengan penuh kerelaan menanggung penderitaan yang berat saat sakaratul maut demi meringankan beban umatnya. Cinta Rasulullah Saw bukan cinta yang dihiasi embel-embel kata manis, melainkan cinta yang ditunjukkan melalui pengorbanan.
Jika Jalaluddin Rumi membaca puisi“Aku Ingin”, barangkali ia tidak akan menyebutnya sebagai puisi tentang mencintai, melainkan tentang belajar melepas diri dalam cinta. Kayu yang menjadi abu dan awan yang berubah menjadi hujan tidak sedang kehilangan apa pun. Justru di situlah mereka menemukan maknanya memberi tanpa menyisakan sesuatu untuk diri sendiri.
Di sinilah puisi Sapardi terasa begitu dekat dengan ajaran tasawuf. Cinta yang tidak banyak bicara, tidak menuntut untuk dipahami, dan tidak sibuk ingin dikenang. Cinta yang tidak bertanya apa yang akan kudapat, melainkan apa yang bisa kuberikan. Bagi cinta yang matang, tujuan akhirnya bukan balasan, tetapi keutuhan merasa cukup karena telah memberi sepenuh hati.
Dalam kerangka tasawuf, nilai-nilai ini dapat dipahami melalui beberapa aspek perjalanan spiritual. Pertama, membersihkan hati dari perkara-perkara yang mengganggu kejernihan batin, yang dilakukan dengan memperbanyak zikir, mengingat Allah, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Sapardi menyampaikan pesan ini secara halus melalui larik-larik puisinya yang liris dan tenang.
Kedua, menjauhi dorongan hawa nafsu dengan tidak menjadikan cinta sebagai sarana pemuasan ego, pengakuan, atau kepentingan duniawi. Ketiga, menghendaki dan menjaga sifat-sifat kesucian hati agar cinta tetap berada dalam koridor ketulusan dan kepasrahan.
Dengan demikian, “Aku Ingin” bukan hanya puisi cinta. Ia adalah refleksi spiritual tentang bagaimana mencintai dengan cara yang paling sederhana namun juga paling rumit , memberi sepenuh hati tanpa kehilangan makna diri.
Dalam perspektif ini, cinta tidak diukur melalui prinsip timbal balik atau keseimbangan untung-rugi, melainkan melalui ketulusan dalam memberi. Cinta yang matang tidak sibuk menuntut kesepadanan, tetapi bertumbuh dalam kesadaran bahwa memberi dengan ikhlas merupakan hakikat dari cinta itu sendiri. [AA]
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya