Khutbah Jumat: Suarakan Kebenaran Meski Dalam Kondisi Sulit

Ilustrasi khutbah Jumat yang mengangkat pentingnya amar makruf nahi munkar, keberanian menolak kezaliman, serta menyuarakan kebenaran di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan maraknya praktik culas.

Di tengah himpitan ekonomi dan beratnya beban hidup, menjalankan amar makruf nahi munkar sering kali terasa berat. Teks Khutbah Jumat terbaru ini mengajak para pembaca untuk menguatkan hati agar tidak pasrah dalam diam, melainkan tetap berani menyuarakan kebenaran dan menolak kezaliman dengan kacamata iman.

Khotbah I

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Hari-hari ini, kita sedang diuji dengan situasi yang tidak mengenakkan. Bapak-bapak yang biasa ke pasar atau ibu-ibu yang belanja di dapur pasti merasakan, uang sepuluh ribu atau seratus ribu rupiah sekarang rasanya cepat sekali habis. Kita semua merasakan nilai uang rupiah kita semakin kurus, barang-barang semakin mahal, padahal kita di desa ini tidak pernah ikut-ikutan pakai uang dolar.

Di sisi lain, kadang kita mendengar kabar-kabar keberhasilan yang rasanya terlalu “muluk” dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang kita jalani sehari-hari di desa, klaim bombastis tentang berdirinya puluhan ribu koperasi desa dalam setahun.

Mengapa khatib mengawali khotbah ini dengan deretan fenomena tersebut?

Jawabannya adalah untuk mengajak kita melihat semuanya dengan kacamata iman. Ketika kita melihat kondisi yang ‘tidak enak’, di situlah hati kita digerakkan untuk kembali mengingat Sang Maha Sutradara, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setidaknya, akal sehat dan kesucian hati kita tetap menolak apa yang salah, meskipun saat ini kita baru mampu mengingkarinya di dalam hati.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebagai warga yang baik, kita harus tetap mendukung program-program pemerintah. Kita harus tetap mendukung serta mendoakan yang terbaik.

Namun, andai kita temukan hal-hal yang tidak baik atau tidak benar, tentu kita boleh lantang suarakan hal tersebut. Bukan untuk apa-apa, memang terkadang bahasa cinta itu bukan hanya tentang pujian tapi juga menolak kezaliman atau realitas yang jauh dari kata benar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita sebagai umat muslim, berkewajiban amar makruf nahi munkar; termasuk menyampaikan kebenaran realitas yang ada dan menolak praktik-praktik culas sampai kemaksiatan yang terjadi.

Nabi Muhammad saw. bersabda,

مُرُّوا بِالْمَعْرُوفِ وَاِنْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَانْهَوْا عَنِ الـمُنْكَرِ وَاِنْ لَمْ تَنْتَهُوا عَنهُ

“Perintahlah kemakrufan-kebaikan, meski kalian belum bisa melakukannya, cegahlah keburukan meski kalian belum bisa berhenti darinya!” (HR. Abu Hurairah)

Hadirin rahimakumullah,

Manusia itu memang tempatnya salah dan tidak ada manusia yang betul-betul sempurna dan ideal kecuali Nabi Agung Muhammad saw. Namun, sebagai muslim kita tetap diperintahkan agar tetap menjadi menyeru pada kebaikan serta mencegah keburukan, ya meski kita memang tidak sempurna betul.

Andai hari ini kita menjabat sebagai lurah, kepala desa, anggota BPD, camat, DPR, Bupati, Gubernur, atau apapun di sebuah instansi atau lembaga apapun, wajib bagi kita untuk tidak berkompromi pada kemungkaran.

Andai kita menjadi seorang pimpinan, kita wajib untuk mencegah kemungkaran di lingkaran tanggung jawab kita. Andai kita hanya anggota yang tidak punya kuasa, setidaknya hati kita harus ingkar, sukur-sukur bisa mengingatkan dengan lisan!

مَنْ رَأَى مِنكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ، فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلبِهِ، وَذَالِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat (segala macam) kemungkaran seyogianya ia bisa mencegah dengan tangannya (kekuasaannya), andai belum sanggup maka harus dengan lisannya, andai masih belum sanggup maka ia harus ingkar dengan hatinya, demikian itu lah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kita perlu belajar dari Nabi Yusa’ bin Nun, salah satu nabi yang diutus Allah di Bani Israel setelah Nabi Musa dan Nabi Harun as. Dahulu, kaumnya Nabi Yusa’ didominasi orang-orang yang gemar lakukan kemungkaran dari pada orang-orang pilihan, secara persentase 40% orang-orang pilihan berjumlah 40.000 orang, sedangkan 60% pecinta kemungkaran berjumlah 60.000 orang.

Allah pun menghukum mereka sebab kemungkaran-kemungkaran yang terjadi, Nabi Yusa’ pun protes merasa kasihan kepada orang-orang sholeh pilihan,

يَارَبُّ، هَؤُلَاءِ الأَشْرَارُ، فَمَا بَالُ الأَخْيَارِ

“Ya Allah, kan mereka (orang fasik) yang salah, apa urusannya dengan orang-orang pilihan juga terkena hukuman!”

Jawaban Allah sederhana, orang-orang sholeh pilihan itu tidak berusaha mencegah kemunkaran dan mengajak kebaikan. Kata Allah,

إِنَّهُمْ لَمْ يَغْضَبُوا بِغَضَبِي، وَآكَلُواهُم وشَارَبُواهُمْ

“Ya, karena mereka tidak marah karena-Ku atas perbuatan tercela mereka, sedangkan mereka makan dan minum bersama dengan orang-orang fasik itu.”

Artinya, sebagai muslim sejati, kita sepatutnya lantang melawan kezaliman, kemaksiatan, atau praktek culas yang terjadi di sekitar kita. Meskipun dengan menanggung konsekwensi dibenci atau dianggap “sok”.

Abu Lais As-Samarqand dalam kitab Tanbiqul Ghafilin menyampaikan bahwa salah satu sifat kemunafikan adalah gemar mendorong orang lain bermaksiat dan mencegah kebaikan. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat tersebut. Semoga khutbah singkat ini bermanfaat bagi khatib dan hadirin semuanya, semoga Allah menguatkan kita untuk terus suarakan kebenaran dan melawan kezaliman! Amin ya rabbal alamin.

هَدَانِي اللهُ وَاِيَّاكُمْ, أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.

فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ  الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ  يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

0

Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.