



Khutbah I
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، لَاإِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى،وَ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا الـمُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣
Jemaah salat Iduladha yang dirahmati Allah SWT.,
Sebagai muslim yang terus berusaha untuk berbuat baik dan mengevaluasi diri, kiranya Iduladha menjadi momen perenungan tentang mengapa ibadah kurban disyariatkan kepada umat Islam. Salah satu pelajaran terbesar dari ibadah kurban adalah tentang kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian.
Mari kita tengok kembali sejarah bagaimana dahulu Nabi Ibrahim harus melepaskan “rasa memiliki” dengan mengorbankan Ismail, putra yang telah ia dambakan sejak lama. Keberhasilan beliau dalam melewati ujian besar inilah yang menjadi benang merah bagi kehidupan para kekasih Allah; di mana mulai dari Nabi Ibrahim as. hingga Kanjeng Nabi Muhammad saw, ujian keteguhan hati dan kesabaran selalu menjadi jalan yang harus mereka lalui.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Terkadang di momen-momen sulit kehidupan, kita begitu mudah mengeluh dan berputus asa. Padahal, jika kita timbang kembali, kesulitan, kesusahan, atau musibah yang kita alami saat ini sama sekali tidak sebanding dengan beratnya ujian yang menimpa para nabi terdahulu.
Suatu ketika Rasulullah saw. pernah mengalami ujian kesedihan yang teramat luar biasa terutama ketika Allah memanggil putra-putranya. Misalnya, ketika putra beliau,Sayyid Qasim, wafat di usia belia. Di tengah suasana berkabung itu, kaum kafir Quraisy justru mengejek dengan mengatakan bahwa keturunan Kanjeng Nabi telah terputus.
Dalam kondisi demikian, Allah kemudian menurunkan surah Al-Kaustar yang terdiri dari tiga ayat sebagai penawar duka yang dihadapi oleh Kanjeng Nabi dan para sahabat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Khatib mengajak hadirin untuk merenungi kembali surah Al-Kautsar tersebut, dalam konteks ini. sahabat Anas bin Malik menceritakan, kala itu Nabi Muhammad saw. tidur nyenyak di area masjid. tiba-tiba beliau bangun dan tersenyum. Para sahabat yang di situ pun bingung sembari bertanya:
“Gerangan apa yang membuat engkau tersenyum wahai Nabi?”
“Sungguh, aku baru saja menerima aku menerima wahyu berupa sebuah surah (Al-Kautsar),” jawab Nabi sembari membacakan surah Al-Kautsar.
Jemaah salat Iduladha rahimakumullah,
إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu telaga kautsar” (QS. Al Kautsar [108]: 1)
Lantas, apa itu telaga Kautsar? Kanjeng Nabi sendiri menjelaskan bahwasannyatelaga Al-Kautsar merupakan sebuah telaga pemberian Allah SWT. kelak di surga. Di dalamnya terdapat banyak kenikmatan Di tepi telaga itu, tersedia banyak bejana berkilauan yang indahnya laksana hamparan bintang di langit, di mana setiap umat beliau akan mengambil hak minumnya masing-masing.
Nikmat besar inilah yang kemudian menjadi penghibur bagi Rasulullah saw. di tengah ujian dan hinaan kaum Quraisy.
Hadirin rahimakumullah,
Setiap nikmat yang Allah berikan sejatinya menuntut rasa syukur dari hamba-Nya. Karena itulah setelah Allah mengabarkan karunia telaga Al-Kautsar, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk mendirikan salat dan berkurban.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar [108]: 2).
Dalam Tafsir Al-Munir, Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa berkurban harus dilandasi keikhlasan semata karena Allah. Ibadah kurban tidak boleh dikotori oleh keinginan untuk dipuji, keinginan mendapatkan perhatian orang lain, ataupun urusan gengsi sosial semata.
Semangat keikhlasan total ini persis seperti yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Surah Al-An’am ayat 162, yang seringkali kita ikrarkan di dalam doa iftitah kita:
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadah (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al An’am [6]: 162).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada akhir surah Al-Kautsar, Allah menegaskan agar tidak mudah terbawa cemoohan orang-orang di sekitar kita. Seperti upaya kaum musyrik hentikan langkah dakwah Muhammad saw.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautar [108]: 3)
Melalui ayat ini, Allah menegaskan bahwa yang terputus bukan lah mereka yang tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus, melainkan mereka yang tidak beriman kepada Allah.
Hadirin rahimakumullah,
Jika ditarik ke dalam konteks modern saat ini di mana kita sering terjebak dalam pusaran gengsi sosial dan pencarian validasi di media sosial, pesan Surah Al-Kautsar ini menjadi pedoman moral kita agar memanfaatkan momentum Iduladha untuk “menyembelih” ego keduniawian, meredam nafsu pamer (riya), dan memotong ketergantungan pada pujian makhluk.
Ibadah kurban bukan tentang seberapa mahal hewan yang kita kurbankan, melainkan tentang ketulusan untuk menyerahkan segalanya demi rida Allah SWT. Oleh sebab itu, kita tidak perlu gentar ataupun berkecil hati saat menghadapi cemoohan dan pandangan remeh dari lingkungan sekitar dalam beristiqamah.
Ingatlah bahwa orang-orang yang mengejar dunia dengan merendahkan ketulusan iman dialah yang sebenarnya al-abtar (terputus dari rahmat dan kedamaian sejati), sedangkan bagi hamba yang istiqamah menjaga salat serta berkurban dengan ikhlas semata-mata karena-Nya, Allah telah menyediakan telaga Al-Kautsar sebagai sumber kenikmatan abadi yang tidak akan pernah habis.
Semoga khutbah singkat ini membawa kemanfaatan bagi kita semuanya. Semoga Allah menolong kita agar selalu ikhlas dalam beribadah, dibebaskan dari riya’, dan bersedih sebab cemoohan orang.
أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah II
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، أَللهُ أَكْبَرُ. أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَاإِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.
فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.